Tiga Kalimat Sebelum Tidur
Recap
Floris mengabarkan orang tuanya akan datang tiga minggu lagi. Bapak hanya berkata "Hm." lalu pergi ke bengkel, dan Ibu minta diajari English.
Senin siang, Studio Tepas.
Di layar laptop Aruna ada tabel dua belas kolom. Setiap kolom satu hari, setiap baris satu jam. Mbak Dyah berdiri di belakang kursinya sambil memegang gelas es teh.
Dyah: Ya ampun, Run. Lo bikin jadwal kayak mau nerima presiden.
Aruna: Bukan presiden, Mbak. Calon mertua.
Dyah: Sama aja. Calon mantu internasional, nih.
Aruna: Jangan mulai.
Dyah: Oke, oke. Serius. Mereka makan apa? Nginep di mana?
Aruna: Nginep di Omah Srikaya. Sepuluh menit dari rumah. Makan… itu yang Ibu pusing. Ibunya Floris nggak kuat pedas.
Dyah: Sama sekali?
Aruna: Sama sekali. Floris bilang sambal satu sendok bisa bikin dia nangis.
Dyah: Terus hari ketiga ini kosong. Mau diisi apa?
Aruna: Belum tahu. Mungkin Prambanan. Mungkin istirahat.
Dyah: Jangan diisi semua, Run. Orang tua capek. Kasih waktu buat ngobrol.
Aruna mengetik "ngobrol" di kolom hari ketiga, lalu menghapusnya lagi. Ponselnya bergetar. Pesan dari Floris.
Floris: How's the plan going?
Aruna: Twelve days. Twelve columns. I'm fine.
Floris: You're making a spreadsheet, aren't you?
Aruna: It's a table. Different thing.
Floris: Sure it is. Jangan lupa makan siang.
Dyah membaca dari balik bahunya dan tertawa.
Dyah: Tuh kan. Dia aja tahu lo kalau stres bikin tabel.
Aruna: Mbak, kerjaan Mbak di mana?
Dyah: Di sini. Ngawasin lo. Proyek balai warga gue pegang minggu depan, tenang aja.
Aruna: Makasih, Mbak. Nanti aku kirim catatan rapat sama gambar revisinya.
Dyah: Iya. Eh, bokapnya Floris kerja apa?
Aruna: Dulu guru pertukangan kayu. Sekarang sudah pensiun.
Dyah: Wah, cocok sama bokap lo, dong. Sama-sama orang kayu.
Aruna: Harusnya. Tapi Bapak kalau ketemu orang baru cuma bilang "hm".
Dyah: Ya udah, biar kayunya yang ngomong. Ajak aja ke bengkel.
Aruna: Kalau Bapak mau. Bengkelnya lagi ada barang yang ditutup terpal. Nggak ada yang boleh lihat.
Dyah: Misterius. Gue suka bokap lo.
Rabu malam, dapur rumah Ngaglik.
Ibu duduk di dingklik dekat kompor, ponsel di tangan, kacamata baca di ujung hidung. Aruna sedang mencuci gelas.
Ibu: Nduk, Mas Floris katanya mau kirim voice note. Kok belum ada?
Aruna: Baru jam delapan, Bu. Dia baru pulang kantor.
Ibu: Ibu sudah siap dari jam tujuh.
Gani masuk ke dapur, membuka kulkas, dan mengambil tempe goreng dingin.
Gani: Ibu mau les English? Sama Mas Floris? Let's go!
Ibu: Kamu diam. Kamu juga belum tentu bisa.
Gani: Aku bisa, Bu. Aku main game tiap malam sama orang Australia.
Ibu: Main game itu bukan belajar.
Gani: Belajar juga, Bu. Belajar kalah.
Ibu: Nduk, nanti ibunya Floris kalau ke dapur, Ibu kasih apa? Teh? Kopi?
Aruna: Teh manis, Bu. Floris bilang ibunya suka teh manis.
Ibu: Pakai gula batu atau gula pasir?
Aruna: Bu, yang penting manis. Dia nggak akan nanya gulanya.
Ibu: Kamu nggak tahu. Orang perpustakaan itu teliti.
Ponsel Ibu berbunyi. Ibu hampir menjatuhkannya.
Ibu: Datang! Datang! Nduk, pencet yang mana?
Aruna menekan tombol putar. Suara Floris terdengar pelan dan jelas, seperti guru yang sabar.
Floris: Selamat malam, Ibu. Ini tiga kalimat untuk malam ini. Satu: Welcome to our home. Dua: Please, sit down. Tiga: Are you hungry? Selamat belajar, Bu. Pelan-pelan, ya.
Ibu: Wel-kam… tu… awer hom.
Aruna: Our home. Pelan, Bu. Aur hom.
Ibu: Awer hom.
