Kue Beras di Pagar
Recap
Bening menyambut keluarga Yoon dengan kalimat hafalan dari buku tulis, lalu belajar dari Minjae bahwa pelan-pelan tidak apa-apa. Sore harinya ada kotak berpita di pagar hijau, dan Bu Marlina sudah bertanya-tanya di grup.
Minggu, jam enam pagi. Kotak berbungkus kain biru itu semalaman menginap di meja makan, belum dibuka.
Satya sudah duduk di kursi, dagunya menempel di meja.
Satya: Bunda, buka sekarang. Kalau isinya dinosaurus, buat aku ya.
Bening: Nggak ada tetangga yang ngasih dinosaurus pakai pita, Sat.
Simpulnya rapi sekali. Di dalamnya ada kotak plastik berisi kue kecil putih dan hijau pucat, ditaburi bubuk kacang. Di atasnya ada kartu tulisan tangan.
Bening: Sebentar, sebentar. Bunda baca dulu. "Thank you for your help. We're the new family at No. 7."
Satya: Artinya apa?
Bening: Terima kasih sudah dibantu. Kami keluarga baru di nomor tujuh.
Satya: Ini kue apa? Kayak mochi.
Bening: Mirip. Tapi Bunda nggak tahu namanya. Nanti kita tanya.
Satya: Kalau isinya racun gimana? Kata Bu Mar hati-hati.
Bening: Satya. Bu Mar itu hati-hatinya sama semua hal. Sama tukang sayur baru juga hati-hati. Sama kucing baru juga.
Satya: Sama aku juga?
Bening: Sama kamu paling hati-hati. Kamu kan pernah mecahin pot bunganya.
Satya: Itu bolanya, Bunda. Bukan aku.
Satya mencubit satu dan mengunyah. Matanya membesar.
Satya: Kenyal! Manisnya dikit!
Ponsel Bening bergetar. Grup WhatsApp RT 04 sudah bangun.
Pak Harsono: Selamat pagi. Mohon maaf kemarin saya tidak bisa ke Blok C, mengantar ibu kontrol rutin. Mbak Bening, data warga C-7 sudah dapat?
Bening: Pagi, Pak. Nama dan nomor HP sudah. Fotokopi paspor hari ini. Semoga Ibu sehat terus, Pak.
Pak Harsono: Aamiin, terima kasih. Soal kotak di pagar, saya sudah baca. Itu biasanya tanda terima kasih, Bu Mar. Jangan ramai dulu.
Bu Marlina: Saya kan cuma tanya, Pak. Namanya juga tetangga, harus waspada.
Pak Harsono: Waspada boleh, curiga jangan. Mbak Bening, nanti tolong disampaikan terima kasih dari RT juga. Pelan-pelan saja.
Belum sempat Bening menaruh ponsel, pagar besi berbunyi. Bu Marlina berdiri di luar dengan daster bunga-bunga dan wajah penasaran.
Bu Marlina: Mbak Bening. Kotaknya sudah dibuka? Isinya apa?
Bening: Kue, Bu. Dari keluarga Yoon. Ada kartunya, bilang terima kasih.
Bu Marlina: Oh. Kue.
Bu Marlina diam sebentar. Bening kenal diam yang seperti itu.
Bu Marlina: Saya nggak dapat, lho. Padahal saya yang rumahnya nempel sama mereka.
Bening: Masa sih, Bu? Coba kita lihat.
Mereka berjalan ke pagar No. 6. Di atas tembok pagar berjajar pot bunga kertas. Di balik pot yang paling besar, terselip kotak berbungkus kain biru, sama persis.
Satya: Itu! Ketutup bunga!
Bu Marlina: Ya ampun. Pantesan. Saya kira mereka cuma ngasih yang bisa bahasa Inggris.
Bening: Ya nggak mungkin, Bu. Rumah Ibu yang paling dekat.
Bu Marlina: Aduh, malu saya. Tadi malam saya sudah nulis di grup. Mana Pak RT sampai negur segala.
Bening: Nggak apa-apa, Bu. Pak RT juga cuma ngingetin. Nanti kalau ketemu mereka, Ibu senyum aja. Katanya Ibu jago senyum.
Bening: Kartunya pakai bahasa Inggris, Bu. Tapi kuenya bahasa semua orang.
Bu Marlina tertawa, lalu memukul pelan lengan Bening.
Bu Marlina: Mbak, nanti ke sana bilang terima kasih dari saya juga, ya. Saya mau bikin balasan dulu. Masa dikasih kue, balasnya cuma terima kasih.
Bening: Mau bikin apa, Bu?
