Pesanan Kita Ketuker
Recap
Dimas belajar "say it simple" dan menyiapkan kalimat darurat untuk interview. Senin pagi ia berangkat ke Kuningan, tahu salah satu pewawancara akan muncul dari Singapura lewat video.
Rabu malam, jam tujuh lewat sepuluh. Restoran di Senopati itu penuh orang kantoran yang baru pulang: lampu gantung kuning, dinding bata, dan nasi goreng yang harganya tiga kali lipat warung depan kos Dimas.
Dimas datang lebih dulu dan duduk menghadap pintu. Motornya ia parkir dua gedung dari situ, karena tukang parkir di depan restoran memasang tarif sepuluh ribu dengan wajah yang tidak bisa ditawar. Dari mejanya ia bisa melihat dapur terbuka dan tiga koki yang bergerak cepat di depan wajan besar. Nara dan Alya masuk bersama, masih memakai kartu akses kantor di leher.
Nara: Lho. Kamu duluan lagi?
Dimas: Dua kali berturut-turut. Tolong dicatat.
Alya: Who are you, and what did you do with Dimas?
Dimas: Gue lagi tobat.
Nara: Terus kenapa traktir? Minggu kemarin kamu nggak telat. Nggak ada utang.
Dimas: Justru itu. Nggak telat, tapi tetap mau traktir. Kalian udah bantu banyak.
Alya: I'm not saying no to free food.
Nara: Me neither.
Seorang pelayan muda datang membawa menu dan buku pesanan kecil.
Pelayan: Selamat malam, Kak. Mau pesan sekarang?
Dimas: Nasi goreng kampung satu, Mas. Nggak pedas ya. Sama sekali.
Nara: Sop buntut sama es jeruk.
Alya: Nasi goreng juga, tapi tanpa udang ya, Mas. Saya alergi.
Pelayan itu mencatat, mengulang pesanan, lalu pergi.
Alya membuka tumbler hijaunya dan melihat sekeliling.
Alya: Tumben lo milih tempat kayak gini. Biasanya orang baru di Jakarta traktirnya pecel lele.
Dimas: Gue googling "restoran Senopati yang nggak malu-maluin". Ini yang keluar pertama.
Alya: Fair enough.
Nara: Okay. Tell us everything. Senin gimana?
Dimas: Where do I even start?
Alya: From the beginning. Lo sampai jam berapa?
Dimas: Jam sembilan lewat seperempat. Forty-five minutes early.
Nara: I'm so proud of you.
Dimas: Gue nunggu di lobi sambil ngulang jawaban di kepala. Satpamnya sampai nanya gue mau ketemu siapa, soalnya gue mondar-mandir terus kayak orang nyari kunci motor. Terus naik ke lantai 21. Liftnya cepet banget, kuping gue sampai budeg.
Alya: Pewawancaranya gimana?
Dimas: Pak Hendra dari HR ramah banget. Dia buka pakai bahasa Indonesia, nanya gue kena macet nggak. Gue bilang nggak, soalnya gue berangkat jam tujuh. Dia ketawa. Katanya baru kali ini ada kandidat yang datang kepagian sampai nungguin OB ngepel.
Nara: And Grace?
Dimas: Ms. Grace muncul di TV besar di ujung meja. Aksennya nggak seseram yang gue bayangin. Dia ngomongnya pelan, jelas, dan sering senyum. Cuma sekali aku harus minta dia ngulang.
Nara: Did you use our line?
Dimas: "Sorry, could you say that again?" Dia ulang, lebih pelan. Nggak ada drama.
Nara: And "tell me about yourself"?
Dimas: Lancar. Now, before, and why. Persis kayak latihan.
Nara: Told you.
Dimas: Tapi terus Grace nanya satu yang nggak ada di daftar.
Alya: Which one?
Dimas: "Tell me about a time you made a mistake at work."
Alya: Klasik. Everyone gets that one.
Dimas: Gue nggak tahu itu klasik! Otak gue langsung kosong.
Nara: Terus kamu ngapain?
Dimas: Aku inget kalimat kamu. Aku bilang, "That's a good question. Let me think for a second."
Nara: And?
Dimas: Grace senyum. Dia bilang, "Sure, no rush."
Nara: See? It works.
Dimas: Terus aku cerita jujur. Tahun lalu aku salah input stok. Harusnya tiga puluh, aku ketik tiga ratus. Kelebihan satu nol.
Alya: Satu nol. Ouch.
