Kartu di Tempat Sampah
Rahma meluruskan kartu itu di atas meja dapur. Ada noda ampas kopi di pojoknya, tapi tulisan wali kelas masih jelas: "Story Day — Nayla Khairunnisa, kelas 3."
Nayla keluar dari kamar, rambut kusut, memeluk guling.
Nayla: Pagi, Bu. Mbah Uti masak apa?
Rahma: Nasi goreng. Kak, sini sebentar.
Nayla: Apa, Bu?
Rahma: Ini kartu kamu, kan? Kok ada di tempat sampah?
Nayla melihat kartu itu sebentar, lalu melihat lantai.
Nayla: Oh. Itu. Udah nggak dipakai.
Rahma: Nggak dipakai gimana? Story Day kan lima minggu lagi.
Nayla: Aku nggak mau ikut Story Day lagi.
Rahma: Lho. Kemarin sore kamu latihan sama Kinar.
Nayla: Itu kemarin.
Rahma: Kenapa, Kak? Ada yang nakal di sekolah?
Nayla: Nggak.
Rahma: Kamu takut?
Nayla: Nggak juga. Nggak papa kok, Bu. Beneran.
Rahma: Kak, "nggak papa" itu bukan alasan.
Nayla: I just don't want to.
Rahma: Pakai Indonesia, Kak. Kita lagi di dapur.
Nayla: Ya itu. Aku cuma nggak mau.
Mbah Uti meletakkan piring di meja dengan bunyi yang sedikit lebih keras dari biasanya.
Mbah Uti: Wis, sarapan dulu. Ngobrol berat kok sebelum makan.
Rahma: Buk, ini penting.
Mbah Uti: Perut kosong itu juga penting, Rahma.
Nayla makan cepat, tidak bicara, lalu kembali ke kamar. Rahma memegang kartu itu lama.
Rahma: Buk, Nayla kenapa, ya?
Mbah Uti: Kamu tanya Mbah? Kamu ibunya.
Rahma: Ya makanya aku bingung.
Mbah Uti: Anak itu kalau bilang "nggak papa" dua kali, biasanya ada apa-apanya.
Fadil pulang dari pasar membawa kantong plastik berisi pisang dan gorengan. Rahma menunjukkan kartu itu.
Fadil: Lho, dibuang? Kenapa?
Rahma: Dia nggak mau ikut. Nggak mau bilang kenapa.
Fadil: Tenang, Dik. Serahkan ke Ayah. Ini urusan negosiasi.
Rahma: Mas, ini bukan truk telat.
Fadil: Sama aja. Ada masalah, ada solusi.
Fadil mengetuk pintu kamar Nayla. Nayla sedang menggambar di lantai.
Fadil: Assalamu'alaikum, Bos Kecil. Boleh masuk?
Nayla: Wa'alaikumsalam. Boleh.
Fadil: Kak, Ayah dengar ada yang mau mundur dari Story Day.
Nayla: Ibu cerita, ya?
Fadil: Ayah punya penawaran. Kalau Kakak ikut, Ayah belikan es krim yang besar. Yang cokelat.
Nayla: I don't want ice cream.
Fadil: Dua es krim.
Nayla: Ayah, aku bukan anak TK.
Fadil: Oke, oke. Sepeda baru?
Nayla: Sepedaku masih bagus.
Fadil: Hmm. Kak, dengerin Ayah. Anak Ayah itu juara. Kalau mundur, nanti teman-temanmu bilang apa?
Nayla: Nothing. Nobody cares.
Fadil: Apa itu artinya?
Nayla: Nggak ada yang peduli, Ayah.
Fadil diam sebentar, lalu mencoba senjata terakhirnya.
Fadil: Nayla, you are… very good. Story Day… you go. Okay?
Nayla: Ayah, English-nya aneh.
Fadil: Aneh tapi niatnya baik.
Nayla: Thanks, Ayah. But no.
Fadil keluar dari kamar dengan wajah orang yang kalah tender.
Rahma: Gimana?
