🎁 Bab 1–3 gratis di semua buku
BAB 3 · English ±40%

Pasar Pagi dan Joy

Kalimat berwarna biru adalah bahasa Inggris. Baca pelan-pelan, artinya ada di bagian bawah bab.

Recap

Hari kerja pertama Wulan dimulai dengan salah paham soal bubur dan diakhiri dengan laporan malam pertamanya untuk Vivian. Tengah malam Ama memanggil "Ani" dalam tidur, dan Wulan bertanya pada Tia siapa Ani.

Rabu minggu kedua, jam tujuh pagi. Pasar pagi dua blok dari apartemen sudah ramai: ember ikan, tumpukan kol, asap dari gerobak roti kukus.

Sebelum berangkat, Wulan sempat chat Tia yang baru pulang shift malam.

Wulan: Mbak, saya disuruh belanja sendiri ke pasar. Pertama kali.

Tia: Bagus. Bawa uang pas, bawa kantong sendiri.

Wulan: Kalau penjualnya ngomong cepat?

Tia: Tunjuk barangnya, angkat jari. Pasar itu bahasa tangan, Dik. Aku tiga tahun belanja cuma pakai jari.

Wulan: Kalau harganya saya ndak ngerti?

Tia: Lihat timbangannya, atau minta ditulis di kertas. Jangan kasih uang besar semua, nanti kamu bingung sendiri hitung kembaliannya.

Wulan: Nggih, Mbak. Eh, iya.

Tia: Terus soal yang kamu tanya Sabtu malam. Ani.

Wulan: Mbak sudah tahu?

Tia: Belum. Temanku ndak kenal. Katanya tanya saja ke pengasuh yang lain di sekitar gedungmu. Mereka biasanya tahu siapa datang, siapa pulang.

Wulan: Saya belum kenal siapa-siapa, Mbak.

Tia: Nanti juga kenal. Sudah, aku tidur dulu. Mataku sudah kayak lampu mau mati.

Wulan memegang daftar belanja dari Vivian, dua kolom lagi, dan membaca pelan-pelan.

Wulan: Cabbage, one. Tofu, two boxes. Ginger, a little. Eggs, ten.

Tadi malam Vivian menelepon dari Taipei dan menjelaskan semuanya.

Vivian: Just point and say the number. Most of them won't speak English, but they'll get it.

Wulan: Tunjuk, terus angka. Okay.

Vivian: Keep the receipt if they give you one. If not, no big deal.

Kios pertama menjual sayur.

Wulan menunjuk kol dan mengangkat satu jari.

Wulan: Yi. Satu. Eh… yi ge.

Penjual: Hao, hao!

Penjual menyebut harga terlalu cepat. Wulan menyodorkan uang; ibu itu mengambil yang pas dan menambah satu wortel, gratis.

Wulan: Xiexie!

Di kios tahu, seorang perempuan berjilbab abu-abu sedang menawar sambil menggendong keranjang. Mendengar Wulan bergumam "tahunya dua", ia menoleh.

Perempuan: Orang Indonesia, Mbak?

Wulan: Iya, Mbak! Dari Blitar.

Perempuan: Saya Cilacap. Baru ya? Kelihatan dari cara pegang dompetnya.

Wulan: Kelihatan sekali, Mbak?

Perempuan: Dipegang kayak mau dicopet. Santai saja. Tahu di sini bagus, yang kotak putih itu.

Wulan: Terima kasih, Mbak. Mbak kerja di gedung mana?

Perempuan: Jauh, dekat sekolah. Saya cuma belanja di sini tiap Rabu. Sudah, duluan ya. Majikan saya nunggu sayurnya.

Ia pergi sebelum Wulan sempat menanyakan nama, apalagi soal Ani. Wulan memandangi punggungnya yang hilang di antara ember ikan, lalu membeli dua kotak tahu putih dengan dua jari.

Di kios bumbu, Wulan menunjuk akar kecokelatan yang ia kira kunyit.

Di rumah, Ama mematahkan akar itu, menciumnya, lalu menggeleng. Wulan memotretnya.

Wulan: Vivian, sorry. I buy this for Ama soup. Is this right?

Vivian: Haha that's ginger, not turmeric.

Vivian: But it's fine. She'll use it for tea.

Wulan: Jahe. Aduh.

Wulan: Sorry. I will change it tomorrow?

Vivian: No need. Honestly. Ama loves ginger tea.

Wulan menulis di buku biru: "Ginger = jahe. Turmeric = kunyit. JANGAN TERTUKAR."

Jam sembilan, Wulan mengajak Ama ke taman kecil di depan gedung. Seorang perempuan mendorong kursi roda berisi kakek bertopi rajut sambil bernyanyi keras-keras. Ia melambai.

Joy: Hi! You're new, right?