Gani: Bu, itu kayak "ayam".
Ibu: Diam kamu. Wel-kam tu awer hom. Pliis, sit daun.
Aruna: Bagus, Bu. Sit down.
Ibu: Sit daun. Ar yu hanggri?
Gani: Are you hungry? Gampang itu, Bu.
Aruna merekam suara Ibu dan Gani, lalu mengirimnya ke Floris. Tidak sampai satu menit, Floris menelepon. Aruna menyalakan pengeras suara.
Floris: Ibu, bagus sekali. Sangat jelas.
Ibu: Beneran, Mas? Nggak bohong?
Floris: Tidak, Bu. Tapi Gani…
Gani: Aku kenapa?
Floris: It's "hungry," not "angry." You said "Are you angry?"
Aruna tertawa sampai harus bersandar di meja.
Gani: No way. Masa sih?
Floris: Listen. Hun-gry.
Gani: Hungry. Oke, oke.
Aruna: Dia tanya tamu marah atau nggak, Bu.
Ibu: Lha, itu yang game Australia?
Gani: Bu…
Ibu mengulang tiga kalimat itu sekali lagi, lebih lancar. Lalu ia menatap ponsel dengan wajah serius.
Ibu: Mas Floris. Tiga itu sedikit. Tambah satu.
Floris: Tambah, Bu?
Ibu: Iya. Bahasa Inggrisnya "satu lagi" apa?
Floris: One more, please.
Ibu: One more, please.
Floris: Ibu baru saja minta satu lagi dalam bahasa Inggris, Bu.
Ibu: Lho, iya? Ya sudah, itu yang keempat.
Aruna: She's going to be better than me.
Floris: She already is. Selamat tidur, Bu.
Ibu menulis empat kalimat itu di kertas bekas bungkus gula, pakai ejaan buatannya sendiri, lalu menempelkannya di pintu kulkas dengan magnet berbentuk nanas.
Bapak masuk dari pintu samping, bau serutan kayu masih menempel di bajunya. Ia berhenti di depan kulkas dan membaca kertas itu lama.
Bapak: Ini apa?
Ibu: Pelajaran, Pak. Dari Mas Floris. Tiap malam tiga kalimat.
Bapak: Hm.
Ibu: Bapak mau ikut? Satu aja.
Bapak: Nggak usah. Aku sudah bisa "okay".
Gani: Itu satu kata, Pak.
Bapak: Cukup.
Bapak mengambil segelas air, lalu kembali ke bengkel. Gani menatap kakaknya.
Gani: Mbak, Bapak barusan bercanda, ya?
Aruna: Kayaknya iya. Baru sadar sekarang.
Jumat, bakda maghrib, masjid kampung.
Aruna menunggu di teras masjid sambil memegang mukena yang sudah dilipat. Pak Mahfud keluar paling akhir, merapikan sandal-sandal jamaah yang berantakan.
Pak Mahfud: Mbak Aruna. Mas Floris nggak ikut jamaah hari ini?
Aruna: Masih di kantor, Pak. Ada rapat.
Pak Mahfud: Katanya orang tuanya mau datang, ya? Kapan?
Aruna: Dua minggu lagi, Pak. Jumat.
Pak Mahfud: Wah. Nanti kalau berkenan, ajak mampir ke masjid. Saya mau salaman. Mas Floris itu jamaah yang rajin. Orang tuanya pasti orang baik.
Aruna: Insya Allah, Pak. Terima kasih.
Pak Mahfud: Nggak usah repot. Cukup kenalan. Teh manis di sini juga ada.
Aruna: Mereka nggak bisa bahasa Indonesia, Pak. Nanti saya yang menerjemahkan.
Pak Mahfud: Senyum itu nggak perlu diterjemahkan, Mbak. Salam juga.
Aruna: Iya, Pak.
Pak Mahfud: Bapakmu gimana? Sudah siap?
Aruna: Bapak di bengkel terus, Pak. Nggak banyak ngomong.
Pak Mahfud: Bapakmu memang begitu dari dulu. Tapi kalau subuh, dia yang datang paling awal. Orang yang begitu biasanya mikirnya panjang.
Aruna tersenyum dan mencatat di kepalanya: kolom hari kelima, masjid, teh manis.
Sabtu malam, teras rumah.
Floris datang tanpa martabak kali ini, tapi membawa laptop. Kepalanya selamat dari kusen karena ia sudah menunduk dari halaman. Adiknya, Lieke, minta video call.
Lieke: Hi! Is this Aruna? Finally!
Aruna: Hi, Lieke. Nice to finally see you properly.
Lieke: Same! Floris shows me photos, but he's terrible at taking them.
Floris: Hey. I'm right here.
Lieke: I know. That's why I said it.
