Amplop di Meja Makan
Tanggal 21, jam empat sore. Kantor Lumora di Kuningan penuh bunyi ketikan. Kirana membuka chat pelanggan ke-43 hari itu.
Pelanggan: Hi, my parcel says delivered but I don't have it.
Kirana: Hi, thanks for reaching out. I'm sorry about that. Let me check that for you.
Pelanggan: It's a birthday gift. The party's tomorrow.
Kirana: Okay, I see the order. Can you check with your building's front desk first?
Pelanggan: Oh. One sec.
Puspa menggeser kursinya sambil menggigit kerupuk bekal ibunya.
Puspa: Kir, lo tuh kalau ngetik English kayak penyiar radio. Kalem banget.
Kirana: Itu kerjaan, Pus. Kalau aku panik, pelanggannya lebih panik.
Puspa: Gue panik. Pelanggan gue dari tadi ngetik pakai huruf kapital semua.
Kirana: Bales pelan-pelan. Huruf kecil.
Pelanggan: Found it! It was at the front desk. Sorry!
Kirana: No worries at all. Is there anything else I can help you with?
Pelanggan: That's all. Thanks so much!
Kirana: You're welcome. Enjoy the party!
Puspa: Tuh kan. Penyiar radio.
Odette Marsh, team lead mereka, datang membawa mug teh.
Odette: Kirana, got a minute?
Kirana: Sure. What's up?
Odette: That refund case from Monday. The customer emailed again to say thank you.
Kirana: Oh. That's nice.
Odette: It's more than nice. You stayed calm when he didn't.
Kirana: I just followed the steps.
Odette: Mm. You always say that.
Odette mengetuk meja dua kali, lalu pergi.
Puspa: Dia muji lo, Kir. Dia jarang muji orang.
Kirana: Dia cuma bilang aku tenang.
Puspa: Terus lo jawab "I just followed the steps". Artinya apa? "Cuma ikut prosedur"?
Kirana: Iya.
Puspa: Dipuji malah ngeles. Kayak gue kalau dipuji nyokap: "Ah, cuma ngikut resep, Nyak."
Kirana: Itu beda, Pus.
Puspa: Sama. Orang kita tuh nggak bisa terima pujian.
Telepon di meja Kirana berbunyi. Ia membetulkan headset.
Kirana: Lumora support, this is Kirana. How can I help?
Pelanggan: Hi. I think I got charged twice for one order.
Kirana: I'm sorry to hear that. Can I have your order number, please?
Pelanggan: Hang on… okay. It ends in four-four-seven.
Kirana: Thank you. I can see two payments. One of them is still pending.
Pelanggan: So I'm not losing money?
Kirana: No. The pending one should go away by itself. If it doesn't, just call us back.
Pelanggan: Oh, good. That's a relief.
Kirana: Anytime. Have a good evening.
Puspa: Ditagih dua kali, katanya? Gue pengin ditagih dua kali. Eh, maksudnya digaji dua kali.
Kirana: Itu namanya mimpi, Pus.
Puspa: Eh, Jumat depan ulang tahun Bang Jaka tim sebelah. Makan-makan lagi. Lo yang traktir es teh kayak biasa, kan?
Kirana: Aman, aman.
Puspa: Lo tuh bilang "aman" kayak satpam kompleks.
Kirana: Satpam kompleks itu orang paling tenang sedunia, Pus.
Puspa: Karena gajinya nggak dipakai buat traktir satu tim. Bulan lalu lo bayarin martabak, bulan sebelumnya pizza.
Kirana: It's fine. Aku seneng.
Puspa: Seneng boleh. Bangkrut jangan.
Kirana: Okay, okay. Kerja, Pus. Antrean chat kamu udah tujuh.
Jam lima, Kirana salat Asar di musala kantor, lalu naik Transjakarta ke Rawamangun. Tanggal 21. Gajian tanggal 28. Tujuh hari lagi, kira-kira empat belas porsi nasi padang. Lauk telur.
Bu Lastri, pemilik kontrakan, sedang menyapu teras di sebelah.
Bu Lastri: Mbak Kirana, baru pulang? Tadi ada surat dari petugas listrik, saya selipkan di bawah pintu.
Kirana: Makasih, Bu.
Bu Lastri: Katanya jatuh temponya Selasa, Mbak. Jangan sampai lupa, nanti dicabut lho.
Kirana: Iya, Bu. Aman, aman.
Bu Lastri: Mbak kok kurus sekarang? Kerja terus, ya?
Kirana: Diet, Bu.
Bu Lastri: Diet apa, wong pipinya tinggal tulang. Ya sudah, salam buat Dina.
Di dalam, Dina bersila di depan laptop tuanya yang berstiker kucing. Di meja makan ada tiga amplop.
Dina: Welcome home, Mbak. Aku masak mi telur. Telurnya tinggal dua.
