🎁 Bab 1–3 gratis di semua buku
BAB 2 · English ±35%

Besok Interview

Kalimat berwarna biru adalah bahasa Inggris. Baca pelan-pelan, artinya ada di bagian bawah bab.

Recap

Dimas telat 40 menit, dapat panggilan interview dalam English hari Senin, dan Nara menjadwalkan latihan: Minggu, jam empat, jangan telat.

Minggu, jam tiga lewat lima puluh.

Kopi Teras belum terlalu ramai. Dua mahasiswa duduk di dekat pintu dengan laptop terbuka, dan seorang bapak membaca koran di meja tengah. Dari speaker kecil di atas kasir terdengar lagu akustik pelan. Untuk pertama kalinya sejak pindah ke Jakarta, Dimas datang lebih dulu dari janji. Ia sengaja berangkat jam tiga kurang, lewat jalan kecil di belakang Pancoran, dan tidak membuka Maps sama sekali.

Dimas sudah duduk di meja pojok Kopi Teras. Kali ini ia yang menunggu. Ia memotret meja kosong di depannya dan mengirimnya ke Nara.

Dimas: I'm here. 😎

Nara: Serius?

Dimas: Ten minutes early.

Nara: I'm impressed. Aku lima menit lagi.

Dimas: Take your time.

Nara: Wah, udah berani ngomong gitu sekarang.

Nara datang tepat jam empat, membawa laptop dan buku catatan kecil bersampul kuning. Rambutnya diikat asal, dan ia masih memakai kaus kantor dengan logo agensinya. Ia menaruh semuanya di meja, lalu menatap Dimas dari atas ke bawah seperti sedang memeriksa barang yang baru datang.

Nara: Good job. Tepat waktu.

Dimas: Aku berangkat jam tiga kurang. Nggak mau traktir Alya.

Nara: Alya nggak jadi datang. Dia ada deadline.

Dimas: Yah. Padahal aku udah siap mental.

Nara: Pesan dulu. Terus kita mulai.

Dimas berjalan ke kasir. Bayu sudah mengenalinya.

Bayu: Hi again! Gula aren, large, manis?

Dimas: Yes. Eh… same as yesterday, please.

Bayu: Same as yesterday. Got it.

Dimas kembali ke meja sambil tersenyum sendiri.

Nara: Kenapa senyum-senyum?

Dimas: Tadi aku bilang "same as yesterday" dan dia langsung ngerti.

Nara: Of course. Kalimat pendek itu yang paling sering dipakai orang. Oke. Ready?

Dimas: No.

Nara: Good. Nggak ada yang pernah siap. Kita mulai dari pertanyaan pertama.

Nara menggeser gelasnya ke samping, membuka buku catatan, lalu menegakkan punggung. Dalam sekejap, cara duduknya berubah. Ia bukan lagi sahabat SMA yang suka mengejek. Ia terlihat seperti orang yang setiap minggu menilai kandidat, dan suaranya berubah jadi formal.

Nara: Good morning, Dimas. Thank you for coming today.

Dimas: Good morning. Eh… thank you.

Nara: So, tell me about yourself.

Dimas membuka mulut. Lalu menutupnya lagi.

Dimas: My name is Dimas Prasetyo. I am… twenty-six years old. I was born in Malang. I graduated from… from Brawijaya University. My hobby is…

Ia berhenti.

Dimas: Ra, hobiku apa sih?

Nara menutup buku catatannya dan tertawa.

Nara: Stop, stop. Dim, ini bukan perkenalan kelas satu SD.

Dimas: Terus harusnya gimana? Di internet semua contohnya begitu.

Nara: Pewawancara nggak butuh umur kamu. Umur kamu udah ada di CV. Mereka mau tahu tiga hal: kamu sekarang ngapain, kamu bisa apa, dan kenapa kamu cocok buat posisi ini.

Dimas: Tiga hal.

Nara: Now, before, and why. Sekarang, sebelumnya, kenapa.

Dimas: Oke. Sekarang aku admin gudang.

Nara: Bilang dalam English.

Dimas: I work in a warehouse. As an admin.

Nara: Good. Apa yang kamu kerjain setiap hari?

Dimas: Ngecek barang masuk, barang keluar, bikin laporan stok, ngatur jadwal pengiriman.

Nara: Now say that in English. Simple words.

Dimas: I check… incoming goods and outgoing goods. I make stock reports. I… arrange delivery schedules.

Nara: That's really good. Tuh kan. Itu jawaban beneran.

Dimas: Serius?

Nara: Serius. Itu yang mereka cari. Posisi Operations Analyst kerjanya ngolah data operasional. Kamu udah ngelakuin itu setiap hari, cuma nggak pernah menyebutnya begitu.