Fadil: Gagal total, Dik. Es krim ditolak. Sepeda ditolak. Ayah juga ditolak.
Rahma: Kamu tawarin es krim?
Fadil: Dulu aku diiming-imingi es krim langsung mau.
Rahma: Kamu kan bukan Nayla, Mas.
Fadil: Dia bilang nggak ada yang peduli. Pakai English. Aku sampai tanya artinya.
Rahma terdiam. Kalimat itu masuk pelan, lalu tinggal.
Mbah Uti: Fadil, anak kok ditawari es krim. Kayak beli suara.
Fadil: Lha terus gimana, Buk?
Mbah Uti: Ditanya. Didengar. Bukan ditawar.
Fadil: Udah ditanya, Buk. Jawabnya "nggak papa".
Mbah Uti: Ya ditanya lagi besok. Anak itu kayak sumur. Ditimba pelan-pelan.
Sebelum Zuhur, ponsel Mbah Uti berdering lagi. Kinar, video call. Nayla menerimanya di ruang tengah. Rahma mendengar dari dapur.
Kinar: Nayla! Let's practise together after lunch!
Nayla: I'm not doing Story Day.
Kinar: What? Why not?
Nayla: Just because.
Kinar: But I want to hear the boat story! You promised the whoosh!
Nayla: You can do the whoosh.
Kinar: It's your whoosh, not mine.
Nayla: Sorry, Kinar. I have to go.
Kinar: Wait! Nayla—
Nayla menutup video call itu dan meletakkan ponsel di meja.
Mbah Uti: Lho, temanmu belum selesai ngomong, Nduk.
Nayla: Udah selesai, Mbah.
Siang itu Arka tidur lebih lama dari biasanya. Mbah Uti menyuruh Rahma istirahat, tapi Rahma malah mengambil buku 'The Little Yellow Boat' dari meja kamar Nayla. Selimut biru masih di jemuran; Fadil benar-benar mencucinya pagi tadi.
Rahma: Kak. Pojok baca. Sekarang. Mumpung adik tidur.
Nayla: Now?
Rahma: Now. Come on.
Mereka duduk di kasur lantai tanpa selimut. Rahma menyalakan lampu kuning walaupun siang hari.
Nayla: Why is the lamp on? It's daytime.
Rahma: Because it's our corner. The lamp is always on here.
Nayla: That's silly, Mum.
Rahma: I know. Silly is allowed here.
Nayla tersenyum sedikit. Pertama kali sejak pagi.
Rahma: Who's reading? You or me?
Nayla: You. You do the voices.
Nayla: But I hold the book.
Rahma: Deal. You turn the pages.
Rahma: "The little yellow boat lived by a big river. Every day, the big boats went out, and the little boat waited."
Nayla: He always waits.
Rahma: Why do you think he waits?
Nayla: Because he's small. Nobody takes him.
Rahma: Hmm. Tell me more.
Nayla: That's all. He's small.
Rahma: Small boats can go to small places. Big boats can't.
Nayla: Like where?
Rahma: Like under the bridge. Or near the reeds, where the ducks are.
Nayla: Ducks don't care about boats, Mum.
Rahma: Maybe this duck does.
Rahma: "One day, the wind came."
Nayla: Whoosh!
Rahma: Yes! Louder!
Nayla: WHOOSH!
Mereka berdua tertawa. Lalu dari kamar terdengar tangis Arka, tipis dulu, lalu makin keras.
Rahma: Aduh. Sebentar, Kak. Sebentar aja.
Nayla: It's okay. Go.
Rahma: Wait here. I'll be right back.
Nayla: You won't.
Rahma: Kak…
Nayla: Nggak papa kok, Bu. Adik nangis. Ibu ke sana aja.
Rahma menggendong Arka, menyusui, mengganti popok, lalu menenangkan lagi karena Arka masih merengek. Empat puluh menit kemudian ia kembali ke ruang tengah. Lampu kuning sudah mati. Buku perahu kuning tertutup rapi di rak.
