🎁 Bab 1–3 gratis di semua buku
BAB 3 · English ±40%

Kamu Masih Mute

Kalimat berwarna biru adalah bahasa Inggris. Baca pelan-pelan, artinya ada di bagian bawah bab.

Recap

Galih belajar mengirim update dua menit dengan format kemarin, hari ini, hambatan. Balasan Ulrike hanya satu emoji jempol, dan Galih masih menebak artinya.

Kamis, jam sebelas kurang sepuluh. Di Berlin jam enam pagi kurang sepuluh, dan Galih sudah membuka design file sejak jam sembilan. Teh tubruknya sudah dingin dua kali. Di luar jendela, Merbabu tertutup awan, dan tetangga sebelah sedang menjemur kasur.

Arumi: Jempolnya udah ketemu artinya?

Galih: Belum. Tapi Ulrike ngundang aku design review. Berarti belum dipecat.

Arumi: Mas, kamu baru kerja empat hari.

Galih: Makanya. Masih bisa.

Arumi: Mau presentasi apa?

Galih: Alur "order ahead". Orang pesan roti dari HP, terus tinggal ambil di toko.

Arumi: Tombol "teriak"-nya ada?

Galih: Nggak ada, Dik.

Galih: Rum, nanti kalau aku salah ngomong, kasih kode, ya.

Arumi: Kode apa?

Galih: Apa aja. Garuk kepala.

Arumi: Nanti kalau aku gatal beneran gimana?

Galih: Ya jangan gatal dulu satu jam.

Arumi: Oke. Garuk kepala berarti salah. Kalau aku nunjuk layar?

Galih: Berarti ada yang aneh di layar.

Arumi: Siap. Nanti kupakai.

Bu Wardani membawa Kala ke kamar. Arumi duduk di sudut ruang makan, di luar frame. Jam sebelas tepat, kotak Ulrike muncul: dapur gelap, kopi hitam, rambut abu-abu yang masih agak basah. Kotak Wojtek hitam seperti biasa.

Ulrike: Good morning. Galih, the floor is yours.

Galih: Good morning. Okay. I'll share my screen.

Wojtek: We see it.

Galih menarik napas. Ia sudah latihan dua kali di depan cermin kamar mandi. Ia menekan tombol di pojok kiri bawah yang ia kira tombol kamera, lalu mulai bicara.

Galih: So, this is the order ahead flow. My idea is simple: one screen, one job. The first screen is only for choosing bread. The second screen is only for choosing a time to pick it up. The third screen is only for paying. No extra buttons, no pop-ups. Because the customer is standing in a queue, or holding a bag, or… eh… a baby. So every screen has one job.

Ia bicara hampir dua menit. Ia menunjuk tombol dengan kursor, membesarkan huruf, menjelaskan warna biru yang ia pilih. Di sudut ruangan, Arumi menunjuk-nunjuk layar dengan panik. Galih tidak melihat.

Ulrike: Galih.

Galih: Yes?

Ulrike: You're on mute.

Galih menatap pojok kiri bawah. Ikon mikrofon bergaris merah. Ia menekannya.

Galih: Can you hear me now?

Ulrike: Now, yes.

Wojtek: We got the screens. Not the words.

Galih: Oh no. Sorry. Sorry, sorry. Everything? You didn't hear anything?

Ulrike: Everything. From the start, please.

Galih mulai lagi, lebih cepat karena malu. Baru satu kalimat, dari kamar terdengar tangisan Kala. Keras. Bu Wardani terdengar menyanyi, tapi tangisannya makin tinggi.

Galih: Sorry, one sec. My daughter…

Ulrike: Take your time. We'll wait.

Galih menekan mute, kali ini dengan sengaja, dan berdiri.

Galih: Dik, Kala kenapa?

Arumi: Udah, Mas duduk. Aku yang urus. Mereka nungguin kamu.

Galih: Nungguin aku?

Arumi: Kan dia bilang nunggu. Sana.

Galih kembali ke kursi. Ulrike sedang minum kopi. Wojtek masih hitam. Tidak ada yang terlihat kesal. Ia membuka mute.

Galih: I'm back. Sorry about that.

Ulrike: No problem. Babies don't check the calendar.

Galih menjelaskan ulang. Kali ini ia melihat ikon mikrofon setiap dua kalimat. Ketika selesai, Ulrike diam sebentar, lalu bicara cepat sekali.

Ulrike: Okay. The pickup time picker, is it fifteen minute slots or does it depend on the shop, because some shops open at seven and some at eight, and what happens if they sell out?

Galih menangkap "pickup", "shop", dan "seven". Sisanya lewat seperti motor di jalan Tingkir.

Galih: Sorry, could you say that again? A bit slower?

Ulrike: Sure. The time slots. Fixed, or different for each shop?

