Kabar dari Deventer
Minggu malam, bakda maghrib. Aruna sedang menata piring di tikar ruang tengah ketika ponselnya bergetar.
Floris: I'm outside. Martabak aman.
Aruna: Masuk aja. Pintunya nggak dikunci.
Floris: I know. I'm just… breathing first.
Aruna tersenyum sendiri dan menyimpan ponsel ke saku. Dari teras terdengar salam yang terlalu rapi.
Floris: Assalamualaikum. Selamat malam, Bapak, Ibu.
Ibu: Waalaikumsalam! Mas Floris, ayo masuk, masuk.
Terdengar bunyi tumpul. Floris memegangi dahinya di bawah kusen pintu.
Aruna: Again?
Floris: Again. Pintunya masih pendek.
Gani: Pintunya nggak pendek, Mas. Mas-nya yang ketinggian.
Floris: Terima kasih atas penjelasannya, Gani.
Gani: You're welcome, bro.
Ibu mengambil kotak martabak dari tangan Floris dan langsung membukanya.
Ibu: Aduh, Mas, kok repot-repot. Keju cokelat lagi?
Floris: Iya, Bu. Kata Aruna, Ibu suka yang keju cokelat.
Ibu: Aruna itu bohong. Yang suka keju cokelat itu Aruna.
Aruna: Ibu juga suka. Tiap Floris bawa, yang habis duluan bagian Ibu.
Ibu: Wis, wis. Duduk, Mas. Makan dulu.
Floris duduk bersila dengan hati-hati, lututnya hampir menyentuh piring. Bapak keluar dari kamar dengan sarung dan peci, lalu duduk di ujung tikar.
Floris: Tadi saya jamaah maghrib di masjid, Pak. Pak Mahfud titip salam.
Bapak: Hm. Wa'alaikumsalam.
Floris: Beliau bilang bacaan saya sudah lebih baik.
Bapak: Pak Mahfud memang baik orangnya.
Gani menahan tawa. Aruna menendang kakinya pelan di bawah tikar.
Mereka makan. Ibu terus menambahkan lauk ke piring Floris sebelum piring itu sempat kosong.
Ibu: Tambah, Mas. Bacemnya masih banyak.
Floris: Saya sudah kenyang sekali, Bu. Terima kasih banyak.
Ibu: Kenyang itu kalau sudah dua piring.
Floris menoleh ke Aruna.
Floris: Is this a test?
Aruna: Kind of. Ambil sedikit aja.
Floris: Okay, okay. Sedikit saja, Bu.
Ibu tersenyum puas dan menaruh sepotong ayam lagi. Bukan sedikit.
Setelah piring-piring dipinggirkan, Floris berdehem. Aruna tahu suara itu. Suara orang yang sudah latihan di depan cermin.
Floris: Bapak, Ibu. Saya mau menyampaikan kabar.
Ibu: Kabar apa, Mas? Kabar baik?
Floris: Kabar baik, Insya Allah. Orang tua saya akan datang ke Yogya.
Ibu: Ke sini? Kapan?
Floris: Tiga minggu lagi, Bu. Dua belas hari.
Ibu: Tiga minggu?
Aruna: Three weeks? Kamu bilang tahun depan.
Floris: I know. Mum changed her mind. Katanya dia tidak mau menunggu lagi.
Ibu: Aduh, Gusti. Tiga minggu. Masak apa aku?
Aruna: Bu, masih lama.
Ibu: Tiga minggu itu sebentar, Nduk. Orang Belanda makannya apa? Bisa makan gudeg? Kalau pedas bagaimana?
Floris: Bisa, Bu. Ayah saya makan apa saja. Ibu saya… tidak kuat pedas.
Ibu: Sama sekali?
Floris: Sama sekali, Bu.
Gani: No way. Terus sambal Ibu buat siapa?
Ibu: Buat kamu. Diam.
Gani: Okay, okay. Aku diam.
Floris: Mereka ingin bertemu Bapak dan Ibu. Mereka ingin… saya cari katanya. Mereka ingin kenal keluarga ini dengan benar.
Semua menoleh ke Bapak. Bapak meneguk teh, lalu meletakkan gelas pelan-pelan.
Bapak: Hm.
Hanya itu. Floris melirik Aruna. Aruna mengangkat bahu sedikit.
Floris: Sebenarnya… mereka mau video call sekarang, Pak. Kalau Bapak berkenan. Di sana masih siang.
Ibu: Sekarang? Aku belum ganti baju!
Aruna: Bu, cuma di HP.
Ibu: Justru di HP kelihatan jelas!
Ibu buru-buru ke kamar dan kembali dengan kerudung yang lebih rapi. Floris menyandarkan ponselnya ke toples kerupuk. Di layar, seorang laki-laki tinggi berambut abu-abu dan seorang perempuan berkacamata duduk berdempetan.
Marijke: Hello! Oh, hello, everyone!
Geert: Is it working? Can they see us?
Floris: Yes, Dad. We can see you.
