Salah Jam
Senin, jam lima kurang lima. Salatiga masih gelap, dan Kala sudah bangun.
Galih menggendong bayinya ke ruang makan dan menatap laptop di atas meja. Di layar ada email yang sudah ia baca sebelas kali sejak Jumat.
Arumi: Mas, kamu udah mandi?
Galih: Udah. Jam empat.
Arumi: Jam empat? Kamu mau kerja atau mau berangkat haji?
Galih: Hari pertama, Dik. Aku nggak mau telat.
Arumi: Rapatnya jam berapa, sih?
Galih: Jam enam. Nih, baca sendiri.
Arumi mengambil Kala dari gendongannya dan membaca dari balik bahu Galih.
Arumi: Welcome to Hafenlicht! Our first team call is on Monday at 6:00. Jam enam?
Galih: Jam enam. Makanya aku bangun jam empat.
Arumi: Jam enam pagi di sini?
Galih: Ya iyalah. Masa jam enam sore.
Arumi: Nggak ditulis jam enam mana gitu?
Galih: Nggak. Tapi kan jelas, jam enam ya jam enam.
Arumi: Mas, orang Jerman itu jam enam pagi di sana masih ngantuk nggak, sih?
Galih: Kok nanya itu?
Arumi: Nggak apa-apa. Aku cuma mikir, kalau di sini jam enam, di sana jam berapa?
Galih: Ya… lebih pagi. Atau lebih malam. Pokoknya beda.
Arumi: Pokoknya beda. Oke. Ya udah, kalau Mas yakin.
Galih: Aku yakin.
Kala mulai merengek, jadi Arumi tidak bertanya lagi.
Jam enam kurang sepuluh, Galih sudah duduk dengan kemeja rapi, celana pendek, dan headset di kepala. Teh tubruk di sebelah laptop masih mengepul. Ia berlatih pelan-pelan.
Galih: Hi, I'm Galih. I'm the new UI designer. Nice to meet you.
Arumi: Kok pelan banget, Mas? Kayak baca doa.
Galih: Biar nggak salah.
Arumi: Nanti mereka kira sinyalnya putus-putus.
Bu Wardani keluar dari kamar tamu dengan mukena masih di tangan.
Bu Wardani: Mas Galih, kok pagi-pagi sudah nonton TV?
Galih: Bukan TV, Bu. Ini kerja. Nanti ada rapat, pakai video.
Bu Wardani: Oalah. Rapat sama orang Jerman itu?
Galih: Iya, Bu. Sama tim dari Berlin.
Bu Wardani: Terus orangnya mana?
Galih: Belum masuk, Bu. Mungkin sebentar lagi.
Bu Wardani: Nanti kalau sudah masuk, Ibu boleh lihat?
Galih: Jangan, Bu. Nanti saya grogi.
Jam enam lewat satu. Jam enam lewat tiga. Jam enam lewat lima. Ruang rapat online itu tetap kosong, hanya ada wajah Galih sendiri dengan rambut yang masih basah.
Galih: Rum… kok nggak ada yang datang, ya?
Arumi: Mungkin orang Jerman juga suka telat.
Galih: Katanya orang Jerman tepat waktu.
Arumi: Berarti yang salah bukan mereka.
Galih: Jangan gitu, Dik. Aku udah deg-degan.
Jam enam lewat sepuluh, sebuah kotak hitam muncul. Kamera mati. Namanya: Wojtek Nowicki.
Wojtek: Hello?
Galih: Eh! Hello! Good morning!
Wojtek: Good morning?
Galih: I'm Galih. The new designer.
Wojtek: I'm Wojtek. Front-end. So… why are you here?
Galih: For the team call. At six.
Wojtek: Ah. What time is it for you?
Galih: Six ten. In the morning.
Wojtek: It's one in the morning here. The call is at six Berlin time. Eleven for you, I think.
Galih membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Di belakangnya, Arumi berhenti mengayun Kala.
Galih: Oh no. I'm so sorry.
Wojtek: It's fine.
Galih: Why are you awake? Eh… sorry, that's personal.
Wojtek: Long story. See you at eleven. Your eleven.
Kotak hitam itu hilang. Galih melepas headset pelan-pelan.
Arumi: Dia bilang apa?
Galih: Di sana jam satu pagi.
Arumi: Terus rapatnya?
Galih: Jam enam waktu Berlin. Jam sebelas di sini.
Arumi tertawa sampai Kala ikut kaget. Ia menutup mulut dengan satu tangan, bahunya bergetar.
Arumi: Mas bangun jam empat, mandi, pakai kemeja, bikin teh… buat rapat jam sebelas.
Galih: Udah, Dik.
Arumi: Terus disapa orang Berlin jam satu pagi.
Galih: Aku malu banget. Hari pertama, lho.
