🎁 Bab 1–3 gratis di semua buku
BAB 3 · English ±40%

Jemput di YIA

Kalimat berwarna biru adalah bahasa Inggris. Baca pelan-pelan, artinya ada di bagian bawah bab.

Recap

Ibu belajar tiga kalimat English tiap malam dari voice note Floris, dan selalu minta satu lagi. Email Marijke bertanya apa yang sebaiknya tidak mereka lakukan.

Jumat siang. Gani menyetir mobil pinjaman Pakde; lutut Floris hampir menyentuh dasbor.

Ibu: Nduk, Bapak kok nggak ikut, to?

Aruna: Katanya ada pesanan kusen, Bu.

Ibu: Pesanan kusen hari Jumat? Kusen siapa?

Aruna: Tanya Bapak sendiri.

Ibu: Bapakmu itu. Tamu jauh-jauh datang, dia milih kusen.

Aruna: Mungkin Bapak juga deg-degan, Bu.

Ibu: Bapak? Deg-degan? Bapak itu deg-degan cuma kalau lemnya nggak kering.

Gani: Mbak, kertasnya sudah jadi. Lihat.

Karton putih bertuliskan HAZEVELD, penuh gambar pesawat dan bunga.

Aruna: Gani. Ini kayak undangan ulang tahun anak TK.

Gani: It's called branding, Mbak.

Floris: Saya suka. Ibu saya pasti suka sekali.

Aruna: Tuh, kan. Kamu selalu belain dia.

Floris: Saya hanya jujur, Aruna.

Ibu: Mas Floris, nanti ibumu Ibu panggil apa? Bu Marijke? Mbak Marijke?

Floris: Marijke saja, Bu. Di Belanda biasa panggil nama.

Ibu: Lho, nggak sopan to, Mas. Dia lebih tua dari Ibu.

Floris: Enam tahun, Bu. Tapi beliau akan senang dipanggil nama.

Ibu: Ibu panggil Bu Marijke. Titik. Bapakmu Pak Geert.

Gani: Pakde tadi manggil "Pak Bule", Bu.

Ibu: Pakde itu jangan ditiru. Awas kamu ikut-ikutan.

Floris: Tidak apa-apa, Bu. Ayah saya pernah dipanggil lebih aneh. Murid-muridnya memanggil beliau "Si Kapak".

Gani: Kapak? Kenapa, Mas?

Floris: Karena beliau selalu bilang, kalau tidak bisa pakai kapak dengan benar, jangan sentuh kayu yang mahal.

Ibu: Wah, cocok sama Bapak. Bapak juga begitu. Gani nggak boleh pegang pahat sampai SMA.

Gani: Sampai sekarang juga belum boleh, Bu.

Aruna: Karena kamu pernah motong meja pesanan orang.

Gani: Itu kecelakaan, Mbak. Mejanya yang goyang.

Ibu: Mejanya nggak goyang. Tanganmu yang goyang.

Floris: Gani, nanti ayah saya pasti mau lihat tangan kamu. Beliau selalu lihat tangan orang dulu.

Gani: Waduh. Aku cuci tangan dulu, deh.

YIA siang itu ramai. Mereka berdiri di depan pintu kedatangan bersama puluhan orang lain yang juga memegang kertas nama. Ibu merapikan kerudung tiga kali, lalu membuka kertas kecil dari saku.

Ibu: Wel-kam tu awer hom. Pliis, sit daun. Ar yu hanggri.

Gani: Bu, masih di bandara. Belum di rumah.

Ibu: Ibu latihan, Le. Diam.

Gani: Bu, nanti kalau mereka jawab panjang, gimana?

Ibu: Ibu senyum saja. Senyum itu bahasa semua orang.

Gani: Kata siapa?

Ibu: Kata Pak Mahfud. Kemarin di pengajian.

Floris melihat layar kedatangan. Ia menggosok telapak tangan ke celana.

Ibu: Mas Floris, kok pucat? Sudah makan?

Floris: Sudah, Bu. Saya hanya… sedikit deg-degan.

Ibu: Ketemu orang tua sendiri kok deg-degan.

Floris: Sudah dua tahun, Bu. Terakhir ketemu sebelum saya masuk Islam.

Aruna: Kamu oke?

Floris: What if Dad's still…

Ia tidak melanjutkan. Aruna menggenggam tangannya sebentar.

Aruna: Kalau masih, kita hadapi bareng. Satu-satu.

Pintu otomatis terbuka. Seorang laki-laki tinggi berambut abu-abu mendorong troli dengan dua koper besar. Di sebelahnya, perempuan berkacamata membawa tas jinjing bunga-bunga.

Gani: There they are!

Marijke: Floris! Oh, Floris!

Marijke memeluk Floris lama sekali. Geert menunggu, lalu memeluk anaknya dengan satu tangan dan menepuk punggungnya dua kali.

Geert: You look thinner.

