Papan Nama di Taoyuan
Kamis, jam tiga sore. Pesawat dari Surabaya baru saja berhenti di Taoyuan.
Wulan memeluk tasnya. Perempuan di sebelahnya menepuk lututnya.
Tia: Dik, sudah boleh lepas sabuknya. Pesawatnya ndak ke mana-mana lagi.
Wulan: Oh. Iya, Mbak. Maaf.
Tia: Kamu minta maaf terus dari tadi. Sama pramugari, sama bapak di depan, sama kursi.
Wulan: Sama kursi?
Tia: Tadi kamu nyenggol kursi, terus bilang "sori". Aku lihat.
Wulan tertawa kecil. Namanya Tia, dari Lombok Timur, enam tahun kerja di pabrik elektronik di Taichung.
Wulan: Mbak Tia tidur terus dari Juanda. Saya ndak berani tidur.
Tia: Kenapa?
Wulan: Takut kelewatan. Takut pesawatnya turun, saya masih merem.
Tia: Dik, pesawat itu ndak kayak bus. Ndak ada yang turun di tengah jalan.
Tia: Pertama kali ke luar negeri?
Wulan: Pertama kali naik pesawat, Mbak.
Tia: Aduh, Dik. Pantas mukamu pucat. Kerja di mana nanti?
Wulan: Jaga nenek. Caregiver. Di Taichung juga.
Tia: Agensi siapa?
Wulan membuka map birunya dan menunjuk satu nama.
Tia: Lho, sama. Mr. Huang. Nanti dia yang jemput kita. Orangnya baik, cuma ngomongnya cepat kayak kereta.
Wulan: Pakai bahasa apa, Mbak?
Tia: Mandarin. Tapi kalau kamu bingung, dia bisa English sedikit. Kamu bisa English?
Wulan: Sedikit. Dari SMK. Baca bisa, ngomongnya… kaku.
Tia: Cukup. Di sini English itu bahasa darurat. Kamu pakai kalau Mandarinmu habis.
Wulan: Mbak dulu pertama datang umur berapa?
Tia: Dua lima. Nisa, anakku, masih tiga tahun. Sekarang sembilan.
Wulan: Enam tahun ndak ketemu?
Tia: Ketemu. Tiap cuti pulang. Tapi tiap pulang dia sudah beda. Tingginya, giginya, logatnya. Terakhir dia panggil aku "Tante" sebentar, terus ketawa. Katanya bercanda.
Wulan: Bercanda?
Tia: Katanya. Aku ketawa juga. Di pesawat baru aku nangis.
Tia: Kamu kenapa berangkat?
Wulan: Bapak sudah ndak ada, Mbak. Ibu jualan pecel di rumah. Adik saya masih SMA. Saya anak pertama.
Tia: Sama semua ceritanya, Dik. Anak pertama, ibu di rumah, adik sekolah. Nanti di taman kamu dengar cerita itu seratus kali.
Lorong bandara panjang dan dingin. Papan penunjuk tertulis dalam Mandarin dan English. Wulan membaca pelan.
Wulan: Arrivals. Immigration. Baggage claim.
Tia: Nah, bisa kan.
Wulan: Itu cuma baca, Mbak.
Tia: Baca dulu. Ngomong nanti.
Sebelum antre imigrasi, Tia berhenti dan menatap Wulan serius.
Tia: Dik, aturan pertama. Paspormu kamu simpan baik-baik. Fotokopinya ada?
Wulan: Ada, di map.
Tia: Foto juga pakai HP. Paspor, kontrak, semua kertas yang ada tanda tangannya. Simpan di HP, kirim juga ke Ibumu.
Wulan: Buat apa, Mbak?
Tia: Buat jaga-jaga. Kertas bisa hilang. Foto di HP lebih susah hilang.
Wulan: Ibu saya ndak ngerti HP, Mbak. Kirim ke adik saja?
Tia: Boleh. Adikmu umur berapa?
Wulan: Enam belas. Namanya Adi. Dia yang ngajari saya pakai LINE kemarin.
Tia: Nah, kirim ke Adi. Sekarang.
Wulan langsung memotret paspornya di tengah lorong, sampai seorang bapak di belakangnya harus menyingkir.
Wulan: Eh, sorry, sorry.
Bapak: It's okay.
Antrean imigrasi panjang dan rapi. Tangan Wulan dingin.
Petugas: Passport, please.
Wulan menyerahkan paspor dan kertas-kertasnya.
Petugas: Look at the camera.
Wulan: Camera? Oh. Okay.
Petugas: Right hand here. Then left hand.
Wulan menaruh jari di alat pemindai, kanan lalu kiri.
Petugas: Okay. Welcome to Taiwan.