Bu Marlina: Kue lapis. Yang paling ribet sekalian, biar kelihatan niat.
Bening: Wah, orang Blok C kalau minta maaf memang lewat kue, ya.
Bu Marlina: Siapa yang minta maaf? Saya cuma balas.
Jam tujuh, Bening dan Satya menyeberang ke No. 7. Seoyeon membuka pintu sebelum mereka mengetuk. Rambutnya diikat, celemeknya bertepung.
Seoyeon: Oh! Good morning! Please, come in.
Bening: Good morning. Thank you for the cake. It was delicious.
Seoyeon: You liked it? Really?
Satya: Enak! Aku makan tiga!
Bening: Satya.
Seoyeon: What did he say?
Bening: He ate three.
Seoyeon tertawa dengan tangan menutup mulut.
Seoyeon: Three is good. Three is perfect.
Bening: What is it called?
Seoyeon: Tteok. Rice cake. This one has soybean powder on top.
Bening: Tteok. Kue beras. Is it for a special day?
Seoyeon: In my family, when we move to a new house, we share tteok with the neighbors. It means, "please take care of us."
Bening: Everyone in Korea does that?
Seoyeon: Not everyone. Not anymore. Many young people don't do it now. But my mother always did. So I did.
Bening membuka buku tulis batiknya dan menulis: tteok, kue beras pindahan, "tolong jaga kami".
Seoyeon: You write everything?
Bening: Yes. I forget fast. Pelupa.
Bening: Mrs. Marlina says thank you too. Her box was behind a flower pot.
Seoyeon: Oh no. Did she think I forgot her?
Bening: Only for five minutes. Lima menit saja, habis itu ketemu.
Seoyeon menghela napas lega, lalu tersenyum.
Seoyeon: Is it strange? A box on the fence?
Bening: No. It's nice. Di sini juga ada, kok. Kalau ada yang pindahan atau syukuran, kita antar makanan ke tetangga. Here we do that too. We bring food to the neighbors.
Seoyeon: Really? So it's the same.
Bening: Almost the same. We're neighbors now.
Seoyeon mengulang kalimat itu pelan, seperti mencicipi.
Seoyeon: We're neighbors now. Tetangga?
Bening: Tetangga. Betul.
Minjae muncul dari ruang tengah membawa amplop cokelat.
Minjae: Good morning, Pak… no, Bu. Sorry. I say Pak to everybody.
Bening: It's okay.
Minjae: Passport copies. And our phone numbers. I promised tomorrow, and now it's tomorrow.
Ia tertawa sendiri. Seoyeon menggeleng.
Seoyeon: He thinks he's funny.
Bening: Terima kasih, Pak. I'll give it to Pak Harsono.
Yerin mengintip dari balik tangga dengan Bori di pelukan. Satya melambai dengan T-Rex. Yerin tidak membalas, tapi juga tidak lari.
Seoyeon melepas celemek.
Seoyeon: Are we still going to the market?
Bening: Yes. Let's go now, before it gets hot.
Pasar pagi di dekat gerbang depan sudah ramai. Seoyeon berjalan rapat di belakang Bening.
Seoyeon: So many people.
Bening: Stay close. Satya, pegang tangan Bunda.
Satya: Bunda, kenapa tante itu diam terus?
Bening: Bukan diam, Sat. Dia lagi lihat-lihat. Kalau kamu pindah ke negara lain, kamu juga bakal bingung.
Satya: Aku nggak bakal bingung. Aku bawa Rex.
Bening: Rex juga bakal bingung. Di sana nggak ada yang jual tahu isi.
Satya: Kalau gitu aku nggak mau pindah.
Di los perabot, tong sampah plastik bertumpuk dari yang kecil sampai sebesar drum. Penjualnya seorang ibu berkerudung.
Penjual: Cari apa, Bu? Tong sampah? Buat siapa? Kok bawa tamu?
Bening: Tetangga baru, Bu. Dari Korea. Yang pakai tutup, yang agak besar.
Penjual: Yang hijau ini kuat, Bu. Tutupnya rapat, kucing nggak bisa buka. Ada yang biru juga, tapi agak kecil.
Bening: Yang hijau aja, Bu. Keluarganya bertiga, sampahnya pasti banyak.
Penjual: Pindahan, ya? Pasti kardusnya numpuk. Nanti kalau butuh sapu sama pengki, ke sini lagi aja.
Seoyeon menunjuk tong hijau bertutup.
Seoyeon: This one? Is this okay?
Bening: That's a good one. It has a lid. Cats can't open it.
Seoyeon: There are many cats here.
Bening: Very many. Banyak banget.