Wulan: Eh… iya. Hi.

Joy: I'm Joy. I work in that building, the gray one. This is Akong. Say hi, Akong!

Wulan: I'm Wulan. From Indonesia.

Joy: I knew it! Indonesian. The hijab. I'm from the Philippines. Manila, sort of. Near Manila.

Wulan: How long you are in Taiwan?

Joy: How long have I been here? Seven years. Two families. This is my second.

Wulan: How long have you been… here. Oke.

Joy: You got it. And you? First week?

Wulan: Eh… minggu kedua. Second week.

Joy: Aw. Still in the scary part. How's your family? The Lins, right?

Wulan kaget Joy tahu nama majikannya.

Wulan: You know them?

Joy: Everyone knows everyone here, girl. Small park.

Joy menyapa Ama dalam Mandarin. Ama tersenyum lebar, lalu menepuk tangan Wulan.

Wulan: What she say?

Joy: She said you make good porridge.

Joy: Can I give you some tips? From one caregiver to another?

Wulan: Yes, please.

Joy menghitung dengan jari, seperti Mr. Huang di bandara.

Joy: One. Save your agency's number. Not just in your phone. Write it down somewhere too.

Wulan: Sudah. In my book.

Joy: Oh, you're organized. I like you already.

Joy: Two. Don't keep all your money in your room. Send some home, or put it in the bank.

Wulan: Why?

Joy: Just in case. Things go missing. Or you lose track. Nothing personal, just smart.

Wulan: Oke. Bank.

Joy: Three. If you don't understand something, ask. Don't just nod.

Wulan tersenyum. Itu hampir sama dengan kata Tia.

Akong tertidur. Wulan memberanikan diri.

Wulan: Joy, can I ask something?

Joy: Sure. Anything.

Wulan: Ama call me "Ani". Every day. Do you know Ani?

Joy melirik Ama dan merendahkan suara.

Joy: Ani. Yeah, I knew her a little. Nice girl. Quiet. She used to sit right here with Ama.

Wulan: Where she go?

Joy: I'm not sure, to be honest. The girl before you left in a hurry. One day she was here, the next day she wasn't.

Wulan: In a hurry?

Joy: Fast. Suddenly. I don't know why. Nobody told me.

Pergi mendadak. Perut Wulan terasa dingin.

Joy: Hey. Don't overthink it. People leave for all kinds of reasons.

Wulan: Iya. Eh… yeah.

Tapi di kepalanya, tidak ada yang oke sama sekali.

Sore hari, waktu Ama tidur, Wulan menelepon Tia lewat video. Tia baru bangun, rambutnya berdiri.

Tia: Kenapa mukamu kayak orang ketinggalan bus?

Wulan: Mbak, tadi saya kenalan sama orang Filipina. Joy namanya. Katanya Ani pergi mendadak.

Tia: Mendadak gimana?

Wulan: Kemarin masih ada, besoknya hilang. Ndak ada yang tahu kenapa.

Tia: Terus?

Wulan: Saya takut, Mbak. Jangan-jangan majikannya jahat. Jangan-jangan Ani kabur.

Tia: Majikanmu jahat?

Wulan: Ndak. Vivian baik. Pak Lin diam saja. Ama sayang sama saya.

Tia: Terus kenapa kamu takut sama cerita yang belum kamu tahu?

Wulan diam.

Tia: Dik, di sini banyak cerita. Separuh benar, separuh gosip taman. Kamu mau dengar aturan kedua?

Wulan: Aturan kedua?

Tia: Yang aku janjikan di bandara. Satu kalimat buat buku birumu.

Wulan membuka buku biru dan memegang pulpen.

Tia: Ask first. Don't guess.

Wulan: Ask first. Don't guess.

Tia: Tanya dulu. Jangan menebak. Kamu ndak tahu kenapa Ani pergi? Nanti, kalau sudah waktunya, tanya. Ke Vivian, bukan ke tukang gosip.

Wulan: Kalau Vivian marah?

Tia: Kalau kamu tanya sopan, orang jarang marah. Yang bikin masalah itu orang yang nebak-nebak terus cerita ke mana-mana.

Wulan: Joy bukan tukang gosip, Mbak. Dia baik. Dia kasih saya tips.

Tia: Tips apa?

Wulan: Simpan nomor agensi. Jangan simpan semua uang di kamar. Kalau ndak ngerti, tanya.

Tia: Wah. Itu tips yang benar. Temanmu pintar. Kenalin aku hari Minggu.

Wulan: Hari Minggu Mbak ke mana?

Tia: Taman dekat stasiun. Kayak biasa. Orang Indonesia, Filipina, Vietnam. Ada yang jual bakso segala.

Wulan: Bakso?

Tia: Bakso. Asli. Ndak seenak Blitar, tapi lumayan.

