🎁 Bab 1–3 gratis di semua buku
BAB 2 · English ±35%

Update Dua Menit

Kalimat berwarna biru adalah bahasa Inggris. Baca pelan-pelan, artinya ada di bagian bawah bab.

Recap

Hari pertama Galih dibuka dengan salah jam: ia menunggu rapat jam enam pagi yang ternyata jam enam Berlin. Setelah kickoff, voice message empat menit dari Joana masuk.

Selasa siang, jam satu. Kala tidur di kamar, dan Galih memutar voice message Joana untuk ketiga kalinya. Di buku catatannya baru ada empat kata.

Joana: Okay so— welcome, welcome! I'm Joana, I'm the PM, I'm in Lisbon, and I talk a lot, sorry!

Galih: Sebentar, sebentar… dia ngomong "PM" itu apa?

Arumi: Product manager, Mas. Kamu sendiri yang cerita semalam.

Galih: Oh iya. Bosnya produk.

Joana: So, how we work. Most days we don't meet. Every day, you send a short video update. Two minutes, max. What you did yesterday, what you're doing today, and anything blocking you. That's it! Super easy. And if something's blocking you, just say it. Don't wait for a meeting. Oh, and Wojtek writes his updates. He never shows his face. That's fine too. Whatever works for you.

Galih menekan pause.

Galih: Tiap hari kirim video. Dua menit. Kemarin ngapain, hari ini ngapain, terus ada yang menghambat atau nggak.

Arumi: Gampang, dong. Terus yang terakhir tadi apa?

Galih: Kalau ada yang menghambat, bilang aja. Jangan nunggu rapat.

Arumi: Tuh. Tanya, Mas. Jangan nebak. Orang Lisbon aja setuju.

Galih: Gampang buat dia. Dia ngomongnya kayak kereta.

Joana: Oh, and don't worry about the time. Send it whenever. We'll watch it in our morning. Tudo bem? Ha, sorry, that's Portuguese. It means all good. Okay, bye-bye!

Arumi: Tudo bem. Lucu juga.

Galih: Dia ngasih arti sendiri. Untung.

Arumi: Terus kapan Mas mulai kirim?

Galih: Malam ini. Update pertama.

Arumi: Kenapa nggak sekarang? Kala lagi tidur.

Galih: Belum siap, Dik. Aku mau nulis naskahnya dulu.

Arumi: Naskah? Buat dua menit?

Galih: Buat dua menit.

Sebelum membuka design file, Galih mengetik pesan di team chat. Ia membacanya tiga kali sebelum menekan kirim.

Galih: Hi Joana, thanks for the voice message! Quick question about the update. Should I post it in the team chat, or somewhere else?

Joana: Hi hi! Team chat is perfect. Just drop it in the updates channel. And don't overthink it, okay? Nobody watches them twice. 😅

Galih: Got it. Thank you!

Arumi: "Don't overthink it." Itu kamu banget, Mas.

Galih: Dia belum kenal aku, tapi udah tahu.

Ponselnya berdering. Teguh.

Teguh: Piye, Lih? Hari kedua aman?

Galih: Aman. Tapi aku disuruh bikin video laporan tiap hari. Dua menit.

Teguh: Lho, itu enak. Daripada rapat sejam cuma buat bilang "masih dikerjakan".

Galih: Tapi ngomong ke kamera itu susah, Guh. Nggak ada yang ngangguk.

Teguh: Bayangin aja aku yang nonton. Aku ngangguk terus.

Galih: Kamu ngangguk karena ngantuk.

Teguh: Wis, pokoknya jangan kepanjangan. Kalau lewat dua menit, pasti di-skip.

Galih: Joana juga bilang gitu.

Teguh: Tuh. Aku sama orang Lisbon sepakat.

Sore itu Galih bekerja di design file untuk layar pesanan toko roti. Setiap setengah jam ia berhenti, membuka buku catatan, dan mencoret kalimat yang baru ia tulis.

Jam delapan malam, ruang makan sudah bersih. Laptop berdiri di atas tumpukan dua buku supaya kameranya sejajar mata. Lampu meja diarahkan ke wajah Galih. Arumi duduk di kursi seberang, di luar frame, memegang HP.

Arumi: Aku yang pegang stopwatch.

Galih: Nggak usah, Dik.

Arumi: Harus. Dua menit, Mas. Bukan dua puluh.

Bu Wardani: Mau rekaman apa, Mas Galih? Kok lampunya kayak di studio TV?

Galih: Laporan kerja, Bu. Pakai video.

Bu Wardani: Oalah. Ya sudah, Ibu diam.

Arumi: Siap? Mulai.

Galih: Hi, everyone. Good morning. Or good evening. Eh… it's evening here, but it's morning when you watch. So… good morning. I'm Galih, the new designer. Yesterday was my first day, and… eh… so, a little about Salatiga. It's cool here, because of the mountain.

Arumi: Satu menit. Mas belum ngomong apa-apa.

