🎁 Bab 1–3 gratis di semua buku
BAB 2 · English ±35%

Satu per Satu

Kalimat berwarna biru adalah bahasa Inggris. Baca pelan-pelan, artinya ada di bagian bawah bab.

Tanggal 22, jam delapan pagi. Tim CS berdiri melingkar di dekat jendela untuk huddle. Odette memegang mug teh seperti biasa.

Odette: Morning, everyone. Quick one before the queue opens.

Puspa: Morning, Odette.

Odette: We're opening a team lead role here in Jakarta. The assessment is in five weeks.

Puspa berbisik ke Kirana.

Puspa: Lima minggu. Itu kayak lomba tujuh belasan, tapi hadiahnya jabatan.

Odette: It's an interview and a mock call. No written test.

Kirana: Who can apply?

Odette: Anyone with a year on the team. Put your name on the sheet by Friday.

Odette menempelkan kertas kosong di papan dekat pantry.

Odette: Questions?

Puspa: Is there free lunch at the assessment?

Odette: No, Puspa.

Puspa: Then I have no questions.

Semua tertawa. Huddle selesai.

Puspa: Lo daftar, Kir.

Kirana: Nggak enak, Pus. Bang Jaka udah empat tahun di sini.

Puspa: Bang Jaka pindah ke tim billing bulan depan. Gue denger sendiri.

Kirana: Tetap aja. Masih banyak yang lebih senior.

Puspa: Yang senior suka marah-marah di chat. Lo yang kalem. Udah, tulis nama.

Kirana: Nanti.

Puspa: Lo bilang "nanti" kayak bilang "aman". Artinya nggak.

Antrean chat dibuka. Pesan pertama datang dari pelanggan yang menunggu refund.

Pelanggan: It's been ten days. Where's my money?

Kirana: I understand. Let me look at your case.

Pelanggan: You said seven days last time.

Kirana: You're right. It's late, and I'm sorry. The refund was approved on the fifteenth.

Pelanggan: So when do I get it?

Kirana: It should reach your account within two working days. I'll set a reminder and message you on Thursday.

Pelanggan: Fine. Thursday.

Puspa: Lo ngomong "it's late, I'm sorry" gampang banget ke orang asing.

Kirana: Kan memang telat, Pus.

Menjelang makan siang, Odette berhenti di meja Kirana.

Odette: Have you seen the sheet?

Kirana: Yes. I'm… still thinking.

Odette: Fair enough. What do you need from me?

Kirana: Nothing. I'm good.

Odette: Okay. The offer stays open.

Ia pergi. Pertanyaan semacam itu Kirana ajukan ke pelanggan dua puluh kali sehari. Untuk dirinya sendiri, jawabannya cuma "nothing".

Puspa: Dia nanya lo butuh apa, kan?

Kirana: Iya.

Puspa: Terus lo jawab "nothing". Kir, itu kayak ditawarin nasi padang terus lo bilang "air putih aja".

Kirana: Aku memang suka air putih.

Puspa: Liar.

Kirana: Pus, Mbak Odette nanya karena sopan.

Puspa: Bule nggak nanya karena sopan, Kir. Bule nanya karena mau dijawab. Itu bedanya sama tante-tante kita di arisan.

Kirana: Terus aku harus jawab apa?

Puspa: Ya apa kek. "Saya butuh contoh soal." "Saya butuh latihan." "Saya butuh gaji naik."

Kirana: Yang terakhir jangan.

Puspa: Itu yang paling jujur, lho.

Sore itu, Kirana mampir ke papan dekat pantry. Kertasnya masih kosong. Ia menulis namanya kecil sekali di baris pertama, lalu buru-buru pergi sebelum ada yang melihat.

Malamnya, setelah salat Isya, ia duduk di meja makan. Amplop masih di sana.

Kirana: Din. Sini sebentar.

Dina: Bentar, Mbak. Lagi bikin RPP.

Kirana: Din, temenin Mbak buka amplop, ya.

Dina muncul di pintu dengan rambut dicepol pensil.

Dina: Finally. Aku kira Mbak mau nyimpen amplop itu sampai lebaran.

Kirana: Duduk. Tapi jangan komentar.

Dina: Nggak janji.

Kirana mengambil amplop putih, lalu meletakkannya lagi. Mengambil yang cokelat, meletakkannya lagi.

Kirana: Mbak tuh nggak enak, Din. Ini kan biaya kamu. Kalau Mbak bilang berat, nanti kamu merasa bersalah. Kalau Mbak bilang nggak berat, ya bohong. Terus…

Dina: Mbak. Angka. Bukan perasaan dulu.

Kirana: Iya, tapi…

Dina: Oke, aku punya ide. Mulai sekarang, kalau ngomongin duit, pakai English.

Kirana: Hah? Kenapa?

Dina: Karena Mbak tiap hari ngomong angka sama pelanggan pakai English dan Mbak tenang. Ngomong angka sama adik sendiri pakai Indonesia, Mbak muter-muter kayak tukang parkir.