Arumi: Nggak apa-apa. Dia juga aneh, kok. Jam satu pagi masih online. Ngapain coba?
Galih: Nggak tahu. Aku lupa nanya.
Arumi: Tuh kan. Lupa nanya lagi.
Bu Wardani: Lho, rapatnya sudah selesai?
Galih: Belum mulai, Bu. Saya salah jam.
Bu Wardani: Salah jam gimana? Jam dinding kita kan benar.
Galih: Jam di Jerman beda, Bu. Di sana masih tengah malam.
Bu Wardani: Walah. Kasihan, orangnya belum tidur. Ya sudah, sarapan dulu. Nasi pecel ada.
Sambil makan, Galih mengambil sticky note baru dan menulis tiga baris: SALATIGA, BERLIN, LISBON. Di sebelahnya ia menulis angka jam masing-masing, lalu menempelkannya di pinggir layar.
Arumi: Itu buat apa?
Galih: Biar aku nggak nebak lagi.
Arumi: Tanya, Mas. Jangan nebak. Tadi kan tinggal balas email, tanya jam enam yang mana.
Galih: Takut kelihatan bodoh. Baru hari pertama udah nanya-nanya.
Arumi: Lebih bodoh mana, nanya satu kalimat atau nungguin rapat lima jam?
Galih: …Iya, iya.
Bu Wardani: Mas Galih, habis ini tidur lagi saja. Masih lima jam.
Galih: Nggak bisa, Bu. Udah terlanjur melek. Mending saya baca-baca dulu soal timnya.
Arumi: Baca juga email yang lain. Siapa tahu ada jam yang ketinggalan.
Galih: Iya. Sekalian cari tahu Lisbon itu jam berapa sekarang.
Ponsel Galih berdering. Teguh, sahabat kuliahnya, yang dulu mengirim lowongan kerja ini.
Teguh: Piye, Lih? Wis rapat sama bule-bule?
Galih: Belum, Guh. Aku salah jam. Rapatnya jam sebelas.
Teguh: Lho, lha terus kamu jam enam ngapain?
Galih: Nunggu di ruang rapat kosong. Terus ada satu orang masuk, di sana jam satu pagi.
Teguh ngakak di telepon.
Teguh: Wis, biasa itu. Aku dulu juga pernah kelewatan rapat gara-gara jam. Pokoknya tulis dua jam di kalender, jam sini sama jam sana.
Galih: Udah kutempel di layar.
Teguh: Terus orang yang jam satu pagi itu siapa?
Galih: Wojtek. Programmer. Kameranya mati terus, jadi aku nggak tahu mukanya.
Teguh: Jam satu pagi masih kerja? Wah, itu antara rajin banget atau ada apa-apanya.
Galih: Aku mau nanya, tapi dia langsung keluar.
Teguh: Nanti tanya pelan-pelan. Jangan hari pertama, nanti dikira kepo.
Teguh: Pinter. Sukses, yo. Nanti cerita.
Jam sebelas kurang lima, Galih duduk lagi di kursi yang sama. Kemejanya sudah agak kusut. Kala tidur di kamar bersama Bu Wardani. Arumi duduk di sudut ruang makan, di luar jangkauan kamera.
Kali ini ruang rapat tidak kosong. Kotak pertama menunjukkan dapur yang masih gelap dan seorang perempuan berambut pendek abu-abu memegang kopi hitam: Ulrike Falk. Kotak kedua hitam lagi: Wojtek.
Ulrike: Good morning, Galih. I heard you came early.
Galih: Five hours early.
Wojtek: Five hours and ten minutes.
Ulrike: It happens. My fault. Next time I'll write both times.
Galih: Thank you. Sorry.
Ulrike: Don't be sorry. Short call today. Joana can't join. It's five a.m. in Lisbon.
Galih melirik sticky note. Lisbon: jam lima pagi. Benar.
Galih: She's still sleeping, right?
Ulrike: I hope so.
Arumi berbisik dari sudut ruangan, tanpa suara: "Bagus, Mas." Galih pura-pura tidak lihat, tapi telinganya panas.
Ulrike: So. Introduce yourself. Just a little.
Galih: I'm Galih. I live in Salatiga. It's a small city near a mountain.
Ulrike: Which mountain?
Galih: Merbabu. I can see it from my window. When there are no clouds.
Ulrike: Nice. And before this?
Galih: A small agency in Semarang. Websites and apps. And… I have a baby. Five months.
Ulrike: Congratulations. So you wake up early anyway.
Wojtek: Same.
Ulrike melirik kotak hitam Wojtek, tapi tidak bertanya. Ia membagikan layar berisi papan tugas.
Ulrike: Your first task is in the blue column. The order screen for the bakery app. Our client has small bakeries in Portugal. Joana will explain. Any questions?