Floris: Hi, Dad. Nice to see you too.

Geert: I said you look thinner. That's hello.

Marijke berbalik ke Ibu dengan kedua tangan terbuka, siap mencium pipi. Pada saat yang sama, Ibu mengulurkan tangan kanan untuk salim. Tangan Ibu tertabrak bahu Marijke. Kacamata Marijke miring.

Marijke: Oh! Oh, I'm so sorry — how do you do it here?

Aruna: It's okay. We usually shake hands, like this.

Aruna menunjukkan salim pelan-pelan dengan Ibu. Marijke memperhatikan, lalu mencoba. Ibu menyambut tangannya, lalu tertawa dan memeluknya juga.

Ibu: Wis, wis. Peluk saja. Sama saja.

Marijke: What did she say?

Aruna: She says a hug works too.

Marijke: Oh, lovely.

Ibu menegakkan badan, menarik napas, dan menatap Marijke.

Ibu: Welcome… to our… home.

Hening sebentar. Lalu Gani tertawa, Floris tertawa, dan Marijke tertawa paling keras.

Marijke: Thank you! It's a lovely home. Very big. Lots of planes.

Ibu: Lho, salah, ya? Aduh, Gusti.

Aruna: Nggak salah, Bu. Cuma kecepetan.

Ibu: Wis, wis. Nanti diulang di rumah.

Geert menjabat tangan Gani, lalu melihat karton di tangannya.

Geert: Did you make this?

Gani: Yes, sir. Is it too much?

Geert: The plane is good. The flower is too much.

Gani: Noted, sir.

Mereka berjalan ke parkiran. Geert terus melihat ke atap dan tiang.

Di mobil, Geert duduk di depan karena kakinya panjang. Floris duduk terlipat di antara Marijke dan Ibu; Aruna di belakang dengan koper kecil di pangkuan.

Aruna: How was the flight?

Marijke: Long. But fine. I watched three films and cried at two.

Floris: Only two? That's a record.

Geert: I slept. Then I ate something. No idea what.

Gani: Airplane food, sir. Nobody knows.

Geert: Ha. That's true.

Mobil keluar dari bandara. Sawah hijau terbentang di kanan-kiri jalan. Geert menunjuk ke luar jendela.

Geert: What's that? Rice?

Aruna: Yes. Rice fields.

Geert: How many times a year?

Aruna: Usually two or three. It depends on the water.

Geert: Floris, is that your job? The water?

Floris: Kind of, Dad. Irrigation. I told you.

Geert: You told me. I didn't listen.

Ibu mencondongkan badan ke Aruna.

Ibu: Nduk, bapaknya nanya apa?

Aruna: Soal sawah, Bu.

Ibu: Bilang, sawahnya Pakde panen bulan depan.

Gani: Iya, Bu. Pakde yang punya mobil ini juga.

Geert: Sorry? What's that?

Ibu: Sawahnya Pakde, Pak. Panen. Bulan depan.

Gani: Mobil ini juga punya Pakde, Pak.

Geert menoleh ke Floris. Marijke tersenyum, tapi matanya bingung, bolak-balik dari Ibu ke Gani. Ia memegang tas jinjingnya lebih erat. Aruna melihat itu dari belakang.

Aruna: Sorry. They're talking about my uncle's rice field. And this is his car.

Marijke: Oh. Oh, that's kind of him.

Floris menoleh ke belakang, ke Aruna. Aruna tahu arti tatapan itu.

Floris: Can I say something?

Aruna: Go ahead.

Floris: When Mum and Dad are with us, let's use English. At the table, in the car. Everyone.

Aruna: So nobody feels left out.

Floris: Exactly.

Aruna: Bu, Gani. Mulai sekarang, kalau ada Pak Geert dan Bu Marijke, ngobrolnya pakai English, ya. Biar mereka nggak merasa diomongin.

Gani: Siap. Satu meja, satu bahasa.

Ibu: Ibu cuma bisa empat kalimat.

Aruna: Nggak apa-apa, Bu. Coba aja. Nanti aku bantu.

Ibu: Kalau Bapak?

Aruna: Bapak pakai bahasa Bapak. Aku yang menerjemahkan.

Marijke: What are you deciding back there?

Aruna: A new rule. When you're in the room, we speak English. My mother will try. My father… I'll translate for him.

Marijke menatap Ibu, lalu menggenggam tangannya.

Marijke: Oh, dear. You don't have to. But thank you.

Ibu tidak mengerti kata-katanya, tapi mengerti genggamannya. Ia balas menggenggam.

Ibu: Are you hungry?

Marijke: Starving, actually.

Ibu: Nduk, "starving" itu apa?

Aruna: Very hungry. Lapar banget, Bu.

Ibu: Nah! Kebetulan. Gani, mampir beli bakpia dulu.

Geert: Is that a mountain? Over there?

Aruna: Merapi. You can't see it today. Too many clouds.