Wulan: Thank you. Xiexie.
Tia menunggu di ban berjalan, mengangkat jempol.
Tia: Gimana?
Wulan: Saya kira bakal ditanya macam-macam.
Tia: Kadang ditanya, kadang ndak. Yang penting jawab pendek, jangan panik.
Wulan: Tadi saya bilang "xiexie". Benar, Mbak?
Tia: Benar. Cuma nadanya kayak orang nanya. Nanti kamu belajar.
Wulan: Di pelatihan diajari empat nada. Saya hafal di kertas, di mulut hilang semua.
Tia: Sama. Tahun pertama aku bilang "terima kasih" ke mandor, katanya kedengaran kayak nama sayur.
Koper Wulan keluar hampir paling akhir: koper hijau tua milik almarhum bapaknya, diikat tali rafia kuning.
Tia: Tali rafia. Pintar. Dulu aku juga gitu.
Wulan: Kata Ibu biar ndak ketuker.
Tia: Ibumu benar.
Wulan: Mbak, koper Mbak mana?
Tia: Ndak bawa koper. Cuma ransel. Enam tahun, Dik, lama-lama kamu tahu barang yang penting itu sedikit.
Di balik pintu kedatangan, puluhan orang memegang papan nama. Seorang laki-laki berkacamata memegang dua papan putih: SITI WULANDARI dan TIANA RAHMAWATI.
Tia: Itu Mr. Huang. Ayo.
Mr. Huang bicara cepat dalam Mandarin kepada Tia, tertawa, lalu menoleh ke Wulan.
Mr. Huang: You are Siti?
Wulan: Yes. Eh, Wulan. Call me Wulan.
Mr. Huang: Okay, Wulan. Welcome. Long flight?
Wulan: Yes. Very long.
Mr. Huang: First, we go to the van. Your employer's house is in Taichung. Today we drive there. Tomorrow or Saturday, health check. You must do the health check within three days, okay?
Terlalu cepat. Wulan hanya menangkap "van" dan "health check". Ia menarik napas dan memakai kalimat di halaman pertama buku birunya.
Wulan: Sorry, can you say that again, slowly?
Mr. Huang berhenti, lalu tersenyum.
Mr. Huang: Of course. Sorry. I talk too fast.
Ia mengulang pelan, menghitung dengan jari.
Mr. Huang: One. Today, we go to the house. Two. Health check, in three days. Three. I will call you.
Wulan: Today, house. Three days, health check. You call me.
Mr. Huang: Yes. Perfect.
Tia menyenggol lengan Wulan dan berbisik.
Tia: Tuh kan. Minta diulang itu ndak memalukan.
Wulan: Tadi saya takut dia kesal.
Tia: Orang lebih kesal kalau kamu bilang "yes" padahal ndak ngerti.
Wulan: Cek kesehatan itu apa saja, Mbak?
Tia: Biasa. Ambil darah, rontgen, ditimbang. Agensi yang antar. Kamu cuma bawa paspor sama kertas dari Mr. Huang.
Wulan: Kalau saya ndak ngerti dokternya ngomong apa?
Tia: Ya pakai kalimatmu tadi. Minta diulang. Terus tulis di buku birumu itu.
Wulan: Mbak lihat buku saya?
Tia: Dari pesawat kamu buka-tutup buku itu terus. Isinya apa sih?
Wulan: Kalimat-kalimat. English sama Mandarin. Buat bertahan hidup.
Tia: Buku bertahan hidup. Aku suka namanya. Nanti tambahin satu kalimat dariku.
Wulan: Apa, Mbak?
Tia: Nanti. Kalau kamu sudah butuh, baru aku kasih.
Van pabrik untuk Tia sudah menunggu. Tia memasukkan nomornya ke LINE di HP Wulan.
Tia: Ini nomorku. Ada apa-apa, chat. Jam berapa pun.
Wulan: Jam dua pagi?
Tia: Kalau jam dua pagi, aku balas jam enam. Tapi pasti aku balas.
Wulan: Thank you, Mbak.
Tia: Wah, sudah pakai English.
Wulan: Latihan, Mbak. Biar mulutnya ndak kaget.
Tia: Sampai hari Minggu, Dik.
Di van menuju Taichung, Wulan membuka LINE dan mengetik untuk adiknya.
Wulan: Di, Mbak sudah sampai. Tolong bilang Ibu, nggih. Mbak sehat.
Adi: Alhamdulillah! Ibu nangis, Mbak. Katanya jangan lupa makan.
Wulan: Bilang Ibu, Mbak sudah makan roti di pesawat.
Adi: Roti apa? Enak?
Wulan: Roti isi kacang merah. Manis. Kayak roti di pasar Blitar, tapi lebih kecil.
