🎁 Bab 1–3 gratis di semua buku
BAB 3 · English ±40%

Ms. Ophelia di Gerbang

Kalimat berwarna biru adalah bahasa Inggris. Baca pelan-pelan, artinya ada di bagian bawah bab.

Rahma merekam jawaban tiga kali. Tiga kali juga ia hapus. Akhirnya, setelah Arka tidur, ia menekan tombol mikrofon dan bicara pelan.

Rahma: Hello, Ms. Ophelia. This is Rahma, Nayla's mum. Thank you for your message. Honestly, I don't know what's going on. Can we talk tomorrow? I'll pick her up myself.

Balasan datang lima menit kemudian, tulisan saja.

Ms. Ophelia: Of course. I'll be at the front gate at half one. Bring the little one if you need to.

Rahma membaca pesan itu dua kali, lalu menunjukkan ponselnya ke Fadil.

Fadil: Artinya apa, Dik?

Rahma: Besok jam setengah dua aku ke sekolah. Ketemu Ms. Ophelia di gerbang.

Fadil: Arka?

Rahma: Ikut. Mau ditinggal sama siapa? Dia masih nyusu tiap dua jam.

Fadil: Naik motor? Kamu kuat?

Rahma: Sekolahnya cuma lima menit, Mas. Aku pelan-pelan.

Fadil: Aku nggak bisa izin besok. Ada audit gudang.

Rahma: Nggak papa. Aku bisa.

Fadil: Nah. Sekarang kamu yang bilang "nggak papa".

Rahma melirik suaminya. Fadil pura-pura sibuk dengan remote televisi.

Rahma: Mas, kamu tahu nggak, Nayla bilang apa ke gurunya?

Fadil: Apa?

Rahma: Belum tahu. Makanya besok aku ke sana.

Fadil: Kalau gurunya marah gimana?

Rahma: Ms. Ophelia nggak marah, Mas. Suaranya di voice note itu kayak nenek-nenek yang baik.

Fadil: Nenek-nenek bule. Aku nggak berani. Nanti aku cuma bisa bilang "I am fine, thank you".

Rahma: Makanya aku yang berangkat.

Selasa pagi, Nayla sarapan sambil membaca bungkus susu kotak. Rahma duduk di depannya, Arka di pangkuan.

Rahma: Kak, hari ini pulang jam berapa?

Nayla: Jam dua, kayak biasa. Kenapa, Bu?

Rahma: Nggak papa. Ibu cuma tanya.

Nayla: Ibu kok jadi bilang "nggak papa" juga.

Rahma: Ketularan kamu.

Nayla: Hari ini ada olahraga. Lari keliling lapangan tiga kali.

Rahma: Kamu kuat?

Nayla: Kuat. Kinar yang paling cepet. Aku nomor tiga.

Rahma: Nomor tiga bagus, Kak.

Nayla: Nomor satu lebih bagus.

Mobil antar-jemput membunyikan klakson di depan pagar. Nayla mencium tangan Rahma, lalu mencium kepala Arka sekilas, cepat sekali, seperti takut ketahuan.

Setelah mobil pergi, Mbah Uti berdiri di depan kamar dengan kedua tangan di pinggang.

Mbah Uti: Rahma, bayi belum selapan kok dibawa keluar. Panas, debu.

Rahma: Cuma ke sekolah, Buk. Sebentar.

Mbah Uti: Sebentarmu itu Mbah sudah hafal.

Rahma: Kali ini beneran sebentar. Gurunya Nayla mau ketemu.

Mbah Uti: Kamu baru tiga minggu lahiran. Jahitanmu gimana?

Rahma: Udah kering, Buk. Kemarin Bu Narti juga tanya.

Mbah Uti: Bu Narti itu tanya semua orang. Mbah tanya karena Mbah ibumu.

Rahma: Iya, Buk. Aku kuat kok.

Mbah Uti: Nayla kenapa? Nakal?

Rahma: Nggak, Buk. Dia mundur dari lomba cerita. Gurunya khawatir.

Mbah Uti diam, lalu mengambil kain gendongan batik dari lemari dan topi rajut kecil.

Mbah Uti: Ya wis. Pakai yang ini, lebih adem. Topinya jangan dilepas. Baca bismillah, nyetirnya pelan.

Rahma: Iya, Buk.

Mbah Uti: Dan bilang ke sopir antar-jemput, hari ini Nayla nggak ikut. Nanti anaknya dicari-cari.

Rahma mengirim pesan ke sopir antar-jemput. Jawabannya cepat: "Siap, Bu. Hati-hati bawa bayi."

Jam satu lewat dua puluh, Rahma sudah di depan SD Tunas Cendekia. Arka tidur di gendongan, pipinya menempel di dada Rahma. Rahma tidak ingat kapan terakhir ia berdiri di gerbang ini. Biasanya Nayla datang sendiri, turun dari mobil, salam, masuk kamar.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Fadil.

Fadil: Dik, udah sampai? Arka rewel nggak? Panas nggak?

Rahma: Udah. Arka tidur. Panas, tapi di bawah pohon.