Kirana: Itu beda.

Dina: In English, there's no 'nggak enak'.

Kirana: Ya ada, lah. "Awkward".

Dina: Awkward is fine. Awkward still gets things done. Canggung boleh. Yang penting jalan.

Kirana memandangi adiknya. Calon guru. Jelas sekali.

Kirana: Oke. Coba.

Dina: Coba bilang yang tadi. Pakai English.

Kirana: Can you sit with me while I look at these bills?

Dina: Yes. I'm sitting. Tuh, gampang. Mbak minta ditemani, aku duduk. Selesai.

Kirana: Kamu tuh nyebelin.

Dina: I know. Mbak punya buku catatan kosong?

Kirana mengambil buku kecil bersampul hijau tosca dari kamar. Sampulnya lecek.

Dina: Ini buku jaman Mbak training, kan?

Kirana: Iya. Masih banyak halaman kosong.

Dina: Pas. Ini sekarang buku daftar.

Kirana: Where do we start?

Dina: One at a time. Satu per satu. Jangan semua sekaligus, nanti Mbak pusing terus nyari mi telur.

Kirana: Telurnya habis, Din.

Dina: Nah, itu masuk daftar juga. Tapi nanti.

Dina membuka halaman baru dan menulis tanggal hari itu di pojok.

Dina: Which one has the nearest due date?

Kirana: Listrik. Selasa.

Dina: In English, please.

Kirana: The electricity bill. It's due Tuesday.

Dina: How much?

Kirana merobek amplop putih. Ia membaca angkanya dua kali.

Kirana: Three hundred and forty thousand.

Dina: Okay. Let's write the amount and the date first. Angka sama tanggal dulu. Perasaan belakangan.

Dina menulis: Listrik — 340 rb — Selasa.

Dina: Next.

Kirana: The rent. Bu Lastri. The first of the month.

Dina: Bu Lastri tuh baik, Mbak. Kalau telat sehari dia cuma ngomel soal pipi Mbak yang kurus.

Kirana: We're not paying late. Nggak telat.

Dina: Siap. Tulis. Next?

Kirana memegang amplop cokelat. Dina langsung diam.

Dina: That one's mine.

Kirana: Yes.

Dina: Aku yang buka, ya.

Dina membaca suratnya. Ada tanggal jatuh tempo di pertengahan bulan depan. Ia menulis angka dan tanggalnya tanpa bersuara, lalu menutup pulpen.

Dina: Mbak. Ini gede.

Kirana: In English.

Dina: Ih. It's big. I'm sorry.

Kirana: Don't be sorry. It's your school.

Dina: But you're paying for most of it.

Kirana: We'll figure it out. Nanti kita cari caranya.

Dina menunduk. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak bercanda.

Dina: Kadang aku mikir, kalau aku nggak kuliah, Mbak udah bisa nabung. Udah bisa beli motor. Udah bisa nikah, mungkin.

Kirana: Nikah nggak pakai daftar tagihan, Din.

Dina: Mbak, aku serius.

Kirana: Mbak juga. Dulu Bapak pengin banget ada anaknya yang jadi guru. Mbak nggak jadi. Kamu yang jadi.

Dina: Belum jadi.

Kirana: Makanya jangan berhenti di tengah jalan.

Dina mengusap matanya cepat-cepat dengan lengan kaus, lalu pura-pura membetulkan cepolan rambut.

Dina: Mbak, aku tanya ke kampus aja ya, bisa dicicil lebih kecil atau nggak.

Kirana: Tanya boleh. Tapi jangan keputusan apa-apa dulu.

Dina: Deal. Next. Ibu.

Kirana: Monthly money for Ibu. And the roof.

Dina: How much for the roof?

Kirana: I don't know yet.

Seperti dipanggil, ponsel Kirana berbunyi. Ibu mengirim foto: tiga panci berjajar di lantai dapur, menampung tetesan dari atap.

Dina: Ya Allah, pancinya Ibu sampai baris kayak upacara.

Kirana: Itu panci buat ngukus getuk, Din.

Dina: Berarti besok getuknya rasa air hujan.

Kirana: Hush. Mbak telepon Ibu besok pagi. Tanya Pak Kasdi, kira-kira butuh berapa.

Dina: Minta angka ya, Mbak. Jangan "secukupnya".

Kirana: Iya. Angka.

Dina: Soalnya Ibu kalau ditanya pasti jawab "wis, ora usah, Ibu bisa". Terus atapnya bocor sampai Ramadan.

Kirana: Ibu tuh mirip siapa, ya.

Dina: Mirip Mbak. Persis.

Dina: Berarti tulis tanda tanya. Tanda tanya juga data, Mbak.

Dina menulis: Ibu — bulanan + atap (?).

Kirana: And Friday.

Dina: What's on Friday?

Kirana: Kotak infak. Lima ribu.

Dina: Tulis paling atas. Itu yang paling pasti.

