Telat 40 Menit
Sabtu, jam empat lewat dua puluh. Kopi Teras sedang ramai.
Nara sudah duduk di meja pojok dekat jendela sejak jam tiga lewat empat puluh. Es di gelas latte-nya sudah tinggal setengah. Ia melirik ponsel. Pesan terakhir dari Dimas dikirim dua puluh menit yang lalu.
Dimas: Otw. Sepuluh menit lagi sampai.
Nara mengetik balasan.
Nara: Sepuluh menit versi kamu atau versi Maps?
Dimas: Versi Maps 😅
Nara: So, thirty minutes.
Dimas: Jangan gitu. I'm almost there.
Nara: Where are you now?
Dimas: Pancoran.
Nara: Dimas. Itu belum "almost there".
Pintu kafe terbuka dua puluh menit kemudian. Dimas masuk dengan helm masih di tangan, rambut berantakan, jaket basah di bagian bahu. Ia melihat sekeliling, lalu menemukan Nara yang melambaikan tangan tanpa senyum.
Dimas: Nara! Sorry, sorry, sorry.
Nara: You're forty minutes late. Empat puluh menit, Dim.
Dimas: I know, I know. Tadi macet banget di Pancoran. Ada perbaikan jalan, terus gerimis, terus—
Nara: Terus Maps bilang dua puluh menit.
Dimas: …Iya.
Nara: Dan kamu percaya.
Dimas: My bad. Beneran. Aku traktir, deh.
Nara: Nggak usah. Duduk dulu. Kamu kayak habis dikejar orang.
Dimas duduk dan menaruh helm di kursi sebelah. Ia menarik napas panjang.
Dimas: How long have you been here? Udah lama banget ya?
Nara: Long enough to finish half my coffee. Setengah gelas.
Dimas: I'm really sorry. Serius, Ra.
Nara: It's okay. Aku juga baru selesai balas email kerjaan. Jadi impas.
Dimas tersenyum lega. Empat tahun tidak bertemu, dan Nara masih sama: kesal sebentar, lalu memaafkan.
Nara: Order something first. Kamu belum minum apa-apa.
Dimas melihat papan menu di atas kasir. Tulisannya kecil-kecil. Espresso, americano, cold brew, flat white, magic, piccolo.
Dimas: Ini bedanya flat white sama latte apa sih?
Nara: Less milk, stronger coffee. Susunya lebih sedikit, kopinya lebih kerasa.
Dimas: Wah, berarti bukan buat aku. Aku yang manis aja.
Ia berjalan ke kasir. Barista di balik meja, laki-laki muda dengan apron cokelat dan name tag "Bayu", tersenyum padanya.
Bayu: Hai, Kak. What can I get you?
Dimas diam sebentar. Ia tidak menyangka akan ditanya dalam English.
Dimas: Eh… kopi susu gula aren, satu.
Bayu: Hot or iced?
Dimas: Iced. Es.
Bayu: Regular or large?
Dimas: Regular. Eh, large aja deh. Hari ini panjang.
Bayu: Sugar level? Normal atau less sugar?
Dimas: Normal. Yang manis. Very sweet.
Bayu tertawa kecil.
Bayu: Got it. Atas nama siapa, Kak?
Dimas: Dimas.
Bayu: Anything else?
Dimas: That's all. Eh, that's it. Makasih.
Bayu: It'll be ready in five minutes. Nanti dipanggil ya, Kak.
Dimas kembali ke meja. Nara menatapnya sambil menahan senyum.
Nara: Tadi kamu jawab "that's all", terus ganti "that's it".
Dimas: Kedengaran ya? Aku tiba-tiba bingung mana yang bener.
Nara: Both are fine. Dua-duanya bener. Kamu nggak perlu mikir selama itu.
Dimas: Justru itu masalahnya, Ra. Aku selalu mikir kelamaan.
Nara mengangkat alis.
Nara: Omong-omong, udah berapa lama kamu di Jakarta?
Dimas: Tiga bulan. Three months.
Nara: Dan kita baru ketemu sekarang.
Dimas: Aku sibuk nyesuain diri, Ra. Kerja di gudang, pulang malam, kos kecil di Pancoran. Tiap weekend cuma tidur.
Nara: Do you like it here?
Dimas: Jakarta? Not yet. Macetnya bikin gila. Tapi aku nggak mau pulang ke Malang sebelum punya kerjaan yang bener.
Nara: I get it. Aku juga gitu dulu, tahun pertama. Tiap malam telepon Ibu, bilang pengen pulang.