Marijke: Hello, dear. Hello, Aruna!
Aruna: Hi, Marijke. Hi, Geert. How are you?
Marijke: We're fine, we're fine. We're excited!
Geert mendekatkan wajahnya ke kamera sampai yang terlihat hanya hidungnya.
Geert: Where's your father? I want to see him.
Aruna menggeser ponsel sedikit ke arah Bapak. Bapak duduk tegak dan mengangguk sekali ke layar.
Aruna: This is my father. And my mother.
Ibu melambaikan tangan dengan dua tangan sekaligus.
Ibu: Halo! Halo! Sehat, Bu? Sehat, Pak?
Marijke: Sorry?
Aruna: She's asking if you're well.
Marijke: Oh! Yes, thank you! We're very well!
Ibu: Dia bilang apa, Nduk?
Aruna: Katanya sehat, Bu. Terima kasih.
Ibu: Alhamdulillah.
Geert: So. We're coming in three weeks. Is that okay with your parents?
Aruna menoleh ke Bapak.
Aruna: Pak, katanya mereka datang tiga minggu lagi. Apa Bapak dan Ibu tidak keberatan?
Ibu: Tidak, tidak! Kami senang sekali!
Semua menunggu Bapak. Bapak memandangi layar cukup lama.
Bapak: Kayu itu nggak bisa diburu-buru.
Aruna diam sebentar. Floris menatapnya.
Aruna: Give me a second.
Geert: Take your time.
Aruna: My father says… you're welcome here.
Gani menoleh cepat ke kakaknya. Aruna pura-pura tidak melihat.
Marijke: Oh, that's lovely. Thank you!
Geert: Tell him thank you. Tell him I've heard about his workshop.
Aruna: Pak, katanya dia sudah dengar soal bengkel Bapak.
Bapak: Dari siapa?
Floris: Dari saya, Pak. Maaf.
Bapak: Hm.
Geert: What did he say?
Floris: He said "hm."
Geert: What does "hm" mean?
Floris: I'm still working on that, Dad.
Gani tertawa sampai terbatuk. Ibu memukul lengannya pelan.
Marijke: Aruna, dear, is it very hot there now?
Aruna: Hot in the afternoon. It rains a lot in the evening.
Marijke: Should I bring an umbrella?
Floris: Bring two. Dad always loses his.
Geert: I lost one umbrella. One. In twenty years.
Floris: Three, Dad. Mum counted.
Marijke: I did count.
Ibu: Mereka ngomongin apa, Nduk? Kok ketawa?
Aruna: Soal payung, Bu. Bapaknya Floris suka lupa payung.
Ibu: Sama kayak Bapak.
Marijke: What should we bring? Anything your mother likes?
Aruna: Bu, dia tanya Ibu mau dibawakan apa.
Ibu: Aduh, jangan repot-repot. Bilang nggak usah.
Aruna: She says you don't need to bring anything.
Floris: That means bring something.
Aruna: Floris!
Floris: What? It's true.
Marijke tertawa. Di belakangnya, Geert melihat jam dinding.
Geert: We should go. It's lunchtime here.
Marijke: See you soon, everyone. Three weeks!
Aruna: See you soon. Have a good lunch.
Ibu: Dadah! Dadah!
Layar menjadi gelap. Tidak ada yang bicara beberapa detik.
Ibu: Ibunya ramah sekali. Bapaknya tinggi sekali.
Gani: Mas Floris versi abu-abu.
Floris: Fair.
Ibu: Nduk, besok kita catat menunya. Gudeg kering, lodeh, bacem. Terus kamar tamu kita…
Aruna: Mereka menginap di guesthouse, Bu. Omah Srikaya, sepuluh menit dari sini. Sudah aku cek.
Ibu: Sudah kamu cek? Kapan?
Aruna: Tadi siang. Sambil nunggu Floris.
Floris: You already booked it?
Aruna: Not yet. Just checked. Oke. Satu-satu.
Gani: Mbak kalau panik bikin daftar.
Aruna: Aku nggak panik.
Gani: Sure.
Gani: Mbak, nanti kalau sudah nikah, Mbak pindah ke Belanda?
Aruna: Siapa yang bilang?
Gani: Nggak ada. Aku cuma tanya. Kamar Mbak di loteng boleh buat aku?
Aruna: Absolutely not. Kamar itu tetap kamarku.
Gani: Kalau Mbak di Belanda, kamarnya kosong. Sayang, kan?
Ibu: Le, jangan ngomong begitu. Mbakmu belum ke mana-mana.
Floris: Kami tinggal di Yogya, Gani. Kantor saya di sini. Kantor Aruna juga di sini.
Gani: Sekarang. Nanti?
Floris: Nanti kita bicara lagi. Pelan-pelan, ya.
Gani: That's not a no.
Aruna: Gani.
Gani: Okay, okay. Aku cuci piring.
Ia mengangkat tumpukan piring dan menghilang ke dapur. Ibu menggeser duduknya mendekati Floris.
