Script di Layar Kedua
Recap
Di hari pertama live, Geni dibilang mirip robot oleh Brody dan disuruh sarapan oleh Mrs. Talbot, pelanggan tua dari Brisbane yang internetnya putus tiap pagi. Mbak Nawang menyuruhnya membaca sebelas tiket lama Mrs. Talbot.
Senin malam, jam sepuluh. Kamar Geni di Bantul hanya diterangi lampu belajar. Di luar, mesin cuci Ibu masih berputar untuk cucian laundry pelanggan besok pagi.
Sebelas tiket Mrs. Talbot sudah ia baca semua, dua kali. Isinya hampir sama: internet putus, pulih sendiri, restart router, no fault found. Tidak ada yang mencatat jam.
Geni mencetak script troubleshooting internet rumah dari materi training. Empat belas langkah. Ia menandai setiap langkah dengan stabilo kuning, lalu menulis nomor besar di pinggirnya dengan spidol.
Jam lima lewat lima puluh, Selasa pagi, ia menaruh kertas itu di samping keyboard, rapi seperti surat lamaran.
Tunggul: Lho, lho. Apa itu, Gen?
Geni: Script troubleshooting, Mas. Empat belas langkah.
Tunggul: Distabilo semua? Kamu mau sidang skripsi?
Geni: Biar nggak bingung. Mrs. Talbot pasti telepon lagi.
Tunggul: Terus kamu mau bacain empat belas langkah ke nenek-nenek jam sembilan pagi?
Geni: Kalau semua langkah dijalankan, pasti ketemu masalahnya.
Tunggul: Sebelas tiket juga pakai langkah yang sama, Den.
Geni: Tapi nggak ada yang sampai langkah empat belas.
Tunggul menggigit pisang gorengnya dan menatap kertas itu seperti menatap undangan nikah mantan.
Tunggul: Semalam tidur jam berapa?
Geni: Jam dua belas, Mas. Habis baca tiket, aku coba hafalin urutannya.
Tunggul: Pantes matamu kayak panda. Ketemu apa di tiket?
Geni: Semua bilang internetnya putus pagi, terus nyala lagi. Tapi nggak ada yang nulis jam berapa persisnya.
Tunggul: Ya karena nggak ada yang peduli jam berapa. Yang penting tiketnya ditutup.
Geni: Justru itu yang aneh. Sebelas kali ditutup, sebelas kali dia telepon lagi.
Tunggul: Kamu ini agen atau detektif?
Geni: Agen, Mas. Agen yang penasaran.
Tunggul: Hati-hati. Penasaran itu bikin telepon panjang. Telepon panjang bikin papan kuning.
Geni: Papan kuning itu kenapa sih, Mas? Kemarin juga Mas bilang begitu.
Tunggul: Rata-rata durasi tim. Kalau ada yang kelamaan, warnanya berubah. Nggak ada yang marah, tapi semua orang lihat.
Geni: Termasuk Mbak Nawang.
Tunggul: Termasuk Mbak Nawang. Termasuk Pak Wikan di lantai atas.
Geni: Aku belum pernah ketemu Pak Wikan.
Tunggul: Nanti juga ketemu. Orangnya serius, suka angka. Wis. Coba wae empat belas langkahmu. Nanti aku dengerin.
Telepon pertama jam enam lewat dua: seorang bapak dari Queensland. Di belakangnya ada bayi menangis keras.
Bapak: Hi. Sorry about the noise. The internet's dead and the baby's monitor app won't load.
Geni: Good morning. I'm sorry to hear that. Can you see the router?
Bapak: The white box? Yeah, it's right here.
Geni: Please unplug it and wait thirty seconds.
Bapak: Unplug it. Right. Shh, shh, mate, Daddy's on the phone.
Geni menghitung dalam hati. Bayi itu berhenti menangis tepat di detik dua puluh lima.
Geni: Now plug it back in, please.
Bapak: Done. Lights are coming on. Oh, there we go. It's working. Thanks, mate. You've saved my morning.
Tiga menit. Tunggul mengacungkan jempol.
Tunggul: Nah. Itu enak. Pendek.
Geni: Soalnya cuma langkah dua sama tiga, Mas.
Tunggul: Kadang memang cuma butuh itu.
Geni: Tapi kalau tadi nggak berhasil, aku sudah siap langkah empat.
Tunggul: Bagus. Siap itu bagus. Asal jangan maksa langkah empat ke orang yang sudah beres di langkah tiga.
Geni: Bayinya tadi dengar, Mas? Langsung diam pas routernya nyala.
Tunggul: Bayi zaman sekarang, Gen. Nangis kalau Wi-Fi mati.
