Semua Melihat Bayi
Sabtu pagi di Sukodono. Arka baru tiga minggu, dan rumah kecil itu belum pernah sepi sejak ia lahir.
Mbah Uti: Rahma, termosnya diisi lagi. Bude Darmi wis WhatsApp, katanya jam sembilan sampai.
Rahma: Iya, Buk. Sebentar. Arka baru mau tidur.
Mbah Uti: Bayi itu ngerti kalau ibunya buru-buru. Tenang wae.
Rahma: Tenang gimana, Buk. Dapur masih kayak kapal pecah.
Fadil masuk dari teras, sarung masih terlipat di bahu. Ia baru pulang dari Subuh di masjid kompleks.
Fadil: Dik, kursi plastik tinggal enam. Tamunya berapa?
Rahma: Nggak tahu, Mas. Bude Darmi kalau datang biasanya bawa rombongan.
Fadil: Berarti pinjam ke Pak RT.
Nayla keluar dari kamar dengan buku gambar di pelukan. Rambutnya belum disisir.
Nayla: Ibu, lihat. Aku gambar perahu.
Rahma: Sebentar, Kak. Ibu lagi nidurin adik.
Nayla: Just one look?
Rahma: One look. Wah, kuning. Bagus. Nanti Ibu lihat yang bener, ya.
Nayla: Okay. Nanti itu kapan?
Rahma: Nanti, kalau adik udah tidur.
Nayla: Adik kan tidurnya sebentar-sebentar.
Rahma: Kakak pinter ngitung, ya.
Nayla: Ibu, ini juga. Kertas dari sekolah. Harus ditandatangani.
Rahma: Kertas apa?
Nayla: It's for Story Day. You have to sign here.
Rahma membaca sambil mengayun Arka. Surat dari Ms. Ophelia, pendek, semua English.
Rahma: "Please practise with your child at home, ten minutes a day." Oh. Sepuluh menit sehari.
Nayla: Like our story time.
Rahma: Yes, like our story time. Where's the pen?
Nayla: Here. Ibu tanda tangan yang bagus, ya. Jangan yang cepet-cepet.
Rahma: Tanda tangan Ibu ya cuma satu itu, Kak.
Mbah Uti: Wis, ditandatangani dulu. Bude Darmi keburu datang.
Di sudut ruang tengah, dekat jendela, pojok baca masih seperti dulu: kasur lantai, selimut biru, rak rendah, lampu kuning. Hanya saja selimutnya berdebu.
Fadil: Kak, bantu Ayah ambil kursi, yuk.
Nayla: Ayah, kursinya berat.
Fadil: Makanya berdua. Siap, Bos Kecil?
Nayla: Siap. Tapi Ayah yang angkat, aku yang hitung.
Fadil: Itu namanya mandor, Kak.
Nayla: One, two, three… Ayah, kurang dua.
Fadil: Kok kamu ngitung pakai English?
Nayla: Biar cepet, Ayah.
Jam sembilan lewat, suara Bude Darmi sudah terdengar dari ujung gang.
Bude Darmi: Assalamu'alaikum! Mana ponakanku? Mana si ganteng?
Fadil: Wa'alaikumsalam. Masuk, Mbak.
Bude Darmi: Masya Allah! Lho, iki mirip Fadil temenan! Hidungnya, Rek! Persis Ayahnya!
Mbah Uti: Kalau bibirnya mirip Rahma, Mbak.
Bude Darmi: Ah, Bu, ini Fadil kecil. Pokoknya Fadil.
Dua tetangga ikut menengok. Semua langsung mengelilingi Arka.
Nayla: Bude, aku gambar perahu.
Bude Darmi: Iya, Nduk, iya. Eh, Rahma, ASI-nya lancar? Kok bayinya gendut gini?
Nayla: Bude, perahunya kuning.
Bude Darmi: Pinter. Mbak Nayla sekarang udah jadi kakak, ya. Harus bantu Ibu.
Nayla: I know.
