🎁 Bab 1–3 gratis di semua buku
BAB 2 · English ±35%

Jadwal di Pintu Kulkas

Kalimat berwarna biru adalah bahasa Inggris. Baca pelan-pelan, artinya ada di bagian bawah bab.

Recap

Wulan tiba di Taoyuan, dijemput Mr. Huang, dan sampai di apartemen keluarga Lin di Taichung. Malam itu Ama menggenggam jarinya dan memanggilnya "Ani".

Sabtu, jam setengah enam pagi. Wulan sudah bangun sebelum alarm.

Ia membuka LINE.

Wulan: Mbak, sudah bangun?

Tia: Sudah. Shift pagi. Kenapa, Dik?

Wulan: Hari ini hari kerja pertama. Saya deg-degan.

Tia: Wajar. Sudah salat?

Wulan: Sudah, Mbak. Kiblatnya saya kira-kira pakai aplikasi.

Tia: Bagus. Nenekmu gimana?

Wulan: Semalam dia panggil saya Ani. Terus pegang jari saya lama sekali.

Tia: Ani siapa?

Wulan: Ndak tahu. Saya ndak berani tanya.

Tia: Nanti saja. Hari ini dengar dulu, catat semua. Jangan pura-pura ngerti.

Wulan: Nggih, Mbak.

Tia: Nggih? Aku bukan ibumu, Dik.

Wulan: Kebiasaan. Maaf.

Tia: Tuh, minta maaf lagi.

Wulan: Mbak, kalau saya ndak ngerti instruksinya, saya harus bilang apa?

Tia: Bilang kamu ndak ngerti. Terus minta ditunjukkan. Orang kerja itu lebih gampang lihat daripada dengar.

Wulan: Kalau dia capek jelasin terus?

Tia: Lebih capek lagi kalau kamu salah kasih obat. Percaya aku.

Wulan: Iya, Mbak. Saya tulis.

Tia: Satu lagi. Tiap selesai dijelaskan, ulangi pakai kata-katamu sendiri. Kalau salah, dia pasti betulkan.

Wulan: Kayak kemarin sama Mr. Huang.

Tia: Nah. Kamu cepat belajar. Sudah, aku masuk pabrik dulu. HP disita sampai istirahat.

Wulan: Disita?

Tia: Ditaruh di loker, Dik. Aturan pabrik. Nanti siang aku telepon.

Jam tujuh, Vivian keluar kamar membawa selembar kertas dan selotip.

Vivian: Morning! Did you sleep okay?

Wulan: Good morning. Yes, I sleep okay.

Vivian: Slept. But okay, good.

Wulan: Slept. Eh… slept okay.

Vivian menempel kertas itu di pintu kulkas, di bawah magnet nanas. Dua kolom: English dan Mandarin.

Vivian: This is Ama's schedule. Every day, more or less the same. Can you read it?

Wulan membaca pelan sambil menunjuk dengan jari.

Wulan: Seven, wake up. Seven thirty, breakfast, soft rice. Nine, walk with walker.

Vivian: Good. Keep going.

Wulan: Twelve, lunch. Two, nap. Six, radio. Nine thirty, sleep.

Wulan mengulang dalam hati dengan bahasanya sendiri, lalu tanpa sadar mengucapkannya keras-keras.

Wulan: Jam tujuh bangun, setengah delapan sarapan, jam sembilan jalan. Siang makan, jam dua tidur, jam enam radio.

Vivian: Sorry?

Wulan: Eh… sebentar. Maaf. Saya hafalan. Eh, I memorize.

Vivian: Perfect. Any questions?

Wulan ragu, lalu membuka buku birunya.

Wulan: Can you show me the medicine?

Vivian membuka lemari di atas wastafel: kotak plastik tujuh sekat, satu untuk tiap hari.

Vivian: My dad fills this box every Sunday. You just give it after meals, like it says on the label.

Wulan: After meals. Not before.

Vivian: Right. Not before. If something looks different, don't guess. Call me.

Wulan menulis: "obat — sesudah makan — kotak — jangan menebak."

Vivian: Next. Breakfast. Can you make soft rice?

Wulan: Yes, I can.

Soft rice, pikir Wulan. Nasi lembek. Gampang.

Setengah jam kemudian ia menyajikan semangkuk nasi yang sedikit lebih basah dari biasa. Vivian menahan senyum.

Vivian: Oh. That's… rice.

Wulan: Soft rice?

Vivian: Softer. Much softer. Like soup, almost.

Ia menambah air banyak-banyak ke panci.

Vivian: Like this. Cook it long, with lots of water.

Wulan: Oh! Bubur. Eh… porridge?

Vivian: Yes! Porridge. Congee. Same thing.

Wulan: Sorry. I think soft rice is just rice.

Vivian: My fault. I should've written "congee".

Ama, di meja bundar, bicara Mandarin pelan, satu kalimat panjang.