Geert: Is it active?

Aruna: Yes. But it's far from the house. Don't worry.

Geert: I'm not worried. I'm interested.

Floris: That's his way of saying he's a bit worried.

Tidak lama kemudian, Geert tertidur dengan kepala bersandar ke jendela. Marijke ikut memejamkan mata. Mobil terasa lebih sunyi.

Gani: (berbisik) Mbak, aturannya masih berlaku kalau mereka tidur?

Aruna: Nggak. Kalau tidur boleh bahasa Indonesia.

Ibu: Nduk, ibunya baik sekali. Tangannya halus.

Aruna: Iya, Bu. Ibu tadi hebat.

Ibu: Hebat apa? Ibu bilang selamat datang di bandara.

Floris: Itu yang paling hangat, Bu. Ibu saya akan cerita itu ke semua teman paduan suaranya.

Ibu: Aduh, Gusti. Malu.

Gani: Mas, bapaknya Mas galak nggak?

Floris: Tidak galak. Hanya… jujur. Terlalu jujur.

Gani: Kayak Bapak, tapi ngomong.

Floris: Iya. Persis.

Ibu: Mas, nanti malam mereka makan apa? Ibu sudah masak sayur bening, nggak pedas sama sekali. Tempe goreng juga.

Floris: Mereka pasti sudah capek, Bu. Mungkin tidur saja.

Ibu: Tidur tanpa makan? Nggak boleh. Gani, nanti antar rantang ke Omah Srikaya.

Gani: Siap, Bu. Tapi aku ikut makan di sana, ya.

Ibu: Terserah. Yang penting tamunya makan dulu.

Aruna melihat Floris tersenyum kecil ke arah ayahnya yang tertidur.

Satu jam lebih kemudian, mobil berhenti di depan Omah Srikaya. Rumah joglo kecil dengan pohon srikaya di halaman dan kursi rotan di teras. Seorang perempuan muda menyambut mereka di meja depan.

Resepsionis: Selamat sore. Atas nama Hazeveld, ya?

Floris: Betul, Mbak. Dua orang. Hampir dua minggu.

Resepsionis: Ini kuncinya. Sarapan jam enam sampai jam sembilan. Password internet di kartu.

Floris: Breakfast is from six, Dad.

Geert: Six? That's early.

Floris: Dad, the mosque wakes up earlier than that.

Geert: Then I'll wake up with the mosque.

Gani membantu mengangkat koper ke kamar. Floris membentur kusen pintu kamar. Geert, di belakangnya, membentur kusen yang sama.

Gani: Like father, like son.

Geert: Nou. The doors here are small.

Floris: Told you, Dad.

Sebelum mereka pamit, Marijke membuka tas jinjingnya. Ia mengeluarkan kotak kaleng tua bergambar bunga mawar, catnya sudah pudar di sudut-sudut. Ia memberikannya kepada Aruna dengan dua tangan.

Aruna: What is this?

Marijke: From my grandmother.

Aruna: Can I open it now?

Marijke menggeleng dan meletakkan tangannya di atas tutup kaleng, di atas tangan Aruna.

Marijke: Open it with your mother. Not before.

Quick Meaning

  • How was the flight? — Bagaimana penerbangannya?
  • How do you do it here? — Di sini biasanya bagaimana?
  • Starving, actually. — Sebenarnya lapar sekali.
  • So nobody feels left out. — Supaya tidak ada yang merasa ditinggal.
  • Here's your key. — Ini kuncinya.

Natural Phrase

  • Nice to see you too. — balasan "senang ketemu juga", kadang sambil menyindir halus.
  • Noted. — "dicatat", menerima kritik dengan santai.
  • Like father, like son. — "buah jatuh tak jauh dari pohonnya".

Pakai Besok

Saat menjemput tamu di bandara:

  • How was the flight? — Bagaimana penerbangannya?
  • Here, let me take that. — Sini, biar saya bawakan.
  • We usually shake hands, like this. — Di sini biasanya salaman, begini.
  • Are you hungry? We can stop on the way. — Lapar? Kita bisa mampir di jalan.
  • It's about an hour to the house. — Ke rumah sekitar satu jam.

One Line to Remember

So nobody feels left out.

Comprehension Check

  • Kenapa Bapak tidak ikut menjemput, dan apa yang Aruna pikirkan soal alasannya?
  • Apa yang terjadi saat Marijke dan Ibu pertama kali bersalaman?
  • Kenapa semua tertawa ketika Ibu berkata "Welcome to our home"?
  • Apa itu aturan satu meja, dan kenapa lahir di mobil?

Prediction Prompt

Apa isi kotak kaleng bergambar mawar itu? Kenapa Marijke ingin Aruna membukanya bersama Ibu?

Next Chapter Hook

Besok malam, makan malam pertama. Pakde dan Bulik datang. Dan aturan satu meja akan diuji di atas tikar.