Bude Darmi: Hah? Ngomong apa, Nduk?
Nayla: Iya, Bude. Aku tahu.
Ia menutup buku gambarnya pelan-pelan. Rahma melihat itu dari sudut mata, tapi Arka mulai rewel dan termos sudah kosong lagi.
Rahma: Kak, tolong ambilkan tisu di kamar, ya.
Nayla: Okay, Mum.
Bude Darmi: Mum? Kok Mum? Bukannya Ibu?
Rahma: Kebiasaan, Mbak. Kalau di pojok baca, Nayla manggil saya Mum. Kami pakai English di situ. Sejak dia umur lima.
Bude Darmi: Wah, keren. Tapi ini kan bukan pojok baca, Nduk.
Nayla: I forgot. Lupa, Bude.
Bude Darmi: Pojok baca yang mana to?
Rahma: Itu, Mbak. Yang ada kasur kecil.
Bude Darmi: Oh, itu. Kirain tempat jemur popok.
Nayla: Bukan, Bude. Itu tempat cerita.
Sebelum pulang, Bude Darmi mengeluarkan ponselnya.
Bude Darmi: Foto dulu! Fadil, gendong Arka. Rahma, sebelahnya. Bu, sini. Nduk, tolong fotoin, ya.
Nayla: Aku yang motret?
Bude Darmi: Iya, tanganmu kan kecil, nggak goyang.
Nayla: Okay. Everybody, look here. Say cheese!
Fadil: Cheese!
Nayla: One more. Ayah, eyes open!
Bude Darmi: Wis, bagus. Pinter motret, Nduk.
Nayla mengembalikan ponsel itu. Di foto keluarga itu, tidak ada Nayla.
Tamu datang dan pergi sampai sore: teman kantor Fadil, ibu-ibu pengajian, sepupu dari Gedangan. Semua bertanya berat badan dan mirip siapa. Tidak ada yang bertanya tentang perahu kuning.
Bu Narti: Masya Allah, tabarakallah. Sehat-sehat ya, Le. Mbak Rahma, jahitan sudah kering?
Rahma: Alhamdulillah, Bu, sudah.
Bu Narti: Mbak Nayla sekarang tidur sendiri, ya?
Nayla: Dari dulu aku tidur sendiri, Bu.
Bu Narti: Wah, mandiri. Memang kakak harus mandiri.
Setelah Asar, Nayla duduk di lantai sambil membaca kartu kecil bertulisan tangan wali kelas.
Nayla: Once upon a time, there was a little yellow boat.
Fadil: Kak, lagi apa?
Nayla: Latihan, Ayah. Story Day.
Fadil: Story Day itu yang apa?
Nayla: Ayah lupa lagi. Lomba cerita pakai English. Lima minggu lagi. Aku udah daftar.
Fadil: Oh, iya. Yang di aula. Ayah ingat.
Nayla: Do you want to hear it?
Fadil: Mau. Tapi pelan-pelan. English Ayah kan… My name is Fadil. I am fine, thank you.
Nayla: Ayah, itu bukan cerita. Itu kenalan.
Fadil: Ayah cuma hafal itu dari SMP.
Nayla: Just listen, Ayah. The little yellow boat was very small. It lived by a big river.
Fadil: Very good, very good.
Nayla: I'm not finished! One day, the wind came. Whoosh!
Fadil: Kok niup-niup?
Nayla: Itu suara angin. Kata Ms. Ophelia harus ada suaranya.
Fadil: Oh. Whoosh. Ayah juga bisa. WHOOSH!
Mbah Uti: Fadil! Adiknya baru merem!
Fadil: Ngapunten, Buk.
Nayla: No, Ayah. Not like that. Softer.
Ponsel Fadil berbunyi. Ia melirik layar.
Fadil: Waduh, gudang. Kak, sebentar, ya. Nanti Ayah dengerin.
Nayla: Later?
Fadil: Nanti, Kak. Janji.