Wulan: What did she say?

Vivian: She says, "Not too salty."

Wulan: Hao. Hao, Ama.

Ama tersenyum, makan setengah mangkuk, lalu menepuk tangan Wulan dua kali.

Jam sembilan mereka berjalan di lorong: Ama dengan walker, Wulan di samping, Vivian di belakang sambil membalas email.

Vivian: Stay on her left side. She's weaker on the left.

Wulan: Kiri. Oke, kiri.

Vivian: And don't rush her. Ten minutes is enough.

Wulan: Do you mean ten minutes walking, or ten minutes all?

Vivian: Good question. Ten minutes walking. Then she sits.

Di ujung lorong, Ama berhenti dan bicara sambil menunjuk jendela. Wulan panik.

Wulan: Sorry, I don't understand. Is she okay?

Vivian: She's fine. She just likes the view. She wants to stand here for a bit.

Wulan: Oh. Syukurlah.

Vivian: You don't have to understand everything today. Slowly is okay.

Pelan-pelan tidak apa-apa. Wulan menulisnya di buku biru.

Jam dua belas lewat, Tia menelepon dari ruang istirahat pabrik.

Tia: Gimana, Dik? Masih hidup?

Wulan: Masih, Mbak. Tapi tadi saya salah masak.

Tia: Salah masak gimana? Kamu kan anak Tata Boga.

Wulan: Di jadwal tulisannya nasi lembek. Saya masak nasi agak basah. Ternyata maksudnya bubur. Bubur yang encer sekali.

Tia tertawa sampai terbatuk.

Tia: Aduh, Dik. Itu semua orang pernah. Aku dulu disuruh beli kecap asin, aku bawa pulang cuka.

Wulan: Terus dimarahi?

Tia: Ndak. Diketawain seminggu. Cucunya marah ndak?

Wulan: Ndak, Mbak. Dia malah bilang itu salah dia, tulisannya kurang jelas.

Tia: Nah, itu majikan yang baik. Jaga baik-baik.

Wulan: Mbak, soal Ani…

Tia: Aku belum tahu. Nanti aku tanya-tanya teman di taman. Di sini kabar cepat menyebar, lebih cepat dari internet.

Wulan: Jangan sampai ketahuan saya yang tanya, Mbak.

Tia: Tenang. Aku ahli nanya tanpa kelihatan nanya.

Waktu Ama tidur siang, Wulan menelepon Blitar. Wajah Ibu terlalu dekat di layar.

Wulan: Buk, HP-nya dijauhkan sedikit.

Ibu: Begini? Kelihatan?

Wulan: Sekarang kelihatan jidat Ibu saja.

Adi: Sini, Buk, aku yang pegang.

Ibu: Nduk, sudah makan?

Wulan: Sampun, Buk. Tadi makan bubur sama Ama.

Ibu: Bubur? Kamu sakit?

Wulan: Ndak, Buk. Ama yang makan bubur. Saya ikut sedikit.

Ibu: Majikannya baik?

Wulan: Baik, Buk. Cucunya ngomong English. Pelan-pelan saya ngerti.

Adi: Mbak, ngomong English dong. Satu saja.

Wulan: Porridge.

Adi: Apa itu?

Wulan: Bubur. Tadi Mbak salah masak. Mbak kira nasi lembek.

Ibu tertawa sampai layar goyang.

Ibu: Anak Tata Boga ndak bisa masak bubur.

Wulan: Bisa, Buk. Salah kamus saja.

Ibu: Makanannya di sana halal, Nduk?

Wulan: Mereka tahu saya ndak makan babi, Buk. Kemarin supnya ayam. Cucunya sendiri yang bilang.

Ibu: Alhamdulillah. Salatnya jangan ditinggal.

Wulan: Nggih, Buk. Tadi subuh sudah.

Adi: Mbak, di sana gajinya dikasih kapan?

Ibu: Adi! Mbakmu baru dua hari.

Wulan: Nanti, Di. Sesuai kontrak. Mbak juga belum tahu harinya.

Adi: Aku cuma nanya, Buk.

Wulan: Di, Mbak mau tanya. Kamu masih rajin belajar?

Adi: Masih, Mbak. Minggu depan ulangan bahasa Inggris.

Wulan: Nah. Nanti kalau Mbak sudah lancar, kamu Mbak ajari lewat video.

Adi: Janji ya, Mbak. Guruku ngomongnya kayak baca doa, cepat sekali.

Wulan: Minta diulang. Bilang saja, Pak, pelan-pelan. Mbak juga begitu di sini.

Adi: Nanti aku dikira bodoh.

Wulan: Lebih bodoh lagi kalau pura-pura ngerti. Itu kata teman Mbak.

Ibu: Nduk, yang penting kamu sehat. Uang itu nomor dua.

Wulan mengangguk, walaupun di kepalanya uang itu tetap nomor satu setengah.