Fadil: Nanti cerita ya. Aku audit dulu. Semangat, Bu Tutor.

Rahma: Doakan aku nggak nangis di depan gurunya.

Fadil: Nangis juga nggak papa, Dik. Eh, maaf. Kata terlarang.

Seorang anak berlari dari arah lapangan. Rambut dikepang dua.

Kinar: Tante Rahma! Ibunya Nayla!

Rahma: Halo, Kinar. Nayla mana?

Kinar: Masih di musala, Tante. Kelas tiga salat Zuhur berjamaah dulu. Aku udah selesai duluan.

Rahma: Kamu cepet banget.

Kinar: Aku cepet semuanya, Tante. Itu adiknya Nayla? Boleh lihat?

Rahma: Intip aja, ya. Lagi tidur.

Kinar: Kecil banget! Hidungnya kecil banget!

Rahma: Kata Bude-nya, hidungnya mirip ayahnya.

Kinar: Nayla nggak pernah cerita soal adiknya.

Rahma: Nggak pernah?

Kinar: Nggak. Dia ceritanya perahu terus. Dulu.

Rahma: Tell me more. Eh, maksud Tante, terus?

Kinar: Whoosh-nya Nayla paling bagus di kelompok kami. Sekarang katanya buat aku aja. Aku nggak mau. Itu punya Nayla.

Rahma: Kamu baik banget, Kinar.

Kinar: Nayla mau ikut lagi, Tante?

Rahma: Tante belum tahu.

Kinar: Tolong bujuk ya, Tante. Itu Ms. Ophelia di sana.

Sebelum Rahma sempat melangkah, tiga ibu wali murid yang sedang menunggu sudah mengerumuninya.

Ibu wali murid: Masya Allah, bayinya! Mbak, ini adiknya Nayla, ya? Umur berapa?

Rahma: Tiga minggu lebih, Bu.

Ibu wali murid: Kok udah dibawa keluar? Belum selapan, lho.

Rahma: Iya, Bu. Darurat sedikit.

Ibu wali murid lain: Laki-laki, ya? Wah, sepasang. Lengkap sudah.

Ibu wali murid: Mirip siapa, Mbak? Kayaknya mirip bapaknya.

Rahma: Semua bilang gitu, Bu.

Ibu wali murid lain: Nayla seneng ya punya adik? Pasti bantu-bantu terus di rumah.

Rahma membuka mulut untuk bilang "iya", lalu berhenti. Ia tidak tahu jawabannya. Tidak ada yang bertanya Nayla sedang belajar apa.

Rahma: Saya permisi dulu ya, Bu. Mau ketemu gurunya.

Di bawah pohon ketapang dekat pos satpam, seorang perempuan berambut perak memegang map plastik. Ia melambai seperti sudah tahu siapa Rahma.

Ms. Ophelia: You must be Nayla's mum. I'm Ophelia.

Rahma: Hi. I'm Rahma. Sorry I took so long to reply.

Ms. Ophelia: Don't be daft. You've got a newborn. Oh, look at him. How old is he?

Rahma: Almost four weeks.

Ms. Ophelia: Gorgeous. And you came out in this heat. Come, stand in the shade.

Mereka berdiri di bawah pohon. Arka bergerak sedikit, lalu tidur lagi.

Rahma: So, about Story Day. She told me too. On Sunday.

Ms. Ophelia: She came to me before class on Monday. Very calm. Too calm, really.

Rahma: Did she give you a reason?

Ms. Ophelia: I asked her why. She said, "Mum is busy with the baby. It's okay."

Rahma tidak langsung menjawab. Ia memandang kepala Arka yang tertutup topi rajut.

Rahma: She said that?

Ms. Ophelia: Word for word. Then she asked if she could go and play.

Rahma: She says "it's okay" to me every day. Nggak papa kok, Bu. Tiap hari.

Ms. Ophelia: Nggak papa kok. Yes, I've heard that one. I'm not telling you off, love. I just thought you'd want to know.

Rahma: I do. Thank you.

Ms. Ophelia: She's one of my best tellers. Her wind part makes the whole room go quiet.

Rahma: I've never seen her do it here.

Ms. Ophelia: No? Well, you should. She closes her eyes and goes, whoosh, very softly.

Rahma: Softly? At home she shouts it.

Ms. Ophelia: At home she's got an audience of one. Pelan-pelan, I tell her. Make them lean in.

Rahma tertawa kecil, tapi tenggorokannya terasa sempit.

Rahma: I'm an English tutor. I talk to adults all day. And I didn't notice my own daughter.

Ms. Ophelia: You've had a baby, Rahma. Not a holiday.

Rahma: Liburan apanya. Tidur aja dua jam-dua jam. Sorry. I mean, I barely sleep.

Ms. Ophelia: Oh, I remember those nights. You fall asleep standing up.

Rahma: She asked me for our story time. On Saturday. I said tomorrow.

Ms. Ophelia: And tomorrow got busy.

Rahma: Every tomorrow got busy.

Ms. Ophelia: Here's what I'll do. I'll keep her name on my list until Friday. No pressure.

Rahma: Until Friday. Okay.