Fadil keluar ke teras, bicara soal truk yang telat. Nayla meminjam ponsel Mbah Uti dan menelepon Kinar, teman sebangkunya.
Kinar: Nayla! Did you practise?
Nayla: A little. Ayah got a phone call.
Kinar: My mum listened to mine. Two times!
Nayla: Lucky you.
Kinar: Do the wind part. Ms. Ophelia likes the wind part.
Nayla: Whoosh! The little boat went far away. It was lost.
Kinar: Slower! She always says slower.
Nayla: I know, I know.
Kinar: Are you scared of Story Day?
Nayla: No. Maybe. I don't know.
Kinar: Me too. My hands get cold.
Nayla: Mine too. And my voice goes small.
Nayla: Your story is better.
Kinar: No way! Yours has a boat!
Kinar: Is that your baby crying?
Nayla: Yes. He cries a lot.
Kinar: Can I see him?
Nayla: Maybe later. Bye, Kinar.
Kinar: Bye! See you Monday!
Mbah Uti: Nduk, ngomong apa to sama temanmu? Kayak orang bule.
Nayla: Latihan, Mbah.
Mbah Uti: Latihan kok mukanya cemberut.
Nayla: Nggak cemberut, Mbah. Ini muka biasa.
Mbah Uti: Story Day itu nanti Mbah boleh nonton?
Nayla: Boleh. Tapi semuanya pakai English, Mbah.
Mbah Uti: Lha Mbah nggak ngerti. Mbah ngertinya cuma "thank you".
Nayla: You can just clap, Mbah.
Mbah Uti: Klep?
Nayla: Tepuk tangan. Kalau aku selesai, Mbah tepuk tangan. Like this.
Mbah Uti: Oh, kalau itu Mbah pinter. Dulu santri TPQ Mbah tiap khatam juga ditepuki.
Nayla: Really? Tiap khatam?
Mbah Uti: Tiap khatam. Rame. Ada tumpeng juga.
Nayla: Story Day nggak ada tumpeng, Mbah.
Mbah Uti: Ya nanti Mbah bawa sendiri.
Malamnya, setelah Isya, rumah akhirnya tenang. Mbah Uti sudah tidur. Fadil membereskan kursi pinjaman. Rahma duduk di kursi goyang, menyusui Arka dengan lampu redup.
Nayla datang membawa buku 'The Little Yellow Boat'. Sampulnya lecek di ujung karena sudah dibaca puluhan kali.
Nayla: Mum.
Rahma: Hmm? Kok Mum? Kita kan nggak di pojok baca, Kak.
Nayla: I want to go there. Mum, do you still have time for our story?
Rahma memandang buku itu. Sepuluh menit tiap malam, selimut biru, satu lampu. Tapi Arka baru saja tidur di dadanya.
Rahma: I'm sorry, sweetheart. Adik baru tidur. Besok ya, Kak.
Nayla: Just ten minutes?
Rahma: Ibu tahu. Ten minutes. Just us. Tapi bukan malam ini, Sayang. Ibu capek banget.
Nayla: I can read it. You just listen.
Rahma: Not tonight, sweetheart. Besok, ya.
Nayla: You said tomorrow yesterday.
Rahma: Iya, Ibu tahu. Kemarin juga ada tamu. Besok beneran.
Nayla: Promise?
Rahma: Promise. Sebentar lagi semuanya normal, Kak.
Nayla: Normal itu kapan, Bu?
Rahma tidak langsung menjawab. Arka bergerak di dadanya.
Nayla: It's okay. Nggak papa kok.
Rahma: Beneran?
Nayla: Beneran. Good night, Mum.
Rahma: Good night, sweetheart. Doa dulu, ya.
Nayla: Iya. Bismillah.
Nayla tidak menyalakan lampu kuning di pojok baca. Buku perahu kuning ia bawa ke kamar, bukan ke rak.
Fadil lewat di depan kamar Nayla. Pintunya terbuka sedikit. Nayla duduk di kasur, membaca untuk bukunya sendiri, berbisik.