Bening menoleh ke penjual.
Bening: Kucing di Blok C itu warga juga, Bu. Cuma nggak bayar iuran.
Penjual tertawa. Seoyeon ikut tertawa meski tidak paham, lalu mengeluarkan dompet dan menyerahkan uang dengan dua tangan. Si penjual, kaget, menerimanya dengan dua tangan juga.
Penjual: Sopan banget, ya. Makasih, Mbak.
Seoyeon: Terima kasih.
Penjual: Wah, bisa!
Mereka pulang sambil menggotong tong, Satya di tengah sebagai "pengawal". Di depan pagar No. 7, Bu Marlina sudah menunggu dengan piring bertutup serbet.
Bu Marlina: Mbak Bening, ini tolong dikasihkan. Kue lapis. Bikinan saya sendiri, baru angkat.
Bening: Ibu kasih langsung aja. Saya yang ngomong.
Bu Marlina menyodorkan piring. Seoyeon menerimanya dengan dua tangan dan membungkuk.
Bening: This is from Mrs. Marlina. Kue lapis. Layer cake. She made it herself.
Seoyeon: Oh, it's beautiful. So many layers.
Bening: Katanya cantik, Bu. Lapisannya banyak.
Bu Marlina: Sembilan lapis. Bilang, dikukus satu-satu, makanya lama.
Bening: Nine layers. She steamed them one by one.
Seoyeon: Wow. That takes a long time. Terima kasih, Bu.
Bu Marlina: Sama-sama, Mbak. Kuenya enak tadi. Kenyal. Bilang, nanti saya mau tanya resepnya. Tapi pelan-pelan, nanti Mbak Bening yang terjemahin.
Seoyeon menatap piring itu, lalu menatap Bening dengan cemas.
Seoyeon: But now I have to give something back. Is this okay? If I give her something again?
Bening: Then she'll give you something again.
Seoyeon: And then me again?
Bening: Yes. Forever. Sampai salah satu pindah rumah.
Seoyeon tertawa sampai matanya basah.
Bu Marlina: Dia ngomong apa, Mbak? Kok ketawa?
Bening: Katanya, kalau dia balas lagi, nanti Ibu balas lagi. Terus dia balas lagi. Nggak selesai-selesai, Bu.
Bu Marlina ikut tertawa keras sekali.
Bu Marlina: Nggak apa-apa! Saya kan jualan kue. Saya menang terus.
Bening: Awas, Bu. Dia kelihatannya jago masak juga.
Bu Marlina: Ya bagus. Blok C jadi gendut semua.
Dari balik pagar, Yerin dan Satya saling pandang lama sekali. Yerin mengangkat Bori sedikit. Satya mengangkat T-Rex sedikit. Tidak ada yang bicara.
Malam itu, saat Bening menyalin data paspor ke formulir RT, ponselnya berbunyi. Pesan dari Seoyeon.
Seoyeon: Thank you for today. Yerin says your son is "loud but nice."
Bening: That's true. Good night!
Satu menit kemudian, pesan lain masuk.
Seoyeon: One more question, sorry. Which day is garbage day? I made six bags.
Quick Meaning
- It was delicious. — Enak sekali.
- rice cake — kue beras
- We're neighbors now. — Sekarang kita tetangga.
- It has a lid. — Ada tutupnya.
- Stay close. — Jangan jauh-jauh.
Natural Phrase
- Thank you for the cake. — terima kasih yang langsung menyebut barangnya, lebih hangat daripada "thank you" saja.
- What is it called? — menanyakan nama makanan atau benda yang baru kita lihat.
- Before it gets hot. — alasan santai untuk berangkat pagi.
Pakai Besok
Saat menerima makanan dari tetangga:
- Thank you so much. It was really good. — Terima kasih banyak, enak sekali.
- What is it called? How do you make it? — Namanya apa? Cara bikinnya bagaimana?
- Is it for a special day? — Apakah ini untuk hari khusus?
- Here we do that too. — Di sini kami juga melakukan itu.
One Line to Remember
We're neighbors now.
Comprehension Check
- Kenapa Bu Marlina mengira dirinya tidak dapat kotak?
- Menurut Seoyeon, apa arti membagi tteok saat pindahan di keluarganya?
- Kenapa Bening menyarankan tong sampah yang bertutup?
- Apa arti It has a lid.?
Prediction Prompt
Enam kantong sampah dalam satu hari. Menurutmu, di mana Seoyeon akan menaruhnya besok pagi?
Next Chapter Hook
Bening mengetik jawaban, "Tuesday", lalu tertidur sebelum sempat menulis di mana kantong itu harus ditaruh.