Ms. Ophelia: And maybe ask her about the wind. She loves that bit.

Rahma: I will.

Ms. Ophelia: There she is.

Nayla keluar dari musala dengan tas mukena di tangan. Ia berhenti di tengah lapangan saat melihat ibunya. Lalu ia melihat Ms. Ophelia. Lalu ibunya lagi.

Nayla: Ibu? Kok Ibu yang jemput? Mobil antar-jemput mana?

Rahma: Hari ini Ibu yang jemput. Salam dulu sama Ms. Ophelia.

Nayla: Hello, Ms. Ophelia.

Ms. Ophelia: Hello, sweetheart. Your brother's very handsome.

Nayla: He sleeps a lot.

Ms. Ophelia: Babies do. See you on Thursday, Nayla.

Nayla: I'm not doing Story Day, Ms. Ophelia.

Ms. Ophelia: I know, love. See you in class on Thursday, then.

Kinar berlari lagi dari arah gerbang belakang.

Kinar: Nayla! Your mum came! With the baby!

Nayla: I can see that, Kinar.

Kinar: Bye! Think about it!

Nayla: Think about what?

Kinar sudah lari ke mobil mamanya. Nayla memandang Rahma lama.

Nayla: Ibu ngapain di sini lama-lama?

Rahma: Nunggu kamu, Kak.

Nayla: Biasanya aku pulang sendiri.

Rahma: Iya. Ibu tahu.

Di parkiran, Rahma membetulkan gendongan, lalu memasang helm kecil di kepala Nayla. Tali helmnya macet.

Nayla: Mum, it's stuck.

Rahma: Hold on. Chin up.

Nayla: Mum? Kita kan nggak di pojok baca.

Rahma: Kamu duluan yang bilang Mum.

Nayla: Oops.

Rahma: Kamu lari nomor berapa tadi?

Nayla: Nomor dua. Kinar tetap nomor satu.

Rahma: Naik satu. Hebat.

Nayla: Ibu kok tahu aku lari?

Rahma: Kan tadi pagi kamu cerita.

Nayla: Oh. Ibu dengerin, ya.

Rahma: Ibu dengerin, Kak.

Rahma: Pegangan pinggang Ibu, ya. Jangan dilepas.

Nayla: Adik nggak kepanasan?

Rahma: Ada topinya. Mbah Uti yang pasang.

Nayla: Mbah Uti kan nggak bolehin adik keluar.

Rahma: Hari ini boleh. Khusus.

Nayla: Khusus kenapa?

Rahma: Khusus karena Ibu pengin jemput kamu.

Nayla: Bukan karena Ms. Ophelia?

Rahma: Dua-duanya.

Nayla diam. Ia naik ke jok belakang tanpa bertanya lagi, tapi Rahma bisa merasakan anak itu berpikir.

Motor berjalan pelan di jalan perumahan, lewat masjid kompleks dan warung bakso. Kalimat itu terus berulang di kepala Rahma, dengan suara Nayla yang tenang: Mum is busy with the baby. It's okay. Matanya panas. Ia menyalahkan debu, lalu angin, lalu kaca helm yang tidak ia turunkan. Ia menggigit bibir dan terus menyetir.

Tangan kecil Nayla memegang pinggangnya lebih erat di tikungan depan rumah Bu Narti.

Nayla: Ibu tadi ngomongin aku sama Ms. Ophelia, ya?

Quick Meaning

  • pick her up — menjemput dia
  • Word for word. — Persis kata per kata.
  • Just a peek. — Intip sebentar saja.
  • Think about it! — Pikir-pikir dulu!
  • make them lean in — bikin penonton mencondongkan badan, penasaran

Natural Phrase

  • Sorry I took so long to reply. — "Maaf lama balasnya." Sopan dan wajar ke guru.
  • Don't be daft. — "Ah, jangan gitu." Gaya akrab orang Inggris untuk bilang "nggak usah minta maaf".
  • Hold on. Chin up. — "Tunggu. Dagunya angkat." Saat memasang helm atau kancing di leher anak.

Pakai Besok

Saat bicara dengan guru anakmu:

  • I'll pick her up myself today. — Hari ini saya jemput sendiri.
  • Did she give you a reason? — Dia bilang alasannya?
  • Thank you for telling me. — Terima kasih sudah memberi tahu saya.
  • I didn't notice. I'll talk to her. — Saya belum sadar. Nanti saya ajak bicara.
  • Can we talk tomorrow? — Bisa kita bicara besok?

One Line to Remember

Mum is busy with the baby. It's okay.

Comprehension Check

  • Kenapa Mbah Uti awalnya tidak setuju Arka dibawa keluar?
  • Apa kata Kinar tentang bagian "whoosh" milik Nayla?
  • Apa alasan Nayla mundur, menurut Ms. Ophelia?
  • Sampai kapan Ms. Ophelia menyimpan nama Nayla di daftar Story Day?

Prediction Prompt

Kalau kamu Rahma, apa yang akan kamu jawab di atas motor?

Next Chapter Hook

Rahma memegang setang lebih erat. Ia bisa berbohong, atau ia bisa mulai jujur.