Kirana: Pas. Satu buat kamu, satu buat aku.
Dina: Itu ada surat. Yang putih dari listrik. Yang cokelat dari kampus.
Kirana: Yang ketiga?
Dina: Brosur sedot WC. Itu nggak usah dibayar.
Kirana tertawa kecil. Ia tidak membuka satu pun amplop, hanya menumpuknya rapi.
Dina: Mbak nggak buka?
Kirana: Nanti.
Dina: Yang dari kampus itu surat cicilan semesterku, Mbak. Aku udah intip. Ada tanggalnya.
Kirana: Iya, nanti Mbak lihat.
Dina: Mbak, kalau berat, bilang. Aku bisa…
Kirana: Bisa apa? Kamu fokus micro-teaching aja.
Dina: Aku bisa cari les, Mbak. I'm serious.
Kirana: I know you are. Tapi aman. Beneran.
Dina: Minggu depan micro-teaching. Aku harus bawa karton sama spidol sendiri.
Kirana: Berapa?
Dina: Murah, Mbak. Pakai uang jajanku.
Kirana: Nanti Mbak tambahin.
Dina: Mbak, uang jajanku juga dari Mbak. Itu cuma muter-muter.
Dina kembali ke laptop dan mengetik keras-keras, seperti sedang marah kepada keyboard.
Ponsel Kirana bergetar. Ibu.
Kirana: Assalamualaikum, Bu.
Ibu: Waalaikumsalam, Nduk. Wis mulih?
Kirana: Sampun, Bu. Baru sampai. Ibu sehat?
Ibu: Sehat, alhamdulillah. Cuma itu lho, Nduk, atap dapur bocor lagi. Tadi sore hujan deres, pancine kebak banyu.
Kirana: Bocornya gede, Bu?
Ibu: Ya lumayan. Kayune wis lapuk. Kata Pak Kasdi tetangga, gentengnya harus diganti sebagian. Ibu ora njaluk apa-apa, lho. Cuma cerita.
Kirana: Ibu jualan tetap, Bu?
Ibu: Ya tetap. Getuk sama lupis laris kemarin. Cuma pas hujan, daganganku kehujanan sedikit.
Kirana: Kalau hujan Ibu jangan jualan dulu.
Ibu: Lha terus Ibu makan apa, Nduk? Wong jualan ya kudu.
Kirana: Iya, Bu. Nanti Kirana kirim pas gajian, ya. Ditambahi buat atap.
Ibu: Lho, kamu sendiri gimana? Jakarta kan mahal.
Kirana: Aman, Bu. Aman.
Ibu: Dina gimana kuliahnya?
Kirana: Lancar, Bu. Lagi latihan ngajar.
Ibu: Alhamdulillah. Jangan lupa salat, ya, Nduk. Sudah Magrib belum?
Kirana: Sudah, Bu. Habis ini Isya.
Ibu: Ya sudah. Ibu mau ke musala dulu.
Kirana: Nggih, Bu. Assalamualaikum.
Ia meletakkan ponsel di atas tumpukan amplop. Dina tidak menoleh, tapi jelas mendengar semuanya.
Dina: "Ditambahi buat atap." Pakai uang yang mana, Mbak?
Kirana: Ada.
Dina: Ada di mana?
Kirana: Din. Mi kamu keburu dingin.
Dina: Mbak selalu gitu. Ganti topik pakai makanan.
Kirana: Karena makanan itu topik paling aman.
Dina: Not funny.
Kirana: A little funny.
Dina menahan senyum, kalah, lalu mengambil mangkuk.
Dina: Mbak tahu nggak, temenku di kampus kerja jadi kasir minimarket. Malam doang, empat jam.
Kirana: Terus?
Dina: Ya terus aku juga bisa. Biar Mbak nggak sendirian bayar semuanya.
Kirana: Kamu pulang kampus aja udah jam lima. Terus kerja sampai jam sepuluh, kapan belajarnya?
Dina: Di kasir. Kalau sepi.
Kirana: Din, Mbak kerja biar kamu nggak usah belajar di kasir.
Dina: Mbak kerja sampai lupa makan siang. Aku lihat bekal Mbak dibawa pulang lagi kemarin.
Kirana: Itu karena kenyang.
Dina: Kenyang apa? Mbak cuma bawa nasi sama kecap.
Kirana: Kecapnya kental. Bikin kenyang.
Dina: Mbak. Seriously.
Kirana: Udah, makan. Mi itu kalau dingin rasanya kayak karet gelang.
Sebelum mencuci piring, Kirana memasukkan selembar lima ribu ke kaleng bekas biskuit di atas kulkas. Kaleng itu isinya untuk kotak infak Jumat di masjid dekat kantor.
Dina: Bulan sempit gini, Mbak masih isi kaleng itu?
Kirana: Itu nggak ikut dihitung, Din. Itu jatahnya beda.