Dimas: Terus?
Nara: Terus aku dapat kerjaan yang aku suka. Pelan-pelan betah.
Nara: Oke. What's going on? Di chat kamu bilang ada yang mau diceritain.
Dimas mengeluarkan ponselnya dan membuka email. Ia memutar layar ke arah Nara.
Dimas: Aku dapat panggilan interview.
Nara membaca cepat. Matanya membesar.
Nara: Operations Analyst? Di perusahaan logistik yang di Kuningan itu?
Dimas: Iya.
Nara: That's great! Dim, itu bagus banget! Kapan?
Dimas: Senin. Jam sepuluh.
Nara: Senin ini? Dua hari lagi?
Dimas: Yeah.
Nara: Terus kenapa muka kamu kayak orang mau ujian nasional?
Dimas menggulir layar ke bawah dan menunjuk satu kalimat. Nara membacanya keras-keras.
Nara: "The interview will be conducted in English."
Dimas: Nah. Itu.
Nara: Okay. Terus?
Dimas: Terus aku panik, Ra. Terakhir aku interview pakai English, dua tahun lalu, aku cuma bisa jawab setengah. Aku ngerti pertanyaannya, tapi mulutku nggak jalan.
Nara: Kamu ngerti pertanyaannya?
Dimas: Ngerti. Aku nonton film tanpa subtitle kok. Tapi kalau harus ngomong, otakku nerjemahin dulu kata per kata. Pas udah selesai nerjemahin, orangnya udah nanya hal lain.
Bayu memanggil dari kasir.
Bayu: Iced palm sugar latte for Dimas!
Dimas: Itu aku?
Nara: That's you. Gula aren itu palm sugar.
Dimas mengambil minumannya dan kembali duduk. Ia minum sedotan pertama, lalu mengangguk puas.
Dimas: Nah. Ini baru kopi.
Nara: Itu susu yang dikasih sedikit kopi.
Dimas: Same thing.
Nara tertawa. Lalu ia melipat tangan di atas meja.
Nara: Oke, Dim. Aku mau tanya satu hal. Do you want this job?
Dimas: Yes. I really want it. Gajinya naik hampir dua kali. Dan aku nggak mau kerja di gudang terus.
Nara: Then we practice.
Dimas: Hah?
Nara: Latihan. Mulai besok. Aku sering interview kandidat di kantor. Aku tahu pertanyaannya biasanya apa aja.
Dimas: Kamu nggak sibuk?
Nara: Sibuk. Tapi Minggu sore aku kosong.
Pintu kafe terbuka lagi. Seorang perempuan dengan kemeja linen biru dan tumbler hijau di tangan masuk sambil melepas kacamata hitam. Ia langsung berjalan ke meja mereka.
Alya: Ra! Sorry I'm late.
Nara: Kamu juga telat? Hari ini semua orang telat.
Alya: Lima menit, Ra. Lima. That doesn't count.
Nara: Everything counts. Dim, ini Alya. Temen kantor lamaku. Alya, ini Dimas. Temen SMA-ku dari Malang.
Alya: Hi, nice to meet you.
Dimas: Eh… nice to meet you too.
Alya duduk, menatap Dimas sebentar, lalu menatap gelas besar di depannya.
Alya: Gula aren? Large? Berani juga lo.
Dimas: Hari ini berat.
Alya: Why? What happened?
Nara: Dia ada interview hari Senin. In English.
Alya: Oh, nice! Posisi apa?
Dimas: Operations Analyst.
Alya: Terus kenapa lo kelihatan takut?
Dimas: Karena aku… gue… nggak lancar ngomong English.
Alya: Lancar itu gimana?
Dimas: Ya… nggak salah grammar. Ngomongnya cepat. Kayak kalian.
Alya tertawa pendek.
Alya: Dimas. Gue tiap minggu wawancara user dari Australia, Singapura, India. Grammar mereka juga nggak sempurna. Yang penting orang ngerti maksud lo. Meaning first, grammar later.
Dimas: Makna dulu, grammar belakangan?
Alya: Exactly. Kalau lo lupa satu kata, bilang aja. "Sorry, I forgot the word." Terus jelasin pakai kata lain. Itu normal banget.
Dimas: Boleh ya kayak gitu di interview?
Alya: Boleh. Justru kelihatan tenang. Yang bikin jelek itu kalau lo diem lama.
Alya: Coba sekarang. Quick test. Gue tanya, lo jawab. Nggak usah mikir grammar.
Dimas: Sekarang? Di sini?
Alya: Why not? How was your day?