Nayla: The little yellow boat was lost. Nobody looked for it. Eh, salah. Nobody saw it.
Fadil berhenti, lalu masuk ke ruang tengah dan duduk di lantai dekat kursi goyang.
Fadil: Nayla tadi minta dibacain?
Rahma: Iya. Aku bilang besok.
Fadil: Tadi sore dia juga mau latihan sama aku. Terus gudang telepon.
Rahma: Terus?
Fadil: Terus aku lupa.
Rahma: Mas…
Fadil: Iya, aku tahu. Besok aku dengerin.
Rahma: Dia bilang nggak papa. Nayla itu anaknya kuat, Mas.
Fadil: Iya. Kakak yang hebat.
Rahma: Tadi Bude Darmi nggak lihat gambarnya sama sekali.
Fadil: Mbak Darmi memang gitu. Kalau ada bayi, dunia lain hilang.
Rahma: Aku juga, Mas. Aku cuma bilang "bagus" sambil lalu.
Fadil: Kamu capek, Dik. Wajar.
Rahma: Aku tahu. Tapi tadi kamu lihat dia motret? Dia nggak ada di fotonya.
Fadil: Besok kita foto berdua sama Nayla. Ayah sama Kakak.
Rahma: Jangan cuma foto, Mas.
Rahma: Mas, kapan terakhir kamu duduk di pojok baca?
Fadil: Aku? Nggak pernah. Itu wilayah kalian berdua.
Rahma: Selimutnya udah berdebu. Aku baru sadar tadi.
Fadil: Besok aku cuci.
Rahma: Besok pagi tolong pegang Arka setengah jam. Aku mau mandi yang bener.
Fadil: Siap. Aku pasang alarm.
Rahma: Jangan alarm. Nanti adik bangun.
Fadil: Oh, iya. Getar aja.
Pagi harinya Fadil menggendong Arka keliling teras sambil membaca shalawat pelan. Getar ponselnya berbunyi tepat setengah jam.
Fadil: Dik! Setengah jam! Sesuai janji.
Rahma: Masya Allah, Mas, aku baru keramas.
Fadil: Janji ya janji. Ayah orang gudang, tepat waktu.
Rahma tertawa, lalu ke dapur membuang popok sekali pakai. Di atas kulit bawang dan bungkus kopi di tempat sampah, ada kartu latihan Story Day milik Nayla, diremas kecil.
Quick Meaning
- Just one look? — Lihat sekali saja?
- Do you still have time for our story? — Ibu masih punya waktu untuk cerita kita?
- Just ten minutes? — Sepuluh menit saja?
- I forgot. — Aku lupa.
- Once upon a time — Pada suatu hari / dahulu kala
Natural Phrase
- Ten minutes. Just us. — "Sepuluh menit. Cuma kita." Janji waktu berdua tanpa gangguan.
- It's okay. — "Nggak papa." Kadang benar-benar nggak papa, kadang tidak.
- Good night, sweetheart. — ucapan tidur yang hangat untuk anak.
Pakai Besok
Saat anak meminta waktumu:
- Do you want to hear it? — Mau dengar?
- Just one look. — Lihat sebentar saja.
- Show me your drawing. — Tunjukkan gambarmu.
- I want to hear your story. — Aku mau dengar ceritamu.
- Good night. Sleep tight. — Selamat tidur, nyenyak, ya.
One Line to Remember
Do you still have time for our story?
Comprehension Check
- Apa kata Bude Darmi tentang wajah Arka?
- Kenapa Nayla memanggil Rahma "Mum"?
- Kenapa Fadil tidak jadi mendengarkan latihan Nayla?
- Apa yang Rahma temukan di tempat sampah dapur?
Prediction Prompt
Menurutmu kenapa Nayla membuang kartu latihannya?
Next Chapter Hook
Kartu itu masih bernoda ampas kopi, dan Nayla baru saja keluar dari kamar dengan wajah biasa saja.