Dimas: Tim pembelian hampir nggak pesan barang, soalnya di sistem kelihatan masih banyak. Aku sadar dua hari kemudian, pas nyocokin sama barang di rak.
Nara: What did you tell Grace?
Dimas: "I made a mistake in the stock count. I typed three hundred, not thirty. I told my supervisor the same day. We fixed the order before it was late."
Alya: Before it was too late.
Dimas: Too late. Iya, itu. Terus aku bilang sekarang aku cocokin angka sistem sama barang fisik tiap Jumat.
Alya: That's a solid answer. Mistake, fix, lesson.
Nara: Kamu nggak nutup-nutupin. Itu yang mereka cari.
Dimas: Di akhir, Pak Hendra nanya aku ada pertanyaan atau nggak. Aku nggak jawab "no".
Nara: Smart move.
Dimas: Aku tanya hari biasa di posisi itu kayak gimana. Grace jawab panjang banget, hampir lima menit. Katanya separuh waktunya nanti di kantor, separuh lagi di gudang Cikarang. Kayaknya dia senang ditanya.
Alya: Orang selalu senang ditanya soal kerjaannya sendiri. Itu trik lama.
Dimas: Pak Hendra bilang hasilnya dikabari minggu ini. Sampai sekarang belum ada apa-apa.
Nara: Baru dua hari, Dim.
Dimas: Dua hari nunggu kabar itu rasanya kayak dua bulan. Tiap HP bunyi, gue loncat. Kemarin ternyata cuma promo pinjol.
Alya: Been there. Nunggu kabar kerja itu memang paling nyebelin.
Dua puluh menit kemudian restoran makin penuh. Rombongan kantor di meja panjang bernyanyi selamat ulang tahun dengan nada yang tidak kompak, dan para pelayan berlari kecil membawa piring di antara kursi. Makanan datang. Nasi goreng Dimas berwarna merah tua, penuh irisan cabai rawit. Di piring Alya, tiga ekor udang besar tersusun rapi di atas nasi.
Dimas menyendok besar-besar. Dua detik kemudian ia batuk dan wajahnya memerah.
Dimas: Air. Air, Ra.
Nara menyodorkan es jeruknya sambil menahan tawa.
Nara: Is it spicy?
Dimas: Very. Ini bukan nggak pedas. Ini level lima.
Alya menyingkirkan udang ke pinggir piring dengan sendok.
Alya: Punya gue ada udangnya. Padahal gue udah bilang.
Nara: Kamu nggak apa-apa?
Alya: Belum gue makan. I'm fine. Tapi gue nggak bisa makan ini.
Nara melirik meja sebelah. Seorang bapak berkemeja batik sedang menatap nasi goreng pucatnya dengan bingung, lalu menuang sambal banyak-banyak.
Nara: I think that's your rice, Dim.
Dimas: Pantes. Punya dia yang nggak pedas.
Nara: Panggil pelayan aja.
Alya: Wait. Dimas yang komplain.
Dimas: Gue?
Alya: Lo yang traktir, lo yang komplain. In English.
Dimas: Mas-mas tadi orang Indonesia.
Alya menunjuk laki-laki berkemeja hitam di dekat kasir. Name tag-nya: Kevin, Shift Manager.
Nara: Tadi aku dengar dia ngobrol sama tamu pakai English. Kayaknya dari Filipina.
Alya: This is real practice. Go on.
Dimas: Kalau gue salah ngomong?
Alya: Then he'll still bring you new rice.
Nara: Mulai pakai "excuse me". Bilang ada yang salah. Terus minta diganti.
Dimas: "Minta diganti" itu apa?
Alya: "Could we get this replaced?"
Dimas mengulanginya pelan dua kali, lalu mengangkat tangan. Kevin datang dengan senyum sopan.
Kevin: Hi, good evening. How's everything?
Dimas: Excuse me, I think there's a mistake with our order.
Kevin: Oh, I'm sorry. What happened?
Dimas: I ordered fried rice, not spicy. This one is very spicy.
Kevin: Ah, that's our spicy one.
Dimas: And my friend ordered no shrimp. She has allergy. Sorry, I mean, she's allergic to shrimp.
Kevin: Oh no. Did you eat any?
Alya: No, I didn't. I'm okay.
Kevin: Thank God. I'm really sorry about that. I think our orders got mixed up with the next table.
Dimas: Could we get this replaced?
Kevin: Of course. Two new plates, right away. One not spicy, one with no shrimp.
Dimas: Thank you. How long… eh, how long will it take?