Jam enam lewat empat belas, lampu berkedip lagi. Nama di layar: Talbot, Brisbane. Geni menegakkan punggung dan menaruh jari di baris pertama kertasnya.
Geni: Good morning, thank you for calling Brightwick support. My name is Geni.
Noreen: Oh, it's you! The young man. Did you have your breakfast, dear?
Geni: Not yet, ma'am. Can you see the lights on the front of the router?
Noreen: Straight to business. Hang on, love. The lights. Which one's the router again?
Geni: The box with the lights.
Noreen: There are two boxes, dear. The nice man put them in.
Geni melirik kertas. Tidak ada langkah untuk "dua kotak". Ia melanjutkan saja.
Geni: What colour is the light?
Noreen: On which one?
Geni: The… the bigger one, please.
Noreen: Green. No, it's blinking. Orange? Hard to say without my glasses.
Geni: Please unplug it and wait thirty seconds.
Noreen: Oh, but it's working now. My email just came up.
Geni menatap langkah empat. Langkah empat mengandaikan internet masih mati.
Geni: Is it on now?
Noreen: Yes, love. Like I said.
Geni: Let's try one more thing.
Di latar belakang terdengar bunyi kecil, tipis: ting.
Noreen: Sorry, love, the kettle… no, that's the other thing. Where were we?
Geni: Step five.
Noreen: Step five of what, dear?
Tunggul menutup mulutnya dengan tangan. Geni tetap membaca.
Geni: Please check the cable at the back.
Noreen: The cable's fine, dear. The cat next door sleeps on it sometimes, the cheeky thing.
Geni: Is the light green now?
Noreen: Which light? I've lost track, love.
Geni: Me too, ma'am. Eh… Sorry. Step six.
Ia kembali ke langkah enam, lalu tersesat. Ia tidak tahu lagi mana yang sudah dan mana yang belum.
Geni: Sorry. Bear with me.
Noreen: Take your time, love. I'm not going anywhere.
Langkah dua belas, tiga belas, empat belas. Semua beres, karena memang internetnya sudah menyala sejak langkah tiga.
Geni: Is there anything else I can help you with today?
Noreen: No, dear. It's always fine by now. You were very thorough. Very thorough.
Geni: Thank you, ma'am.
Noreen: Eat something, won't you?
Telepon ditutup. Di layar, angka durasi: dua puluh dua menit. Lebih panjang dari kemarin.
Geni menyandarkan kepala ke kursi.
Geni: Mas, tadi aku kacau banget ya?
Tunggul: Kacau? Nggak. Rapi malah. Rapi banget sampai nggak nyambung.
Geni: Itu pujian atau ejekan?
Tunggul: Dua-duanya. Kamu sopan, sabar, nggak motong omongan. Itu susah, lho. Banyak agen lama nggak bisa.
Geni: Tapi dua puluh dua menit, dan masalahnya tetap nggak ketemu.
Tunggul: Nah, itu bagian ejekannya.
Tunggul menarik headset keduanya, lalu membuka rekaman di layarnya sendiri.
Tunggul: Dengerin. Menit ketiga.
Rekaman diputar. Suara Geni terdengar datar, cepat, seperti pengumuman peron.
Geni: Memang kenapa?
Tunggul: Dia tanya kamu sudah sarapan, kamu langsung, "Can you see the lights on the front of the router?" Kayak mesin ATM.
Geni: Itu langkah satu, Mas.
Tunggul: Terus dia bilang ada dua kotak. Kamu diam. Terus kamu lanjut langkah dua kayak dia nggak ngomong apa-apa.
Geni: Nggak ada di script.
Tunggul: Gen. Kamu ngomong ke kertas, bukan ke orang.
Geni tidak menjawab. Ia menatap kertas stabilonya. Empat belas nomor besar, semua dicoret. Satu masalah, tidak ketemu.
Geni: Terus aku harus gimana?
Tunggul: Dengerin dia dulu. Dia jawab di luar urutan? Ikut urutan dia. Kertasnya buat kamu, bukan buat dia.
Geni: Kalau aku lupa langkahnya?
Tunggul: Kamu nggak lupa. Kamu sudah hafal. Masalahnya kamu nggak berani lepas.
Geni: Mas dulu langsung berani?
Tunggul: Ya nggak. Aku dulu malah kebalikannya. Terlalu santai, sampai verifikasi kelewat. Ditegur Mbak Nawang.
Geni: Terus?
Tunggul: Terus aku belajar. Bagian yang wajib, ikut kertas. Bagian lain, ikut orangnya. Gampang ngomongnya, susah ngelakoninya.
Geni: Tadi dia cerita kucing tetangga, Mas. Aku harus jawab apa?