Dina: Oke. Yang itu aku setuju.
Selesai makan, Kirana salat Isya di kamar belakang. Setelah salam, ia diam lama di atas sajadah, menatap ponsel yang menyala. Tiga pesan WhatsApp dari Rina.
Rina: Kir, beb! You there?
Rina: Long day. Hotel's crazy this week.
Rina: Eh, kamu inget nggak, guru English club kita, Pak Har? Aku ketemu di Menteng tadi. Dia masih manggil kita "the debate twins".
Kirana tersenyum. Ia membalas.
Kirana: No way! Is he okay?
Rina: Still the same. Same glasses, same jokes.
Kirana: Of course he is. Salamin ya kalau ketemu lagi.
Rina: Will do! Inget nggak lomba debat kelas sebelas? Kita kalah gara-gara kamu kebanyakan bilang "with all due respect".
Kirana: I was being polite!
Rina: You were being scared. Ngaku.
Kirana: A bit.
Rina: Kamu masih gitu nggak? Kalau nggak enak sama orang, malah ngomong panjang-panjang?
Kirana: Udah nggak. Sekarang aku CS, Rin. Aku bilang "let me check" terus selesai.
Rina: Sure you do. Hahaha.
Lalu titik-titik di layar muncul dan hilang. Muncul lagi.
Rina: Okay, this is awkward.
Rina: Kir, aku boleh pinjam lagi nggak? Sejuta aja. Buat bulan ini doang.
Rina: I'll pay it all back. I promise.
Kirana menatap layar. Sejuta. Ia menghitung tanpa sengaja: kira-kira empat puluh porsi nasi padang. Lauk telur.
Kalau menggulir ke atas, masih ada pesan bulan Mei: "Kir, aku butuh 2,5 buat deposit kos sama servis motor. Dua bulan, janji." Lalu bukti transfer. Setelah itu tidak ada lagi yang menyebut angka itu.
Dina muncul di pintu kamar sambil membawa sikat gigi.
Dina: Mbak, siapa? Mukanya kayak lagi baca surat cerai.
Kirana: Rina.
Dina: Mbak Rina? Kenapa?
Kirana: Nggak apa-apa. Nanya kabar.
Dina: Nanya kabar kok Mbak pegang HP kayak pegang bom.
Kirana: Go to sleep, Din.
Dina: Fine. Tapi besok Mbak buka amplopnya, ya. Janji.
Kirana: Iya.
Dina: Bilang "janji".
Kirana: Janji.
Dina: Pakai English juga. Biar sah.
Kirana: I promise.
Dina: Good. Aku catat, lho. Di kepalaku.
Dina: Good night, Mbak.
Kirana: Night.
Dina: Satu lagi. Apa pun yang Mbak Rina tanya, jawabnya besok aja. Sleep on it.
Pintu kamar depan tertutup. Kirana membuka chat Rina lagi dan mengetik pelan.
Kirana: Boleh, Rin. Aman, aman.
Jempolnya berhenti di atas tombol kirim.
Amplop putih di meja makan. Jatuh tempo Selasa. Atap dapur Ibu. Surat cokelat dari kampus Dina.
Ia menghapus "Aman, aman". Lalu menghapus "Rin". Tinggal satu kata di layar: "Boleh".
Kirana menghapus kata itu juga, mematikan layar, dan tidak membalas apa pun.
Quick Meaning
- Let me check that for you. — Saya cek dulu, ya.
- No worries at all. — Tidak apa-apa sama sekali.
- Got a minute? — Ada waktu sebentar?
- This is awkward. — Ini agak canggung.
- I'm serious. — Aku serius.
Natural Phrase
- Thanks for reaching out. — pembuka sopan CS untuk pelanggan yang menghubungi.
- What's up? — "ada apa?", santai, sering dipakai ke atasan yang akrab.
- Will do! — "siap, nanti kulakukan", jawaban pendek atas titipan.
Pakai Besok
- Got a minute? — Ada waktu sebentar?
- Let me check that for you. — Saya cek dulu, ya.
- Is there anything else I can help you with? — Ada lagi yang bisa saya bantu?
- Okay, this is awkward. — Oke, ini agak canggung (sebelum bicara hal sulit).
- I'm serious. — Aku serius.
One Line to Remember
Let me check that for you.
Comprehension Check
- Apa yang dibilang Odette tentang cara Kirana menangani kasus refund?
- Kapan tagihan listrik kontrakan jatuh tempo?
- Apa yang Ibu ceritakan lewat telepon?
- Berapa yang Rina minta pinjam kali ini?
Prediction Prompt
Menurutmu, kenapa Kirana tidak berani membalas pesan Rina, padahal ia biasanya bilang "aman"?
Next Chapter Hook
Besok malamnya, Kirana akhirnya duduk di meja makan dan memanggil Dina: "Din, temenin Mbak buka amplop, ya."