Aruna tertawa. Lieke berambut pendek, duduk di sofa dengan secangkir teh di tangan.
Aruna: How are your parents? Are they ready?
Lieke: Ready? Mum's been packing for two weeks.
Floris: Two weeks? They're leaving in two weeks.
Lieke: Exactly. She packs, she unpacks, she packs again. Dad just watches.
Aruna: What does she pack?
Lieke: Presents, mostly. And an old tin box. She won't tell me what's inside.
Floris: A tin box?
Lieke: Don't ask me. Ask her.
Aruna melirik Floris. Floris mengangkat bahu, sama bingungnya.
Lieke: Aruna, one thing. Dad asks a lot of questions. Don't take it personally.
Aruna: What kind of questions?
Lieke: All kinds. He asked my boyfriend how much his bike cost. On the first day.
Aruna: Okay. Good to know.
Floris: Pakde kamu dan ayahku. Satu meja. Bayangkan.
Aruna: Jangan dibayangkan. Aku sudah pusing.
Lieke: Hello? English, please.
Floris: Nothing. Family stuff.
Lieke: Classic Floris. Okay, I have to go. Good luck with the parents!
Layar gelap. Dari dapur terdengar suara Ibu berlatih sendiri, pelan, di depan kulkas.
Ibu: Ar yu hanggri… Ar yu hanggri…
Floris: She's practising.
Aruna: Every night now. She won't go to sleep without her three sentences.
Floris: Four. She always asks for one more.
Aruna: What if she says it to the wrong person? Like the taxi driver?
Floris: Then the taxi driver gets a very warm welcome.
Aruna: I'm serious. What if your mum doesn't understand her?
Floris: Mum will understand. She'll cry a little, but she'll understand.
Aruna: Nangis?
Floris: Happy crying. She does that at weddings, birthdays, and good soup.
Aruna: Noted. I'll warn my mother about the soup.
Floris: Ibu kamu masak sop juga?
Aruna: Sop, lodeh, gudeg, bacem. Ibu sudah bikin daftar menu dua halaman. Semua ada tanda "tidak pedas" pakai pulpen merah.
Floris: Dua halaman? Untuk dua orang?
Aruna: Untuk dua orang dan satu kampung. Kamu belum kenal Ibu kalau lagi senang.
Aruna: Bapak sudah dengar belum?
Floris: Bapak di bengkel. Radio nyala. Terpalnya masih ada.
Aruna membuka laptop Floris untuk mengecek email kantor, lalu berhenti. Ada email baru di kotak masuk Floris, dikirim ke mereka berdua. Dari Marijke.
Floris: Read it. Out loud, please.
Aruna: Dear Aruna and Floris. We're so excited. The suitcases are almost ready.
Floris: Almost. For two weeks.
Aruna: Ssst. Masih ada. One question, and please be honest.
Aruna menggulir ke bawah. Kalimat terakhir ditulis dengan huruf besar di tengahnya.
Aruna: Is there anything we should NOT do?
Floris menunggu. Aruna menatap layar lama sekali. Di kepalanya ada tabel dua belas kolom, dan tiba-tiba semua kolom itu terasa kosong. Ia tidak tahu harus mulai dari mana.
Quick Meaning
- Welcome to our home. — Selamat datang di rumah kami.
- Are you hungry? — Kamu lapar?
- One more, please. — Satu lagi, ya.
- Don't take it personally. — Jangan dimasukkan ke hati.
- Good to know. — Bagus, jadi tahu.
Natural Phrase
- Sure it is. — "iya, iya", setuju sambil meledek.
- Finally! — "akhirnya!", senang setelah lama menunggu.
- Family stuff. — "urusan keluarga", cara halus tidak menjelaskan.
Pakai Besok
Saat menyiapkan kedatangan tamu dari luar negeri:
- Welcome to our home. Please, sit down. — Selamat datang. Silakan duduk.
- Are you hungry? — Sudah lapar?
- Is there anything you can't eat? — Ada makanan yang tidak bisa dimakan?
- How's the plan going? — Rencananya bagaimana?
- Nice to finally see you properly. — Senang akhirnya bisa ketemu (di layar) dengan jelas.
One Line to Remember
One more, please.
Comprehension Check
- Apa tiga kalimat pertama dari voice note Floris?
- Kesalahan apa yang dibuat Gani, dan apa artinya?
- Apa yang Pak Mahfud tawarkan kepada Aruna?
- Apa yang Lieke ceritakan tentang ibunya dan kotak kaleng?
Prediction Prompt
Kalau kamu Aruna, apa hal pertama yang akan kamu tulis sebagai jawaban email Marijke?
Next Chapter Hook
Jumat siang di YIA, Ibu sudah hafal empat kalimat. Masalahnya, ia belum tahu kapan harus memakainya.