Dimas: Eh… My day was… macet. Traffic. Very bad traffic.
Alya: Good. What happened?
Dimas: I was late. Forty minutes. Nara… angry.
Nara: I wasn't angry. Aku cuma kecewa.
Alya: See? Lo barusan cerita. Kalimatnya pendek, tapi gue ngerti semuanya.
Dimas: Tapi grammar-nya berantakan.
Alya: Did I understand you?
Dimas: Yes.
Alya: Then it worked. Sekarang ulang, pelan-pelan, pakai kalimat utuh.
Dimas: I was late because… the traffic was bad. Gitu?
Alya: Perfect. Tuh kan. Lo bisa, cuma butuh waktu dua detik lebih lama. That's fine.
Nara: See? Bukan cuma aku yang bilang.
Dimas memutar-mutar gelasnya.
Dimas: Oke. Terus kalau mereka nanya "Tell me about yourself"? Itu aku bingung mulai dari mana.
Alya: Besok aja dibahas. Nara pasti udah punya rencana.
Nara: Of course I do.
Alya berdiri dan mengambil tumblernya.
Alya: Gue pesen dulu. Anyone want anything?
Dimas: Nggak, makasih. Ini aja belum habis.
Alya: Okay.
Ia berjalan ke kasir. Dimas memperhatikan Alya mengobrol dengan Bayu, cepat dan santai, setengah Indonesia setengah English, tanpa berhenti mikir.
Dimas: Ra, aku pengen bisa ngomong kayak gitu.
Nara: You will.
Dimas: Dalam dua hari?
Nara: Nggak. Dalam dua hari kamu cuma perlu bisa jawab lima pertanyaan dengan tenang. Sisanya nanti.
Dimas: Lima pertanyaan?
Nara: Lima. Just five. Aku tulis sekarang.
Nara membuka notes di ponselnya dan mengetik cepat. Lalu ia mengirimnya ke Dimas.
Dimas membaca:
- Tell me about yourself.
- Why do you want this job?
- What are your strengths?
- Tell me about a problem you solved.
- Do you have any questions for us?
Dimas: Kayaknya ini gampang kalau dibaca.
Nara: Semua gampang kalau dibaca. Saying it out loud is different.
Dimas: Oke. Besok jam berapa?
Nara: Jam empat. Di sini.
Dimas: Jam empat.
Nara menatapnya lurus-lurus.
Nara: Jam empat, Dimas. Bukan jam empat versi Maps.
Dimas: I know, I know.
Nara: Kalau kamu telat lagi…
Dimas: Aku yang traktir.
Nara: You're paying for everything. Semuanya. Punyaku, punya Alya.
Alya kembali dengan tumbler penuh.
Alya: Apa? Gue ditraktir?
Nara: Besok. Kalau Dimas telat.
Alya: Then I hope you're late.
Dimas: No way. Besok aku berangkat jam tiga.
Nara: We'll see.
Dimas tertawa, dan untuk pertama kalinya hari itu ia merasa sedikit lebih ringan.
Quick Meaning
- I'm almost there. — Aku hampir sampai.
- You're forty minutes late. — Kamu telat empat puluh menit.
- What can I get you? — Mau pesan apa? — sapaan standar kasir kafe
- Sorry, I forgot the word. — Maaf, aku lupa katanya.
- Meaning first, grammar later. — Makna dulu, grammar belakangan.
Natural Phrase
- I know, I know. — mengakui salah sambil sedikit malu.
- My bad. — "salahku", santai, untuk kesalahan kecil.
- That's all. / That's it. — dua-duanya dipakai saat selesai memesan.
Pakai Besok
Kalau kamu telat, coba kirim:
- Sorry, I'm running late. — Maaf, aku agak telat.
- I'll be there in ten minutes. — Sepuluh menit lagi aku sampai.
- Order something first, I'll be there soon. — Pesan duluan aja, sebentar lagi aku sampai.
Di kafe:
- Iced, regular, less sugar, please.
- That's all, thanks.
One Line to Remember
Meaning first, grammar later.
Comprehension Check
- Kenapa Dimas telat, dan apa yang ia janjikan pada Nara?
- Apa arti palm sugar?
- Apa masalah Dimas setiap kali harus bicara English?
- Apa saran Alya kalau Dimas lupa sebuah kata?
Prediction Prompt
Besok jam empat. Menurutmu Dimas datang tepat waktu?
Next Chapter Hook
Besok sore, lima pertanyaan. Pertanyaan pertama kedengarannya paling gampang, dan justru di situ Dimas macet.