Kirana tertawa. Dina menulis "Infak Jumat" di baris paling atas dan menggarisbawahinya dua kali.

Dina: Terus ada yang lain? Yang bukan tagihan, tapi penting?

Kirana: Ada. Di kantor ada penilaian Team Lead. Lima minggu lagi.

Dina: Hah? Mbak daftar?

Kirana: Kind of. Mbak tulis nama. Kecil banget.

Dina: How small?

Kirana: Kalau nggak pakai kacamata, nggak kelihatan.

Dina: Tetap dihitung. Masuk buku. Halaman belakang.

Dina: Now. How much do we have until the twenty-eighth?

Kirana membuka dompet, lalu aplikasi rekening di ponselnya. Ia menyebut angka itu pelan. Dina menulisnya di bagian bawah halaman dan menggambar garis panjang di bawahnya.

Kolom kiri lebih panjang dari kolom kanan.

Kirana: It doesn't fit.

Dina: Not this month. But now we can see it. Sekarang kelihatan, Mbak. Kemarin cuma ada di kepala Mbak.

Kirana: Di kepala Mbak tuh rasanya lebih kecil.

Dina: That's the problem.

Anehnya, napas Kirana terasa lebih longgar. Angkanya tidak berubah. Tapi sekarang angka itu ada di kertas, bukan di dadanya.

Kirana: Din. Thank you.

Dina: You're welcome, Ms. Kirana. Biaya konsultasi: satu martabak manis.

Kirana: That's not in the budget.

Dina: See? You're learning.

Ponsel Kirana bergetar. Rina lagi.

Rina: Kir, did you see my message last night? No pressure!

Dina melirik layar, lalu melirik kakaknya.

Dina: Mbak Rina nanya apa sih sebenarnya?

Kirana: Nggak apa-apa.

Dina: Mbak. Money talk. English.

Kirana: It's nothing, Din. Really.

Dina: Bohongnya tetap pakai English, ya. Pinter.

Kirana menelungkupkan ponsel. Dina tidak mendesak.

Dina: Ya udah. Aku nggak maksa. Tapi kalau Mbak butuh teman mikir, aku di kamar depan.

Kirana: Iya.

Dina: Sama satu lagi. Besok aku belanja ke pasar. Telur sekilo, beras, minyak. Pakai uang yang mana?

Kirana: Ambil di dompet Mbak. Lima puluh.

Dina: In English.

Kirana: Fifty thousand. From my wallet. Bring the change.

Dina: Siap, bos. Aku tulis di halaman belakang.

Dina membolak-balik halaman lama buku itu, mencari halaman kosong.

Dina: Mbak, kok tulisan Mbak dulu rapi banget. "Thank you for your patience." "I understand your concern." Kayak buku contekan.

Kirana: Memang contekan. Hari pertama kerja Mbak gemetar.

Dina: Sekarang?

Kirana: Sekarang gemetarnya cuma kalau ngomongin duit sendiri.

Dina: Lucu. Eh, ini apa?

Dina membalik satu halaman lagi dan menemukan satu baris lama dengan tulisan tangan Kirana: "Rina — 2,5 jt — Mei".

Quick Meaning

  • One at a time. — Satu per satu.
  • It's due Tuesday. — Jatuh temponya Selasa.
  • Let's write the amount and the date first. — Tulis jumlah dan tanggalnya dulu.
  • It doesn't fit. — Nggak cukup / nggak muat.
  • We'll figure it out. — Nanti kita cari caranya.

Natural Phrase

  • Fair enough. — "masuk akal", menerima alasan orang tanpa mendesak.
  • The offer stays open. — tawarannya tetap berlaku, kapan pun kamu siap.
  • Deal. — "sepakat", menutup kesepakatan kecil.

Pakai Besok

Saat membuka tagihan bersama keluarga:

  • Can you sit with me while I look at these bills? — Temani aku lihat tagihan ini, ya?
  • Which one has the nearest due date? — Mana yang jatuh temponya paling dekat?
  • How much is it? — Berapa jumlahnya?
  • I don't know yet. Let's put a question mark. — Belum tahu. Kasih tanda tanya dulu.
  • It doesn't fit this month. — Bulan ini nggak cukup.

One Line to Remember

One at a time.

Comprehension Check

  • Apa saja isi penilaian Team Lead yang diumumkan Odette?
  • Kenapa Dina mengusulkan aturan "kalau ngomongin duit, pakai English"?
  • Tagihan apa yang ditulis paling atas di buku hijau tosca, dan kenapa?
  • Apa yang Kirana jawab waktu Odette bertanya "What do you need from me?"

Prediction Prompt

Dina baru tahu ada pinjaman lama ke Mbak Rina. Menurutmu, apa yang akan Dina tanyakan, dan bagaimana Kirana menjawab?

Next Chapter Hook

Besok siangnya Puspa mengumumkan makan siang ulang tahun Bang Jaka di mal — dan semua orang menoleh ke Kirana, seperti biasa.