Jam enam tepat, Ama menyalakan radio kecil di samping ranjang. Lagu lama mengalun, suara penyanyi perempuan yang tinggi dan bergetar. Ama memejamkan mata dan mengetuk jari di selimut, seperti sedang menghitung sesuatu yang hanya ia yang tahu.

Vivian: Six o'clock is radio time. Don't turn it off, even if she falls asleep.

Wulan: Even if she sleeps?

Vivian: Even if she's asleep, yeah. She wakes up when it's quiet.

Wulan: Oke. Radio stays on.

Wulan menulis di buku biru dengan huruf besar: RADIO JANGAN DIMATIKAN. Lalu ia menggambar radio kecil di sebelahnya, supaya besok tidak lupa.

Malamnya, Wulan mencuci piring terakhir.

Vivian: Wulan, one more thing. I go back to Taipei tomorrow night. So I'd like a little update about Ama every night.

Wulan: Update?

Vivian: Just text me every night. Short is fine. Did she eat, did she walk, did she sleep. That's all.

Wulan: In English?

Vivian: Yes. My Indonesian is… "makan" and "pelan-pelan".

Wulan tertawa. Kata-kata itu pasti dari Ani, pikirnya, tapi ia tidak bertanya.

Wulan: Okay. I try.

Vivian: Start tonight. Practice.

Di kamar, Wulan membuka LINE Tia dulu.

Wulan: Mbak, Vivian minta laporan tiap malam. Pakai English.

Tia: Bagus itu. Gratis les tiap hari.

Wulan: Saya takut salah grammar. Nanti dia ketawa.

Tia: Dia butuh tahu neneknya makan atau ndak. Bukan butuh nilai ujian.

Wulan: Terus saya tulis apa?

Tia: Yang kamu lihat saja. Makan, jalan, tidur. Jangan nambah-nambahin, jangan nebak.

Wulan: Kalau Ama ndak mau makan?

Tia: Ya tulis ndak mau makan. Jujur itu lebih penting daripada bagus.

Wulan: Nggih. Eh, iya, Mbak.

Tia: Kirim, terus tidur. Besok kamu bangun jam enam lagi.

Wulan butuh sepuluh menit untuk tiga baris.

Wulan: Good night Vivian. Ama eat porridge. Ama walk ten minutes. Ama sleep now.

Dari ruang tamu terdengar tawa kecil. Vivian membalas stiker kucing mengangkat jempol.

Vivian: Perfect report. See you at breakfast.

Wulan menyimpan screenshot laporan itu. Laporan pertamanya.

Tengah malam, Wulan terbangun oleh suara dari kamar sebelah.

Ama: Ani… Ani…

Ama masih tidur, tangannya meraba sisi ranjang. Wulan menggenggamnya sampai napas Ama tenang, lalu kembali ke kamar.

Wulan: Mbak, maaf malam-malam. Ama panggil Ani lagi. Dalam tidur.

Wulan: Mbak tahu Ani itu siapa?

Tanda "read" belum muncul.

Quick Meaning

  • Can you show me? — Bisa tunjukkan ke saya?
  • Do you mean…? — Maksudnya…?
  • Slowly is okay. — Pelan-pelan tidak apa-apa.
  • Just text me every night. Short is fine. — Kirim pesan saja tiap malam. Singkat juga boleh.
  • porridge / congee — bubur

Natural Phrase

  • Keep going. — lanjut, teruskan.
  • Honestly, that's my fault. — jujur, itu salah saya (cara ramah meredakan rasa bersalah orang lain).
  • Stay on her left side. — instruksi posisi saat mendampingi orang berjalan.

Pakai Besok

Saat menerima instruksi kerja pertama:

  • Can you show me how? — Bisa tunjukkan caranya?
  • Do you mean ten minutes walking, or ten minutes in total? — Maksudnya sepuluh menit jalan, atau sepuluh menit semuanya?
  • After meals, not before. Is that right? — Sesudah makan, bukan sebelum. Benar?
  • Sorry, I don't understand. Is she okay? — Maaf, saya tidak mengerti. Dia baik-baik saja?
  • She ate, she walked, she's asleep now. — Laporan singkat: sudah makan, sudah jalan, sudah tidur.

One Line to Remember

Slowly is okay.

Comprehension Check

  • Wulan mengira "soft rice" itu apa, dan ternyata apa?
  • Kenapa Wulan harus berjalan di sisi kiri Ama?
  • Apa yang Vivian minta setiap malam, dan dalam bahasa apa?
  • Apa isi laporan malam pertama Wulan?

Prediction Prompt

Ama mencari Ani bahkan dalam tidur. Apa yang akan Tia jawab besok pagi?

Next Chapter Hook

Seminggu kemudian, Wulan berdiri di pasar pagi dengan daftar belanja dari Vivian dan uang yang sudah dihitung tiga kali. Di taman depan gedung, seseorang sudah memperhatikannya.