Rahma: Kak? Kakak di mana?
Mbah Uti: Di teras, sama ayahnya. Lagi nyiram tanaman.
Rahma keluar ke teras. Nayla sedang memegang selang, Fadil memegang ember.
Rahma: Sorry, Kak. That took forever.
Nayla: Nggak papa, Bu.
Rahma: Mau lanjut? Kita belum sampai pelabuhan.
Nayla: Nanti aja. Aku lagi bantu Ayah.
Fadil: Iya, Dik. Kakak lagi jadi asisten. Siram yang pot kiri, Kak.
Nayla: That one's already wet, Ayah.
Fadil: Oh. Basah. Iya, Ayah ngerti "wet". Basah.
Nayla: And this one is dry.
Fadil: Dry. Kering. Ayah tahu itu. Dry… cleaning.
Nayla: Ayah! Itu laundry.
Fadil: Ya sama-sama kering, Kak.
Nayla: Okay, Ayah. Say "water the plants".
Fadil: Water… the plant.
Nayla: Plants. With an "s". There are many.
Fadil: Plants-s-s.
Nayla: Kebanyakan, Ayah. Satu aja.
Fadil: Susah juga jadi murid kamu, Kak.
Rahma kembali ke dalam. Ia memegang buku perahu kuning, membuka halaman terakhir, dan melihat gambar pelabuhan kecil dengan lampu-lampu kuning. Mereka hampir sampai.
Malam itu Nayla tidur lebih cepat. Tidak ada pertanyaan di dekat kursi goyang.
Fadil: Dik, tadi siang gimana? Jadi baca?
Rahma: Jadi. Dua halaman. Terus Arka nangis.
Fadil: Terus?
Rahma: Aku bilang "sebentar". Empat puluh menit, Mas. Itu bukan sebentar.
Fadil: Arka kan memang nggak bisa ditinggal.
Rahma: Aku tahu. Tapi waktu aku balik, lampunya udah mati. Bukunya udah dirapikan. Kayak dia udah tahu aku nggak bakal balik.
Fadil: Besok aku pulang lebih awal, ya. Biar aku yang pegang Arka.
Rahma: Kamu shift pagi, Mas. Pulangnya juga sore.
Fadil: Ya nanti aku usahakan.
Rahma: Jangan "nanti" lagi. Kita berdua kebanyakan "nanti" sama "sebentar".
Fadil tidak menjawab. Dari kamar depan terdengar Mbah Uti batuk kecil, lalu suara radio pengajian yang dikecilkan.
Senin pagi, Rahma menyisir rambut Nayla sebelum sekolah. Fadil sudah berangkat ke Waru sejak jam enam.
Rahma: Kak, hari ini ada latihan Story Day?
Nayla: Ada. Sepulang sekolah.
Rahma: Kamu ikut latihan?
Nayla: Aku mau bilang ke Ms. Ophelia. Aku mundur.
Rahma: Kak, pikir lagi, ya. Ibu nggak maksa. Tapi Ibu tahu kamu suka cerita.
Nayla: I liked it. Dulu.
Rahma: Liked? Dulu?
Nayla: Can you do my hair tighter? It always falls.
Rahma: Sure. Hold still.
Nayla: Ow! Too tight.
Rahma: Sorry. Better?
Nayla: Better. Kinar nanti mamanya nonton Story Day. Mamanya udah beli baju.
Rahma: Wow. A new dress for Story Day?
Nayla: For her mum. Not for Kinar.
Rahma: Mamanya yang beli baju baru?
Nayla: Iya. Lucu, ya.
Rahma mengencangkan ikat rambut itu. Ia tahu Nayla baru saja mengganti topik, dan ia membiarkannya, karena Arka mulai menangis lagi di kamar.
Jam dua siang, mobil antar-jemput berhenti di depan pagar. Nayla masuk tanpa salam, lalu kembali ke pintu.
Nayla: Assalamu'alaikum. Lupa.
Rahma: Wa'alaikumsalam. Gimana latihannya?