Ibu: Mas Floris, ibumu itu sukanya apa? Masak? Jalan-jalan? Belanja?
Floris: Ibu saya suka dapur, Bu. Dan buku. Dulu beliau kerja di perpustakaan.
Ibu: Perpustakaan? Wah, pintar berarti. Aku nanti ngomong apa sama dia? Aku nggak bisa English sama sekali.
Floris: Tidak apa-apa, Bu. Ibu saya juga tidak bisa bahasa Indonesia.
Ibu: Terus kita ngobrol pakai apa? Pakai tangan?
Aruna: Pakai aku, Bu. Aku yang menerjemahkan.
Ibu: Kamu kan nggak bisa ikut ke dapur terus. Kamu kerja.
Aruna: Aku ambil cuti beberapa hari.
Floris: You're taking leave? Kamu bilang proyek balai warga lagi sibuk.
Aruna: I'll figure it out. Mbak Dyah bisa pegang dulu.
Ibu: Nduk, ajari Ibu sedikit. Yang penting-penting saja. Kalau dia datang, Ibu bilang apa?
Aruna: Nanti, Bu. Minggu ini aku bikin daftarnya.
Ibu: Jangan nanti. Sekarang satu.
Aruna menatap Floris. Floris tersenyum.
Floris: Welcome. Bu, coba: welcome.
Ibu: Wel… kam.
Floris: Bagus sekali, Bu. Artinya "selamat datang".
Ibu: Wel-kam. Gampang itu. Apa lagi?
Aruna: Satu dulu, Bu. Besok lagi.
Ibu: Besok kamu lupa. Kamu kalau sibuk lupa semuanya.
Floris: Saya bisa kirim lewat voice note, Bu. Setiap malam.
Ibu: Mas Floris memang baik. Nggak kayak anakku.
Aruna: Wow. Thanks, Mum.
Ibu tertawa dan menepuk lutut Aruna. Floris ikut tertawa, tapi matanya kembali ke kursi Bapak yang kosong di ujung tikar.
Floris: Aruna, Bapak tidak bilang apa-apa tadi.
Aruna: Bapak memang begitu. Jangan dipikirin.
Floris: I'm thinking about it.
Floris menoleh ke Bapak lagi.
Floris: Pak, kalau Bapak ada waktu, ayah saya ingin sekali melihat bengkel Bapak. Beliau dulu guru pertukangan kayu.
Bapak: Guru kayu?
Floris: Iya, Pak. Di sekolah kejuruan. Sudah pensiun.
Bapak mengangguk pelan. Dari jendela samping, lampu bengkel masih menyala. Di pojoknya ada sesuatu yang besar, ditutup terpal biru sejak beberapa bulan lalu. Tidak ada yang tahu isinya.
Aruna: Pak, pesanan yang di pojok itu punya siapa?
Bapak: Pesanan.
Aruna: Pesanan siapa?
Bapak: Orang.
Gani: Classic.
Bapak berdiri, merapikan sarungnya, dan mengambil senter dari atas lemari.
Bapak: Aku ke bengkel sebentar.
Ibu: Malam-malam begini, Pak?
Bapak: Lemnya belum kering.
Ia berjalan keluar tanpa menoleh. Pintu samping berderit, lalu terdengar radio kecil di bengkel dinyalakan.
Floris memandangi pintu itu, lalu mencondongkan badan ke Aruna.
Floris: Is that a yes?
Quick Meaning
- I'm outside. — Aku sudah di luar.
- Is this a test? — Ini ujian ya?
- Give me a second. — Sebentar ya. — minta waktu berpikir
- Take your time. — Santai saja, tidak usah buru-buru.
- That means bring something. — Artinya: bawakan sesuatu.
Natural Phrase
- Okay, okay. — menyerah dengan santai.
- Kind of. — "semacam itu", jawaban setengah ya.
- Fair. — "iya juga", mengakui ledekan yang benar.
Pakai Besok
Saat video call dengan keluarga yang berbeda bahasa:
- Can you see us? — Kelihatan nggak?
- This is my father. And my mother. — Ini ayahku. Dan ibuku.
- She's asking if you're well. — Beliau tanya apakah kamu sehat.
- Give me a second. — Sebentar ya (saat mencari kata).
- See you soon. Have a good lunch. — Sampai ketemu. Selamat makan siang.
One Line to Remember
Is that a yes?
Comprehension Check
- Kabar apa yang dibawa Floris malam itu?
- Apa yang Bapak katakan saat ditanya, dan bagaimana Aruna menerjemahkannya?
- Kenapa Gani menoleh cepat ke kakaknya?
- Menurut Floris, apa arti "nggak usah repot-repot"?
Prediction Prompt
Bapak pergi ke bengkel tanpa menjawab. Menurutmu, apa arti diamnya?
Next Chapter Hook
Tiga minggu. Ibu mulai belajar tiga kalimat English sebelum tidur — dan selalu minta satu lagi.