Tunggul: Bilang saja kucingnya lucu. Terus tanya lagi soal lampu. Dua detik, bukan dua menit.
Geni: Kedengarannya gampang.
Tunggul: Karena memang gampang. Yang susah itu kamu.
Ia memutar rekaman lagi, lebih ke belakang. Suara ting kecil itu lewat begitu saja. Tunggul tidak memperhatikannya. Geni juga tidak.
Geni: Dua puluh dua menit, Mas. Mbak Nawang pasti lihat.
Tunggul: Pasti. Papan itu lihat semuanya.
Antrean pagi terus berjalan. Geni menjawab lebih pendek, tapi masih menunduk ke kertas.
Geni: Have you paid the last bill, by any chance?
Mahasiswa: Oh no. Did I forget? Yeah… I forgot. My bad.
Geni: No worries. You can pay it in the app.
Jam sepuluh kurang sepuluh, Mbak Nawang berjalan pelan di antara meja, mug putihnya di tangan. Ia berhenti di belakang kursi Geni dan melihat kertas stabilo itu.
Mbak Nawang: Empat belas langkah?
Geni: Iya, Mbak. Maaf, telepon Mrs. Talbot dua puluh dua menit.
Mbak Nawang: Aku tahu. Aku dengar sebagian.
Geni: Saya mau semuanya lengkap, Mbak. Biar nggak ada yang ketinggalan lagi.
Mbak Nawang: Lengkap buat siapa, Gen?
Geni: …Buat tiketnya, Mbak.
Mbak Nawang: Terus, masalahnya ketemu?
Geni: Belum.
Mbak Nawang: Kenapa, menurutmu?
Geni: Soalnya internetnya sudah nyala lagi sebelum saya sampai langkah empat, Mbak.
Mbak Nawang: Jadi empat belas langkah itu buat masalah yang sudah hilang.
Geni: …Iya, Mbak.
Mbak Nawang: Aku nggak marah, Gen. Kamu teliti, itu bagus. Tapi coba pikir. Kalau masalahnya selalu hilang sendiri, apa yang perlu kamu cari?
Geni: Kapan munculnya, Mbak?
Mbak Nawang: Nah. Itu pertanyaan yang belum ada di sebelas tiket.
Mbak Nawang mengangguk pelan, seperti jawabannya sudah ia duga. Ia menaruh mug di meja Geni.
Mbak Nawang: Tahu kalibrasi?
Geni: Waktu training pernah dijelaskan, Mbak. Rekaman diputar bareng, terus dinilai bareng.
Mbak Nawang: Bareng klien. Orang Brightwick ikut dengar lewat video, dan mereka yang pilih rekamannya.
Tunggul pura-pura sibuk mengetik. Telinganya jelas ke arah mereka.
Mbak Nawang: Kalibrasinya Kamis jam tujuh. Salah satu rekaman yang dipilih klien… punyamu, Gen. Yang tadi pagi.
Quick Meaning
- Can you see the lights on the front of the router? — Bisa lihat lampu di depan router?
- Please unplug it and wait thirty seconds. — Tolong cabut kabelnya dan tunggu tiga puluh detik.
- Plug it back in. — Colokkan lagi.
- Which one's the router again? — Yang mana routernya tadi?
- Let's try one more thing. — Kita coba satu hal lagi.
Natural Phrase
- Hang on, love. — sebentar ya (hangat, santai).
- There we go. — nah, beres/berhasil.
- You've saved my morning. — kamu menyelamatkan pagiku; terima kasih santai.
Pakai Besok
Saat memandu orang memperbaiki alat lewat telepon:
- What colour is the light right now? — Lampunya sekarang warna apa?
- No rush, just tell me what you see. — Santai saja, bilang saja apa yang kamu lihat.
- Okay, unplug it, count to thirty, and plug it back in. — Oke, cabut, hitung sampai tiga puluh, colokkan lagi.
- Is it working now? — Sekarang sudah jalan?
One Line to Remember
Let's try one more thing.
Comprehension Check
- Apa yang Geni siapkan malam sebelumnya, dan kenapa Tunggul menyebutnya "skripsi"?
- Kenapa telepon si bapak dari Queensland selesai cepat?
- Di mana Geni tersesat saat menelepon Mrs. Talbot?
- Apa maksud Tunggul, "Kamu ngomong ke kertas, bukan ke orang"?
Prediction Prompt
Rekaman dua puluh dua menit itu akan diputar di depan klien. Bagian mana yang menurutmu paling membuat Geni malu?
Next Chapter Hook
Kamis jam tujuh, Ruang Merapi. Suara Geni sendiri akan diputar keras-keras, dan seseorang dari Cardiff sudah mendengarnya lebih dulu.