Dimas memandangi gelasnya. Ia tidak pernah berpikir pekerjaannya di gudang ada hubungannya dengan "analyst". Selama ini ia selalu merasa pekerjaannya kecil: memindahkan angka dari kertas ke komputer, lalu dimarahi kalau ada yang salah. Mendengar Nara menyebutnya "data operasional" membuat pekerjaan itu terdengar lain.

Dimas: Terus bagian "kenapa"?

Nara: Why do you want this job? Jawab jujur. Pakai bahasa Indonesia dulu.

Dimas: Jujur ya? Karena gajinya lebih gede.

Nara: Selain itu.

Dimas: Karena… aku sering lihat masalah di gudang yang sebenarnya bisa dicegah kalau datanya dibaca lebih awal. Barang numpuk di satu tempat, kosong di tempat lain. Aku pengen kerja di bagian yang bisa benerin itu, bukan cuma nyatet.

Nara diam sebentar, lalu tersenyum.

Nara: Dim. That's your answer.

Dimas: Yang barusan?

Nara: Yang barusan. Tinggal diubah jadi English sederhana. Jangan cari kata yang keren. Say it simple.

Dimas mengambil napas.

Dimas: I see many problems in the warehouse. Some problems can be… prevented, if we read the data earlier. I want to fix the problem, not only… write it down.

Nara: Say it again, a little slower.

Dimas mengulang. Kali ini lebih lancar, tanpa "eh".

Nara: Much better. Kamu sadar nggak, kamu nggak pakai satu pun kata susah?

Dimas: Iya ya.

Nara: Dan itu jawaban yang lebih kuat daripada setengah kandidat yang pernah aku wawancara.

Nara: Oke, satu lagi sebelum istirahat. What are your strengths?

Dimas: Kelebihan aku? Duh. Aku paling nggak suka pertanyaan ini. Kesannya sombong.

Nara: Makanya jangan jawab pakai kata sifat doang. Jangan cuma bilang "I'm hardworking". Semua orang bilang gitu.

Dimas: Terus?

Nara: Kasih satu contoh nyata. Cerita kecil. Pernah nggak kamu nyelesaiin masalah di gudang?

Dimas mengingat-ingat. Ia membayangkan gudang di Cakung: rak-rak besi setinggi tiga meter, forklift yang bunyinya memekakkan telinga, dan papan tulis putih penuh coretan jadwal. Lalu matanya berbinar.

Dimas: Pernah. Bulan lalu. Ada barang yang katanya hilang, dua puluh karton. Semua orang panik, saling nyalahin. Aku cek ulang catatan tiga minggu terakhir, ternyata barangnya nggak hilang. Salah input kode rak. Barangnya ada, cuma di rak sebelah.

Nara: That's a great story. Terus?

Dimas: Terus aku bikin tabel sederhana di Excel supaya kode raknya dicek dua kali sebelum disimpan. Sejak itu nggak ada lagi barang "hilang".

Nara: Dim. Itu kelebihan kamu. Teliti, dan kamu nyelesaiin masalah pakai data. Sekarang ceritain dalam English. Kalimat pendek-pendek.

Dimas: Last month, twenty boxes were… missing. Everyone was panic.

Nara: Everyone panicked. Atau "everyone was worried". Tapi lanjut aja, jangan berhenti.

Dimas: Everyone was worried. I checked the records. The boxes were not missing. Wrong shelf code. So I made a simple checklist. Now we check the code two times.

Nara: Twice. "We check it twice."

Dimas: We check it twice.

Nara: And what happened after that?

Dimas: No more missing boxes.

Nara menepuk meja pelan.

Nara: That's it. Itu jawaban yang pewawancara ingat. Bukan "I'm hardworking", tapi "dua puluh karton yang ternyata nggak hilang".

Dimas: Tadi aku salah dua kali lho. "Panic" sama "two times".

Nara: Did I understand you?

Dimas: Kamu ngomong kayak Alya.

Nara: Karena Alya benar. Kamu salah dua kata kecil, tapi ceritanya jelas dari awal sampai akhir. Kalau besok kamu salah kayak gitu, just keep going. Jangan berhenti buat minta maaf.

Dimas: Just keep going.

Nara: Dan kalau kamu sadar salah, benerin singkat aja. "Sorry, I mean…" terus lanjut.

Dimas: "Sorry, I mean…" Oke. Itu gampang.

Nara: Semua kalimat yang kamu butuhin besok itu gampang, Dim. Yang susah cuma berani ngomongnya.

Ponsel Dimas bergetar. Sebuah email masuk. Ia membacanya, dan wajahnya berubah.

Nara: What is it?

Dimas: Dari HR. Konfirmasi jadwal besok.

Nara: Terus?