Nayla: I didn't go. I told her.
Rahma: You told Ms. Ophelia? Beneran?
Nayla: Yes. Before class.
Rahma: What did she say?
Nayla: She said, "Are you sure?" I said yes.
Rahma: And then?
Nayla: She looked sad. Just a little. Terus dia bilang "okay, love".
Rahma: Kakak sedih juga?
Nayla: Nggak. Aku lapar.
Rahma: Kak, kalau suatu hari kamu mau cerita kenapa, Ibu dengerin. Kapan aja.
Nayla: Even when Arka cries?
Rahma membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Rahma: Ibu usahakan.
Nayla: See? Nggak papa kok, Bu.
Mbah Uti: Nah, itu jawaban yang jujur. Ayo makan, Nduk. Ada sayur asem.
Nayla: Pakai tempe, Mbah?
Mbah Uti: Tempe, ikan asin, sambal. Lengkap.
Nayla: Mbah Uti jangan pulang ke Lamongan, ya.
Mbah Uti: Lho, kok gitu?
Nayla: Di sini enak kalau ada Mbah.
Setelah Nayla makan, Rahma duduk di sebelah Mbah Uti yang sedang memilih cabai.
Rahma: Buk, kemarin aku janji baca buku. Tadi Nayla bilang "see?" ke aku. Kayak dia udah menang taruhan.
Mbah Uti: Menang taruhan apa?
Rahma: Taruhan bahwa Ibunya nggak bakal punya waktu.
Mbah Uti: Terus kamu mau apa?
Rahma: Nggak tahu, Buk. Aku tutor. Kerjaku tiap hari nanya ke orang. Tapi ke anakku sendiri aku nggak tahu nanya apa.
Mbah Uti: Kalau mau, Arka bisa sama Mbah sebentar. Kamu sama Nayla.
Rahma: Arka kan masih nyusu, Buk.
Mbah Uti: Sepuluh menit, Rahma. Bayi nggak bakal kurus dalam sepuluh menit.
Sore harinya, saat Rahma melipat popok, ponselnya berbunyi. Nomor tidak dikenal, dengan foto profil seorang perempuan berambut perak di depan rak buku.
Voice note, empat puluh detik. Rahma memutarnya pelan, dekat telinga, supaya Arka tidak terbangun.
Ms. Ophelia: Hello, Nayla's mum. Nayla told me she's dropping out of Story Day. Is everything all right?
Quick Meaning
- I just don't want to. — Aku cuma nggak mau.
- Nobody cares. — Nggak ada yang peduli.
- I'll be right back. — Aku segera kembali.
- Tell me more. — Ceritakan lagi.
- dropping out — mundur / berhenti ikut
Natural Phrase
- Hold still. — "Diam dulu, jangan gerak." Dipakai saat menyisir, memakaikan baju.
- That took forever. — "Lama banget tadi." Mengakui kita terlambat.
- Is everything all right? — cara sopan menanyakan apakah ada masalah.
Pakai Besok
Saat anak tiba-tiba menolak sesuatu yang dulu ia suka:
- Can you tell me why? — Boleh cerita kenapa?
- I'm not angry. I just want to understand. — Aku nggak marah, cuma mau ngerti.
- Tell me more. — Ceritakan lagi.
- Wait here. I'll be right back. — Tunggu di sini, aku segera kembali.
- Sorry, that took forever. — Maaf, tadi lama banget.
One Line to Remember
Tell me more.
Comprehension Check
- Apa yang Fadil tawarkan supaya Nayla mau ikut Story Day?
- Kenapa lampu kuning dinyalakan siang hari?
- Apa kata Nayla waktu Rahma bilang "I'll be right back"?
- Siapa yang mengirim voice note ke Rahma, dan apa isinya?
Prediction Prompt
Menurutmu apa yang akan Rahma jawab kepada Ms. Ophelia?
Next Chapter Hook
Rahma menatap tombol mikrofon lama sekali. Ia tutor English. Tapi kali ini ia tidak tahu harus menjawab apa.