Galih: Different for each shop. The shop sets the times.

Ulrike: Good. And if the bread is sold out?

Galih: Do you mean the first screen or the second?

Ulrike: The first.

Galih: Then the bread is grey. You can't tap it. I'll add a small line: sold out today.

Ulrike: Good. Next.

Wojtek: The grey is too light. I can't read it.

Galih: Let me check. You're right. I'll make it darker.

Wojtek: Thanks. Also, I like the bread icons.

Galih: Oh. Thank you!

Ulrike: That's all from me. One screen, one job. I like it. Keep going.

Kotak-kotak itu hilang satu per satu. Galih melepas headset dan menaruh kedua tangan di wajah.

Galih: Sebentar, sebentar… tadi dia bilang "I like it"?

Arumi: Bilang. Aku dengar.

Galih: Dua menit presentasi terbaikku, dan nggak ada yang dengar.

Arumi: Aku dengar. Bagus, kok. Sayang cuma aku penontonnya.

Arumi: Mas tahu berapa lama Mas ngomong sambil mute?

Galih: Jangan dihitung.

Arumi: Satu menit lima puluh detik. Aku hitung.

Galih: Kenapa kamu nggak kasih tahu?

Arumi: Aku kasih tahu! Aku nunjuk-nunjuk kayak orang tenggelam. Kan tadi janjinya nunjuk layar berarti ada yang aneh.

Galih: Aku nggak lihat. Aku lagi fokus.

Arumi: Fokus ngomong sama tembok.

Bu Wardani keluar dari kamar dengan Kala yang sudah tenang, matanya masih basah.

Bu Wardani: Maaf, Mas Galih. Kala tadi kaget, bantalnya jatuh.

Galih: Nggak apa-apa, Bu. Mereka malah nunggu.

Bu Wardani: Lho, orang Jerman mau nunggu?

Galih: Katanya bayi nggak lihat kalender, Bu.

Bu Wardani: Pinter juga dia.

Bu Wardani: Terus yang "mute" itu apa, Mas? Tadi Dik Arumi bilang kamu ngomong sama tembok.

Galih: Mikrofonnya mati, Bu. Saya ngomong panjang, mereka cuma lihat gambar.

Bu Wardani: Oalah, kayak TV kalau suaranya dikecilin. Bapak dulu juga gitu, pidato di rapat RT, mikrofonnya belum dicolok.

Arumi: Terus Bapak gimana, Bu?

Bu Wardani: Ya diulang. Orang-orang malah tepuk tangan dua kali.

Galih: Tadi nggak ada yang tepuk tangan, Bu.

Bu Wardani: Orang Jerman mungkin tepuk tangannya dalam hati.

Arumi: Terus tadi dia bilang "keep going". Itu bagus, kan?

Galih: Bagus. Artinya lanjut.

Arumi: Nah. Jempol kemarin juga bagus.

Galih: Mungkin.

Sore itu Galih menggelapkan warna abu-abu untuk roti yang habis, lalu mengirim pesan ke Wojtek.

Galih: I made the grey darker. Can you check?

Wojtek: Better. Readable now. 👍

Arumi: Mas nggak istirahat dulu?

Galih: Nanggung, Dik. Wojtek bilang warnanya nggak kebaca.

Arumi: Yang kameranya mati itu?

Galih: Iya. Kameranya mati, tapi matanya teliti.

Arumi: Di Berlin sekarang jam berapa?

Galih: Jam sepuluh pagi. Kali ini dia online di jam normal.

Arumi: Syukurlah, vampirnya libur.

Jam empat sore Teguh menelepon. Galih menjawab sambil menggendong Kala yang baru bangun.

Teguh: Piye review-nya, Lih? Lancar?

Galih: Aku presentasi dua menit sambil mute, Guh.

Teguh: Lho! Dua menit ngomong sendiri?

Galih: Sendiri. Arumi udah nunjuk-nunjuk, aku nggak lihat.

Teguh: Wis, itu ritual. Semua orang remote pernah. Aku dulu malah lupa matiin mikrofon, klien dengar aku pesan bakso.

Galih: Terus?

Teguh: Kliennya nanya, baksonya enak nggak. Selesai.

Galih: Bosku malah bilang, "Take your time. We'll wait." Aku bingung, Guh. Aku kira dia bakal kesal.

Teguh: Ya itu artinya santai, nggak usah buru-buru. Kamu itu kebanyakan nebak orang marah.

Galih: Arumi juga bilang gitu.

Teguh: Tuh. Dengerin istrimu, jangan dengerin kepalamu.

Galih: Terus kalau nanti aku nggak nangkap pertanyaannya lagi?

Teguh: Bilang aja minta diulang. Sorry, what was that? Gampang, to?