Wulan: Mbak, satu lagi. Tadi saya salah beli. Jahe, saya kira kunyit.

Tia: Aduh, Dik. Anak Tata Boga.

Wulan: Di sini bentuknya lain, Mbak! Lebih besar, lebih pucat.

Tia: Itu alasan. Terus dimarahi?

Wulan: Ndak. Vivian bilang Ama suka teh jahe. Malah dipakai.

Tia: Nah kan. Dua kali salah, dua kali ndak dimarahi. Mungkin rumah itu memang ndak seseram yang kamu bayangin.

Wulan: Mungkin, Mbak.

Tia: Bukan mungkin. Tanya dulu, baru takut. Itu urutannya.

Wulan: Kalau Mbak dulu, pernah takut sama majikan?

Tia: Pernah. Bulan pertama aku kira mandorku benci aku. Mukanya cemberut terus.

Wulan: Ternyata?

Tia: Ternyata giginya sakit. Tiga minggu. Begitu dicabut, dia senyum tiap pagi.

Wulan tertawa sampai harus menutup mulut supaya Ama tidak bangun.

Tia: Lihat? Kalau aku nebak, aku sudah minta pindah pabrik gara-gara gigi orang.

Wulan: Saya catat, Mbak. Gigi mandor.

Tia: Jangan tulis itu! Tulis kalimat tadi saja.

Sebelum magrib, Adi mengirim pesan.

Adi: Mbak, hari ini ngapain aja?

Wulan: Ke pasar. Beli kol, tahu, telur. Terus salah beli jahe.

Adi: Mbak kan jago masak.

Wulan: Semua orang bilang begitu. Mbak jadi malu.

Adi: Pasarnya kayak pasar Legi?

Wulan: Lebih bersih. Tapi ramainya sama. Ibu-ibunya juga suka kasih bonus kalau kita senyum.

Adi: Mbak sudah punya teman?

Wulan: Sudah. Orang Filipina. Namanya Joy. Ngomongnya English terus, cepat sekali, tapi lucu.

Adi: Mbak ngerti?

Wulan: Separuh. Separuhnya lagi Mbak minta diulang.

Adi: Ibu titip pesan. Jangan lupa makan, jangan lupa salat, jangan pinjam uang ke siapa-siapa.

Wulan: Bilang Ibu, tiga-tiganya Mbak ingat.

Malamnya laporan untuk Vivian lebih panjang dari minggu lalu.

Wulan: Good night Vivian. Ama ate porridge and egg. Ama walked in the park. She talked with Joy. Ama drank ginger tea. She is sleeping now.

Vivian: Look at you, full sentences! Glad she went outside.

Tadi ia mengecek bentuk lampau ate dan walked di buku biru sebelum mengirim.

Jam sepuluh, pesan dari nomor baru. Foto profilnya Joy dan Akong bertopi ulang tahun.

Joy: Hey it's Joy! Got your number from the building group chat lol

Wulan: Hi Joy. Thank you for today.

Joy: Anytime. Some of us hang out on Sundays. You should come.

Joy: So when's your day off?

Wulan menatap layar lama. Ia tidak tahu jawabannya.

Quick Meaning

  • Ask first. Don't guess. — Tanya dulu. Jangan menebak.
  • ginger / turmeric — jahe / kunyit
  • in a hurry — terburu-buru, mendadak
  • Just in case. — Buat jaga-jaga.
  • day off — hari libur

Natural Phrase

  • You got it. — betul, begitu (saat orang lain berhasil membetulkan kalimat).
  • Don't overthink it. — jangan terlalu dipikirkan.
  • No big deal. — bukan masalah besar.

Pakai Besok

Saat belanja dan berkenalan dengan sesama pekerja:

  • Sorry, I bought the wrong one. Is this okay? — Maaf, saya salah beli. Ini tidak apa-apa?
  • How long have you been here? — Sudah berapa lama di sini?
  • Can I ask you something? — Boleh saya tanya sesuatu?
  • That's a good tip. Thank you. — Itu saran yang bagus. Terima kasih.
  • Let me check and get back to you. — Saya cek dulu, nanti saya kabari.

One Line to Remember

Ask first. Don't guess.

Comprehension Check

  • Apa yang Wulan salah beli di pasar, dan apa kata Vivian?
  • Sebutkan tiga tips dari Joy.
  • Apa yang Joy tahu tentang Ani?
  • Kenapa Tia menyuruh Wulan bertanya ke Vivian, bukan menebak?

Prediction Prompt

Wulan tidak tahu kapan hari liburnya. Menurutmu, kepada siapa ia akan bertanya, dan bagaimana caranya?

Next Chapter Hook

Hari Minggu, Tia mengirim foto taman stasiun yang penuh orang. Wulan masih di dapur, memegang spons, dan belum berani bertanya satu kalimat pun.