Kevin: About ten minutes. And the iced tea is on us tonight. Sorry for the trouble.
Dimas: That's very kind. Thanks.
Kevin mengangkat dua piring itu, lalu berhenti di meja sebelah dan bicara pelan ke bapak berbatik, yang sekarang terlihat kepedasan karena sambalnya sendiri.
Dimas: Dia bilang apa tadi? On us?
Nara: Gratis. Es tehnya gratis.
Dimas: Gue komplain, malah dapat bonus?
Alya: That's what happens when you're polite. Lo nggak marah, nggak nyindir. Lo cuma bilang faktanya.
Dimas: Tapi tadi gue salah. "She has allergy."
Alya: Dan lo langsung benerin. Kevin bahkan nggak sadar.
Nara: Dan dia langsung nanya Alya udah makan atau belum. Karena kamu bilang "allergic". Itu kata paling penting malam ini.
Dimas: Jujur, tadi tangan gue dingin. Gue kira dia bakal ngomong cepat terus gue nggak ngerti.
Alya: Orang restoran itu tiap malam dikomplain. Yang bikin mereka capek bukan komplainnya, tapi tamu yang teriak-teriak. Lo tadi malah kayak nanya jalan.
Nara: Dan kamu nggak minta maaf lima kali. Biasanya kamu minta maaf dulu sebelum ngomong apa-apa.
Kevin kembali membawa empat gelas es teh, bukan tiga.
Kevin: One extra, just in case.
Dimas: You're a lifesaver.
Sepuluh menit kemudian dua piring baru datang. Dimas mencicipi pelan-pelan dulu, lalu tersenyum lebar.
Dimas: Nah. Ini baru nasi goreng.
Nara: Itu nasi yang dikasih sedikit kecap.
Dimas: Still delicious.
Ponsel Dimas bergetar di samping piring. Sebuah email masuk. Ia membaca nama pengirimnya, lalu berhenti mengunyah.
Nara: Who is it?
Dimas: Pak Hendra.
Alya: Read it. Out loud.
Dimas: "Dear Dimas, thank you for your time on Monday. We are happy to invite you to the second stage."
Nara: Tahap dua! Dim!
Dimas: Tunggu, masih ada. "You will give a short presentation, ten minutes, next Monday. The topic is: How would you improve stock accuracy in our warehouse?"
Alya: That's literally your story. Dua puluh karton itu.
Dimas: Ada satu kalimat lagi. "Ms. Grace Lim will be in Jakarta next week and will join in person."
Nara: In person. Bukan di layar lagi.
Dimas menatap nasi gorengnya yang tidak pedas sama sekali. Tapi keringatnya keluar lagi.
Quick Meaning
- Excuse me, I think there's a mistake with our order. — Permisi, sepertinya pesanan kami salah.
- Could we get this replaced? — Bisa minta diganti?
- She's allergic to shrimp. — Dia alergi udang.
- It's on us. — Ini gratis dari kami. — kata pihak restoran/tuan rumah
- Tell me about a time you made a mistake at work. — Ceritakan saat kamu pernah salah di tempat kerja.
Natural Phrase
- Sure, no rush. — santai saja, tidak usah buru-buru.
- Ouch. — reaksi saat mendengar sesuatu yang "sakit" atau memalukan.
- You're a lifesaver. — terima kasih karena sangat menolong.
Pakai Besok
Kalau pesananmu salah di restoran:
- Excuse me, I think this isn't what I ordered. — Permisi, sepertinya ini bukan pesanan saya.
- I asked for no chili. Could I get a new one? — Saya minta tanpa cabai. Boleh minta yang baru?
- I'm allergic to shrimp. Is there any shrimp in this? — Saya alergi udang. Ada udangnya?
- No worries, thanks for fixing it. — Nggak apa-apa, makasih sudah diperbaiki.
One Line to Remember
Could we get this replaced?
Comprehension Check
- Kesalahan apa yang Dimas ceritakan kepada Grace, dan bagaimana ia memperbaikinya?
- Kenapa Alya menyuruh Dimas yang komplain?
- Kalimat apa yang Dimas pakai untuk membetulkan "She has allergy"?
- Apa arti "the iced tea is on us"?
Prediction Prompt
Presentasi sepuluh menit, Grace di ruangan yang sama. Apa yang paling Dimas takutkan?
Next Chapter Hook
Senin depan, sepuluh menit, satu pertanyaan: How would you improve stock accuracy in our warehouse? Dan kali ini Grace tidak ada di layar.