Galih: Tadi aku pakai yang lebih sopan. Minta diulang pelan-pelan.

Teguh: Wah, naik kelas. Besok traktir wedang jahe.

Malamnya, setelah Kala tidur, Arumi datang ke ruang makan dengan dua gelas teh tubruk dan duduk tepat di depan laptop Galih yang tertutup.

Arumi: Mas, aku punya ide.

Galih: Ide apa?

Arumi: Tadi kamu jelasin desainnya bagus. Yang bikin kacau itu pas Ulrike nanya cepat.

Galih: Karena aku nggak biasa.

Arumi: Makanya dibiasain. Mulai malam ini, sebelum rapat penting, aku jadi Ulrike.

Galih: Kamu jadi Ulrike?

Arumi: Ulrike versi Arumi. Aku ngomong English, kamu jawab English.

Galih: Tiap malam?

Arumi: Sebelum rapat penting aja. Kamu grogi karena cuma latihan baca, nggak pernah latihan ngomong.

Galih: Latihan sama kamu malah lebih grogi.

Arumi: Bagus. Kalau lolos dari aku, Ulrike gampang.

Galih: Rum, kamu kan bilang English-mu udah lupa.

Arumi: Aku bilang lupa biar kamu nggak minta diajarin.

Galih tertawa.

Arumi: Aturannya satu. Siapa yang keceplosan Indonesia, besok nyuci botol susu Kala.

Galih: Semua botol?

Arumi: Semua. Siap?

Arumi menegakkan punggung, memasang wajah datar, dan mengangkat gelas teh seperti kopi hitam di dapur gelap.

Arumi: Morning, Galih. I have a question to you.

Galih: Good morning, Ulrike.

Arumi: Why is this button so big?

Galih: Because… older people. They can see it easily.

Arumi: Hmm. Again. Full sentence.

Galih: It's big because older customers need big buttons.

Arumi: Good. Next. And the sold out bread?

Galih: If it's sold out, it's grey, and you can't tap it.

Arumi: Is your microphone on?

Galih: Nggak lucu, Dik.

Arumi: Botol susu!

Galih: Aduh. Okay, okay. I'll wash them.

Arumi: Very good. Very German.

Galih: Itu logat Jerman apa logat Solo?

Arumi: Botol susu dua kali!

Galih: Ini curang, Dik. Kamu yang bikin aturan, kamu juga yang jadi hakim.

Arumi: Namanya juga Ulrike. Di rapat dia juga bosnya.

Galih: Oke. Tapi besok kamu yang keceplosan duluan, lihat aja.

Mereka tertawa sampai harus menutup mulut supaya Kala tidak bangun. Galih mengambil sticky note baru dan menulis: SORRY, COULD YOU SAY THAT AGAIN? Lalu menempelkannya di bawah sticky note tiga jam.

Jam sebelas kurang dua puluh malam, HP Galih berbunyi. Team chat. Di Lisbon masih sore.

Joana: Can you send the new flow by end of day?

Quick Meaning

  • You're on mute. — Mikrofonmu mati. / Suaramu nggak kedengaran.
  • Can you hear me now? — Sekarang suara saya terdengar?
  • Sorry, could you say that again? — Maaf, bisa diulang?
  • Do you mean the first screen or the second? — Maksudnya layar pertama atau kedua?
  • Take your time. We'll wait. — Santai saja. Kami tunggu.

Natural Phrase

  • The floor is yours. — "silakan, giliranmu bicara"; dipakai untuk mempersilakan presenter.
  • Babies don't check the calendar. — cara ringan bilang "wajar, bayi nggak bisa dijadwal".
  • Keep going. — "lanjutkan"; tanda pekerjaanmu sudah di jalur yang benar.

Pakai Besok

Di video call kerja:

  • Sorry, I was on mute. Let me start again. — Maaf, tadi mikrofon saya mati. Saya ulang dari awal.
  • Can everyone see my screen? — Layar saya kelihatan semua?
  • Sorry, could you say that a bit slower? — Maaf, bisa diulang lebih pelan?
  • Do you mean this one or the one below? — Maksudnya yang ini atau yang di bawahnya?

One Line to Remember

One screen, one job.

Comprehension Check

  • Apa prinsip desain yang Galih jelaskan di design review?
  • Kenapa Ulrike dan Wojtek tidak mendengar penjelasan pertamanya?
  • Kalimat apa yang Galih pakai waktu tidak menangkap pertanyaan Ulrike?
  • Apa aturan latihan malam dari Arumi?

Prediction Prompt

Jam sebelas malam di Salatiga, masih sore di Lisbon. Menurutmu "end of day" itu akhir hari siapa?

Next Chapter Hook

Galih membaca pesan itu, melihat jam, lalu membuka laptop lagi. Ia tidak bertanya. Ia menebak.