Dimas memutar layar ke arah Nara.

Nara: "Our Regional Operations Lead, Ms. Grace Lim, will join the interview via video call from Singapore."

Dimas: Ra. Orang Singapura. Lewat video.

Nara: Okay.

Dimas: Oke gimana? Aku bahkan belum tentu ngerti aksennya. Kalau sinyalnya jelek? Kalau aku nggak dengar pertanyaannya?

Nara: Then you ask.

Dimas: Nanya?

Nara: Nanya. Kamu bilang "Sorry, could you repeat the question?" Atau "Sorry, the connection is a bit bad." Orang yang sering meeting online bilang kalimat itu sepuluh kali sehari.

Dimas: Nggak kelihatan bodoh?

Nara: Yang kelihatan bodoh itu kalau kamu nggak dengar, terus jawab asal. Asking is professional.

Dimas mengetik kalimat itu di catatannya.

Dimas: "Could you repeat the question?" Oke. Terus kalau aku ngerti pertanyaannya, tapi butuh waktu mikir?

Nara: "That's a good question. Let me think for a second."

Dimas: Boleh ya pakai itu?

Nara: Semua orang pakai itu, Dim. Termasuk bosku. Dia pakai itu kalau belum tahu jawabannya.

Dimas tertawa. Ia menulis kalimat kedua.

Nara: Last one for today. Pertanyaan terakhir di setiap interview: "Do you have any questions for us?"

Dimas: Aku jawab "no" aja kan? Biar cepat selesai.

Nara: Jangan pernah jawab "no".

Dimas: Kenapa?

Nara: Karena kesannya kamu nggak tertarik. Siapin satu pertanyaan. Satu aja cukup.

Dimas: Misalnya?

Nara: What does a normal day look like in this role? Hari biasa di posisi ini kayak gimana.

Dimas mengulanginya pelan, tiga kali, sampai terdengar seperti kalimatnya sendiri.

Matahari mulai turun. Cahaya oranye masuk dari jendela dan jatuh di atas meja mereka. Kafe makin ramai: dua mahasiswa tadi sudah pergi, digantikan satu keluarga kecil dan sekelompok pekerja kantoran yang bicara keras soal target bulanan. Nara menutup laptopnya.

Nara: That's enough for today.

Dimas: Udah? Baru empat pertanyaan.

Nara: Empat pertanyaan yang kamu jawab bagus lebih penting daripada sepuluh yang kamu hafalin. Malam ini, latihan di depan cermin. Ngomong keras, jangan cuma dibaca.

Dimas: Di kos? Tetanggaku bisa dengar.

Nara: So what? Biar mereka ikut belajar.

Mereka keluar bersama. Udara sore Kemang terasa lembap, dan lampu-lampu toko di sepanjang jalan mulai menyala. Di parkiran, Dimas memakai helm, lalu berhenti.

Dimas: Ra.

Nara: Yeah?

Dimas: Thank you. Beneran.

Nara: You can thank me after you get the job.

Dimas menyalakan motor. Nara melambai sebentar, lalu menunduk ke ponselnya. Sebuah panggilan masuk. Ia menatap layar itu cukup lama, lalu menolak panggilannya dan memasukkan ponsel ke tas.

Dimas melihatnya dari balik kaca helm, tapi tidak bertanya.

Quick Meaning

  • Tell me about yourself. — Ceritakan tentang dirimu. — jawab: sekarang, sebelumnya, kenapa
  • Say it simple. — Katakan dengan sederhana.
  • Could you repeat the question? — Bisa ulangi pertanyaannya?
  • Let me think for a second. — Sebentar, saya pikirkan dulu.
  • Do you have any questions for us? — Ada pertanyaan untuk kami?

Natural Phrase

  • Same as yesterday, please. — pesanan yang sama seperti kemarin.
  • Take your time. — santai, nggak usah buru-buru.
  • So what? — "terus kenapa?", santai.

Pakai Besok

Untuk interview atau meeting online:

  • Sorry, the connection is a bit bad. Could you repeat that?
  • That's a good question. Let me think for a second.
  • What does a normal day look like in this role?

One Line to Remember

Say it simple.

Comprehension Check

  • Kenapa Nara menghentikan jawaban pertama Dimas?
  • Tiga hal apa yang ingin diketahui pewawancara?
  • Apa yang Dimas katakan kalau tidak mendengar pertanyaan dengan jelas?
  • Kenapa Dimas tidak boleh menjawab "no" di pertanyaan terakhir?

Prediction Prompt

Siapa yang menelepon Nara, dan kenapa ia menolaknya?

Next Chapter Hook

Senin, jam sepuluh. Lantai 21. Satu wajah dari Singapura di layar, dan satu pertanyaan yang tidak ada di daftar latihan.