Galih punya lima pertanyaan. Tapi mulutnya hanya mengeluarkan satu kata.
Galih: No.
Arumi, dari sudut ruangan, menggeleng dan mengangkat kertas kecil: TANYA!
Galih: Sorry, one sec. Actually, yes. When should I send my work? Your time or my time?
Ulrike: Good question. We work async. Send it when it's ready.
Tiba-tiba, sebuah tangan kecil menarik kabel headset-nya. Kala sudah di belakangnya, di gendongan Bu Wardani, tersenyum dengan kabel di mulut.
Bu Wardani: Maaf, Mas. Dia nyari bapaknya. Halo! Selamat pagi, Bu!
Ulrike: Hello! Is that the baby?
Galih: Yes. And my mother-in-law. Sorry.
Untuk pertama kalinya pagi itu, Ulrike tersenyum. Kecil sekali, hanya di ujung bibir.
Ulrike: Hello, baby. Okay. That's all for today. Welcome to the team.
Wojtek: Go have lunch.
Galih: Thank you. Bye. Have a good… morning.
Layar kembali kosong. Galih melepas headset dan menyandarkan kepala ke kursi.
Arumi: Gimana?
Galih: Lima belas menit. Rasanya kayak lima jam.
Arumi: Tapi Mas nanya. Aku lihat.
Galih: Karena kamu angkat kertas.
Arumi: Besok aku nggak angkat kertas. Mas harus ingat sendiri.
Galih: Tadi "async" itu maksudnya kerja nggak barengan. Kirim kapan aja, mereka baca di pagi mereka.
Arumi: Enak dong. Mas bisa kerja sambil gendong Kala.
Galih: Semoga. Tapi tadi aku cuma ngomong kalimat-kalimat pendek. Kayak anak TK.
Arumi: Anak TK yang ngerti semua pertanyaannya. Itu nggak jelek.
Galih: Ulrike juga ngomongnya pendek-pendek, sih. Nggak ada basa-basi.
Arumi: Nah. Cocok. Kalian sama-sama irit kata.
Galih: Terus kerjaan pertamaku layar pesan roti. Kliennya toko roti di Portugal.
Bu Wardani: Roti? Jauh-jauh dari Jerman, kerjanya roti?
Galih: Aplikasinya, Bu. Biar orang bisa pesan roti dari HP, terus tinggal ambil.
Bu Wardani: Oalah. Kalau di sini, pesan roti ya tinggal teriak ke tukang roti lewat.
Arumi: Nanti Mas bikin tombol "teriak", Bu.
Bu Wardani: Jadi orang Jerman tadi baik?
Galih: Baik, Bu. Cuma nggak banyak senyum.
Bu Wardani: Wajar. Di sana kan masih subuh. Ibu juga nggak senyum kalau habis subuh.
Galih tertawa dan meminum tehnya yang sudah dingin.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Joana Moniz, Lisbon. Bukan tulisan, tapi voice message. Durasinya empat menit dua belas detik.
Galih menekan tombol putar. Suara perempuan yang cerah dan cepat langsung memenuhi ruang makan.
Joana: Okay so—
Quick Meaning
- What time is it for you? — Jam berapa di tempatmu?
- The call is at six Berlin time. — Rapatnya jam enam waktu Berlin.
- Your time or my time? — Waktumu atau waktuku?
- We work async. — Kami kerja tidak serentak — tiap orang mengerjakan di jamnya sendiri.
- Sorry, one sec. — Maaf, sebentar.
Natural Phrase
- It happens. — "wajar, bisa terjadi"; cara sopan bilang kesalahanmu tidak besar.
- Don't be sorry. — "nggak usah minta maaf".
- Go. — di rapat, artinya "silakan, tanya saja".
Pakai Besok
Sebelum rapat lintas negara:
- Is that six your time or my time? — Itu jam enam waktumu atau waktuku?
- Just to check, which time zone is that? — Mau memastikan, itu zona waktu mana?
- Sorry, one sec. My baby's awake. — Maaf, sebentar. Bayiku bangun.
- I'm Galih, the new UI designer. — ganti nama dan jabatanmu sendiri.
One Line to Remember
What time is it for you?
Comprehension Check
- Kenapa Galih sudah duduk di depan laptop jam enam pagi?
- Jam berapa di Berlin saat Wojtek menyapa Galih?
- Apa yang Arumi tulis di kertas, dan kenapa?
- Apa arti We work async bagi Galih?
Prediction Prompt
Voice message empat menit dari Lisbon. Menurutmu apa yang Joana minta dari Galih?
Next Chapter Hook
Joana bicara cepat, tertawa di tengah kalimat, dan meminta sesuatu yang kedengarannya sederhana: update dua menit. Galih butuh dua jam untuk merekamnya.