Galih: Aku lagi pembukaan.

Arumi: Pembukaannya kepanjangan. Mereka udah kenal kamu.

Galih: Let me redo that.

Rekaman kedua lebih pendek.

Galih: Hi, it's Galih. Yesterday I… eh… I opened the brief. And I read it. eh… All of it.

Arumi: Ya iyalah dibaca, Mas. Masa dimakan.

Galih bilang "eh" tujuh kali. Arumi menghitungnya dengan jari.

Arumi: Tujuh "eh". Kayak lagi nyari kunci motor.

Galih: Aku mikir, Dik.

Arumi: Mikirnya sebelum rekam. Pas rekam, ngomong aja.

Rekaman ketiga berjalan bagus sampai menit pertama. Lalu dari kamar terdengar tangisan Kala, keras dan panjang.

Galih: Sorry, hang on. Rum!

Arumi: Mas, itu masih rekam.

Galih: Hah? Aduh.

Arumi masuk kamar. Galih menghapus rekaman ketiga dan menatap wajahnya sendiri di layar.

Bu Wardani lewat membawa segelas air. Ia berhenti di belakang kursi Galih, lalu melambaikan tangan ke kamera.

Bu Wardani: Halo, Bule! Selamat malam!

Galih: Bu, belum mulai, Bu. Tapi nanti jangan, ya.

Bu Wardani: Lho, nggak boleh nyapa? Kasihan, nanti dikira kamu tinggal sendirian.

Galih: Mereka tahu saya punya keluarga, Bu. Kemarin Ibu sudah masuk kamera.

Bu Wardani: Iya, ya. Yang ibu-ibu pakai kopi itu. Salam, ya.

Arumi kembali dengan Kala yang sudah tenang di pundaknya. Ia duduk lagi dan memandangi buku catatan Galih.

Arumi: Coba lihat naskahmu.

Galih: Jangan diketawain.

Arumi: Mas, ini satu halaman penuh. Kamu nulis soal warna tombol, soal font, soal cuaca di Salatiga.

Galih: Biar mereka kenal konteksnya.

Arumi: Mereka minta tiga hal. Kemarin, hari ini, hambatan. Satu kalimat per hal.

Galih: Satu kalimat?

Arumi: Satu kalimat. Aku ngajar anak SMP juga gitu. Kalau jawabannya kepanjangan, intinya hilang.

Galih mengambil kertas baru dan menulis tiga baris saja.

Galih: Yesterday I… Today I'm… I'm blocked on…

Arumi: Nah. Isi titik-titiknya. Kalau nggak ada hambatan, bilang apa?

Galih: Nothing's blocking me. Gitu, kan?

Arumi: Kok tanya aku. Kamu yang kerja di Berlin.

Galih: Di Salatiga, Dik. Kantornya aja yang di Berlin.

Galih: Kemarin aku baca brief dan bikin sketsa layar pesanan. Hari ini aku bikin versi pertama. Hambatannya… teks buat halaman bayar belum ada.

Arumi: Itu yang dibilang. Pakai English-nya.

Galih: Yesterday I read the brief and sketched the order screen.

Arumi: Bagus.

Galih: Today I'm making the first version. Terus yang hambatan gimana, ya? I'm block… I'm blocking…

Arumi: Kok kayak orang main voli.

Galih: I'm blocked. Nah. I'm waiting on the copy for the checkout screen.

Arumi: "Copy" itu apa? Fotokopi?

Galih: Tulisannya, Dik. Kata-kata di layar. Di dunia desain namanya copy.

Arumi: Oh. Pinter juga suamiku.

Galih: Baru sadar?

Arumi: Baru sadar lagi.

Galih: Terus penutupnya gimana? That's all. That's it. Thank you for watching.

Arumi: Yang terakhir kayak penyiar TV.

Galih: That's it. Thanks!

Arumi: Nah, itu. Pendek.

Galih: Okay. Take four.

Rekaman keempat. Kala sudah tertidur di pundak Arumi. Bu Wardani menonton televisi betulan di ruang tengah dengan volume kecil. Arumi mengangkat jempol dan menekan stopwatch.

Galih: Hi, it's Galih. Quick update from me. Yesterday I read the brief and sketched the order screen. Today I'm making the first version in the design file. I'm waiting on the copy for the checkout screen. Other than that, nothing blocking me right now. That's it. Thanks!

Arumi mematikan stopwatch dan menunjukkan layarnya.

Arumi: Tiga puluh delapan detik.

Galih: Serius? Kok pendek banget?

Arumi: Kan disuruh maksimal dua menit, bukan minimal.

Galih: Tapi nanti kesannya aku nggak kerja.

Arumi: Mas, kesannya kamu jelas. Itu beda.

Galih menonton rekamannya sekali. Suaranya terdengar lebih pelan dari yang ia bayangkan, dan di sudut kiri atas terlihat sedikit rambut Arumi.