Adi: Mbak, nanti fotoin salju ya.
Wulan: Di sini ndak ada salju, Di. Panas juga, kayak Surabaya.
Adi: Yah. Terus apa bedanya sama Surabaya?
Wulan: Tulisannya ndak bisa Mbak baca.
Wulan tersenyum sendiri, lalu memasukkan HP ke saku. Mr. Huang mulai menjelaskan sambil menyetir.
Mr. Huang: Your grandma is eighty-four. We call her Ama. She can walk, but slowly. She uses a walker.
Wulan: Walker?
Mr. Huang melepas satu tangan dari setir dan memperagakan orang berjalan sambil berpegangan pada sesuatu.
Mr. Huang: Like this.
Wulan: Oh. I understand.
Mr. Huang: Her granddaughter, Vivian, speaks good English. She works in Taipei, but she's home tonight. If you have a problem, you can talk to her.
Wulan: Vivian. Okay.
Ia menulis di buku biru: "Ama — 84 — walker — Vivian."
Malam itu van berhenti di depan gedung apartemen dengan toko perkakas di lantai dasar. Seorang laki-laki paruh baya keluar dari toko dan mengangguk pendek pada Wulan.
Mr. Huang: This is Mr. Lin. Vivian's father.
Wulan: Nihao. Good evening, Sir.
Pak Lin: Okay. Okay.
Hanya itu. Ia mengangkat koper hijau Wulan dan berjalan ke lift. Wulan tidak tahu apakah itu ramah atau tidak.
Di lantai enam, seorang perempuan muda berkacamata menunggu di pintu.
Vivian: Hi! You must be Wulan. I'm Vivian.
Wulan: Hi. Nice to meet you.
Vivian: Nice to meet you too. Come in, come in. Shoes here, slippers there.
Wulan memakai sandal rumah merah muda yang kebesaran.
Vivian: Are you hungry? We saved some dinner.
Wulan: A little. Eh… yes. Thank you.
Vivian: Don't be shy. Eat first, then rest. We'll talk about work on Saturday.
Wulan: Saturday. Okay.
Mereka makan di meja bundar: nasi, sayur tumis, dan sup bening. Pak Lin makan cepat tanpa bicara, lalu turun lagi ke toko.
Vivian: Is the food okay? Not too salty?
Wulan: It's good. Thank you.
Vivian: Do you eat pork?
Wulan: No. Sorry. I'm Muslim.
Vivian: No need to say sorry. I know. This soup is chicken.
Wulan mengangguk lega.
Apartemen itu kecil tapi rapi. Di ujung lorong, lampu kuning keluar dari sebuah kamar.
Vivian: That's Ama's room. She's still awake. Do you want to say hi?
Di kamar itu, seorang nenek kecil berambut putih duduk di tepi ranjang. Radio memutar lagu lama.
Wulan: Nihao, Ama.
Ama menatap Wulan lama sekali, matanya basah. Lalu ia menggenggam jari Wulan dan berkata pelan.
Ama: Ani?
Quick Meaning
- Sorry, can you say that again, slowly? — Maaf, bisa diulang, pelan-pelan?
- Health check — cek kesehatan
- within three days — dalam tiga hari
- Shoes here, slippers there. — Sepatu di sini, sandal rumah di sana.
- Don't be shy. — Jangan malu-malu.
Natural Phrase
- Look at the camera. — perintah biasa di loket imigrasi.
- Right hand here. Then left hand. — saat pemindaian sidik jari.
- Call me Wulan. — cara sopan memberi tahu nama panggilan.
Pakai Besok
Saat baru tiba dan dijemput:
- Sorry, can you say that again, slowly? — Maaf, bisa diulang pelan-pelan?
- Today, house. Three days, health check. Is that right? — Ulangi poin penting untuk memastikan.
- Call me Wulan. — Panggil saya Wulan. (ganti dengan namamu)
- Thank you. Nice to meet you. — Terima kasih. Senang bertemu.
One Line to Remember
Sorry, can you say that again, slowly?
Comprehension Check
- Apa "aturan pertama" dari Tia soal paspor dan kontrak?
- Apa tiga hal yang Mr. Huang sampaikan dengan menghitung jari?
- Menurut Tia, apa yang lebih membuat orang kesal daripada diminta mengulang?
- Siapa Vivian, dan kenapa ia penting untuk Wulan?
Prediction Prompt
Ama memanggil Wulan "Ani". Menurutmu siapa Ani?
Next Chapter Hook
Sabtu pagi, Vivian menempel selembar jadwal di pintu kulkas. Semuanya tampak jelas, sampai Wulan salah paham di baris kedua.