Galih: Rambutmu masuk.

Arumi: Nggak apa-apa. Anggap aja bonus.

Galih: Kamu kan nggak mau masuk kamera.

Arumi: Wajahku yang nggak mau. Rambutku bebas.

Galih: Kirim sekarang?

Arumi: Kirim sekarang. Sebelum kamu rekam kelima kali.

Jam setengah sepuluh malam, Galih menekan tombol kirim di team chat. Ia menutup laptop, lalu membukanya lagi untuk memastikan videonya benar-benar terkirim.

Arumi: Udah terkirim. Aku lihat centangnya.

Galih: Siapa tahu nyangkut.

Arumi: Tidur, Mas. Besok Kala bangun jam lima.

Galih tidak langsung tidur. Ia menempelkan sticky note baru di bawah sticky note tiga jam: KEMARIN / HARI INI / HAMBATAN. SATU KALIMAT.

Malam itu Galih bermimpi berdiri di depan kamera raksasa, dan Arumi memegang stopwatch sebesar jam dinding.

Rabu, jam enam pagi. Kala sudah bangun sejak jam lima, dan Galih mengecek HP sambil mengayun bayinya di teras. Ada satu balasan di bawah videonya.

Wojtek: Noted.

Bu Wardani: Mas Galih, pagi-pagi sudah lihat HP. Rapat lagi?

Galih: Bukan, Bu. Ada yang balas video saya.

Bu Wardani: Balas apa?

Galih: Satu kata, Bu.

Bu Wardani: Walah. Hemat sekali.

Galih: Dik. Wojtek balas.

Arumi: Bilang apa?

Galih: "Noted." Artinya dicatat.

Arumi: Itu aja?

Galih: Itu aja. Tapi lihat jamnya. Jam enam di sini.

Arumi: Terus?

Galih: Di Berlin berarti jam satu pagi. Lagi.

Arumi: Dia nggak tidur?

Galih: Itu yang aku pikir. Kemarin juga jam satu. Dia nggak tidur?

Arumi: Mungkin dia vampir.

Galih: Vampir yang nulis kode.

Arumi: Tanya, Mas. Jangan nebak.

Galih mengetik balasan, lalu menghapusnya.

Galih: Thanks! Isn't it late there? Eh… nggak jadi. Thanks, Wojtek!

Arumi: Kok dihapus?

Galih: Nanti dikira kepo. Nanti. Belum kenal.

Arumi: Atau dia kerja di dua negara.

Galih: Atau dia nggak punya kasur.

Jam sebelas siang, jam enam pagi di Berlin, Ulrike muncul di team chat. Galih melihat titik hijau di samping namanya dan pura-pura sibuk dengan layar pesanan. Lima menit kemudian ada notif baru di bawah videonya.

Bukan kata. Bukan kalimat. Hanya satu emoji jempol.

Galih menatapnya lama. Ia memperbesar layar, seolah jempol itu akan bicara kalau dilihat lebih dekat.

Galih: Rum… jempol itu artinya bagus, atau artinya "udah, diem"?

Quick Meaning

  • Quick update from me. — Update singkat dari saya.
  • I'm blocked on… — Saya tertahan di…, pekerjaan saya terhambat oleh…
  • I'm waiting on the copy. — Saya masih menunggu teksnya.
  • Let me redo that. — Saya ulang, ya.
  • Noted. — Dicatat. / Oke, saya catat.

Natural Phrase

  • Nothing blocking me right now. — "sekarang tidak ada hambatan"; kalimat penutup update yang umum.
  • Two minutes, max. — "paling lama dua menit"; *max* di akhir kalimat terdengar santai.
  • Tudo bem? — Portugis, "semua beres?"; Joana memakainya seperti orang Jakarta bilang "aman?".

Pakai Besok

Update async harian, tiga kalimat:

  • Yesterday I finished the first draft of the report. — Kemarin saya menyelesaikan draf pertama laporan.
  • Today I'm fixing the comments from the team. — Hari ini saya memperbaiki komentar dari tim.
  • I'm waiting on the numbers from finance. — Saya masih menunggu angka dari bagian keuangan.
  • Nothing blocking me right now. — Sekarang tidak ada hambatan.

One Line to Remember

Yesterday I… Today I'm… I'm blocked on…

Comprehension Check

  • Tiga hal apa saja yang harus ada di video update harian?
  • Kenapa rekaman pertama dan kedua Galih gagal?
  • Apa aturan Arumi untuk naskah Galih?
  • Kenapa balasan "Noted." dari Wojtek membuat Galih heran?

Prediction Prompt

Satu jempol dari atasan. Menurutmu Ulrike puas, atau Galih sedang menebak lagi?

Next Chapter Hook

Kamis jam sebelas, Galih harus membagikan layar desainnya di depan Ulrike untuk pertama kali. Ia sudah latihan dua kali. Ia belum mengecek satu tombol kecil di pojok kiri bawah.