Kopi Pagi Komite
Recap
Rindang membalas grup "5B Parents" sendiri dengan "Noted, thank you!" dan satu stiker kucing joget. Malamnya Kasturi mengirim pesan pribadi: "Come on Thursday. I'll save you a seat."
Kamis, jam enam pagi. Papan kecil di kulkas sudah berganti tulisan.
Hi, I'm Lintar's mum.
Rindang: Lin, ini doang? Kemarin Mak minta kalimat yang panjang.
Lintar: That's all you need, Mak. Nanti semua orang kenalan pakai itu.
Rindang: Terus habis itu Mak ngomong apa?
Lintar: Senyum. Minum kopi.
Rindang: Kalau Mak ditanya macem-macem sama mereka?
Lintar: Bilang aja sorry, slowly please. Mak kan udah hafal.
Rindang: Itu kan buat darurat.
Lintar: Ngopi sama orang tua sekolah itu darurat buat Mak.
Rindang: Kamu hari ini makan apa? Mak bawain nasi uduk lagi, ya?
Lintar: No, Mak. I'll buy bread.
Rindang: Roti terus. Nanti kamu kurus kayak tiang listrik.
Lintar: I'm fine. Beneran.
Rindang: Kotaknya Mak masukin tas aja. Kalau lapar, makan.
Lintar: Mak…
Rindang: Kalau nggak lapar, bawa pulang. Nggak ada yang marah.
Lintar diam, lalu mengangguk kecil. Kotak biru masuk ke tas.
Emak: Rin, lempernya sekotak cukup? Dua puluh biji.
Rindang: Cukup, Mak. Masa ke acara orang bawa tangan kosong.
Emak: Itu kopi pagi, Rin, bukan kondangan.
Rindang: Sama aja, Mak. Orang Tangerang nggak datang tangan kosong.
Emak: Terus nasi kotak pesanan Pak RT jam sepuluh gimana?
Rindang: Aku balik jam sembilan. Kalau telat, Mak yang tutup kotaknya, ya. Tiga puluh kotak, sambalnya dipisah.
Emak: Iya. Sana. Jangan lupa senyum. Muka kamu kalau tegang kayak orang nagih utang.
Lintar: Bener, Mak. Smile.
Rindang menyalin kalimat kulkas di halaman belakang buku pesanan batiknya, di bawah "Noted, thank you!". Tangannya sudah berkeringat padahal belum berangkat.
Di gerbang, Pak Darusman melihat kotak di tangannya.
Pak Darusman: Wah, Bu Rindang bawa lemper. Buat saya?
Rindang: Buat ibu-ibu komite, Pak. Tapi Bapak ambil satu, deh.
Pak Darusman: Rapat sama bule, Bu?
Rindang: Ngopi, Pak. Katanya ngopi. Tapi saya deg-degan kayak mau ujian.
Pak Darusman: Santai, Bu. Kalau bingung, senyum aja. Saya tiga tahun di sini modal senyum.
Rindang: Kalau mereka nanya panjang, Pak?
Pak Darusman: Bilang "yes". Terus kabur ke toilet.
Rindang: Bapak sama Bang Darma kok ilmunya sama. Kalian satu perguruan, ya?
Kafe orang tua ada di lantai dasar, di sebelah perpustakaan. Dinding kaca, meja bundar, papan tulis bertuliskan Welcome, 5B parents! Semua orang sedang tertawa entah soal apa.
Kasturi: There you are! Bu Rindang, sini. Kursinya sudah saya simpan.
Rindang: Makasih, Bu. Saya bawa lemper sedikit.
Kasturi: Aduh, repot-repot. Taruh di tengah saja, Bu. Nanti pasti habis.
Rindang: Bu, ini acaranya lama?
Kasturi: Sejam, paling lama. Santai saja. Kalau ada yang nggak jelas, tanya saya.
Di sebelah kursinya, seorang bapak berkacamata mengetik di laptop. Bapak di tangga, hari pertama.
Sebastian: Oh, hello! Sorry, just finishing an email. I'm Sebastian.
Rindang: Hi. Rindang.
Sebastian: Nice to meet you. Is this your first coffee morning?
Rindang: Yes. First.
Sebastian: Mine too! Well, second. I went to the wrong room last week.
Rindang hanya menangkap "wrong room", tapi dari cara Sebastian menepuk dahinya sendiri, ia tahu itu lucu. Ia tertawa sedikit terlambat.
Ibu berkerudung di sebelah kirinya mencondongkan badan.
Nadine: Ibu orang sini juga, ya? Saya Nadine, mamanya Kenzo.
Rindang: Iya, Bu. Rindang, mamanya Lintar. Rumah saya di Cipondoh, Bu.
Nadine: Oh, dekat. Saya Tangerang Kota. Pertama kali ikut, ya?
Rindang: Iya. Saya takut nggak ngerti, Bu.
Nadine: Sama. Tahun lalu saya cuma ngangguk-ngangguk sejam. Pulang-pulang ternyata saya daftar jadi panitia.
Rindang: Hah? Serius?
Nadine: Serius. Makanya hati-hati kalau ngangguk.
Kasturi mengetuk cangkir dengan sendok.
Kasturi: Okay, everyone, let's get started. We'll keep it short, I promise. Let's go around the table. Name, and whose parent you are.
Rafael: Hi, I'm Rafael. Mira's dad.
Nadine: Hi everyone, I'm Nadine. Kenzo's mum.
Rindang membaca kalimatnya dalam hati berulang-ulang.
Sebastian: I'm Sebastian, Cas's dad. I work from home, so I'm the one who forgets everything.
Semua tertawa. Lalu semua mata berpindah ke Rindang.
Rindang: Bismillah dulu.
Sebastian: Sorry?
Rindang: Hi, I'm… Lintar's mum. Rindang.
Kasturi: Welcome, Rindang!
Beberapa orang mengangguk. Tidak ada yang tertawa. Rindang menghembuskan napas yang ia tahan sejak di tangga.
Nadine: Tuh, bisa. Lancar.
Rindang: Lancar apanya, Bu. Lutut saya gemeteran.
Nadine: Nggak kelihatan. Yang kelihatan cuma lempernya. Wanginya sampai sini.
Rindang: Itu daun pisangnya, Bu. Dibakar dikit biar wangi.
Nadine: Pantes. It smells amazing.
Kasturi: And Rindang brought us lemper. Please help yourselves.
Sebastian sudah membuka satu. Ia menggigit, berhenti, lalu melihat isinya dengan serius.
Sebastian: Wait, what's inside? Is it chicken?
Rindang: Yes. Chicken. Ayam.
Sebastian: Chicken and sticky rice? In a leaf?
Rindang: Yes, yes. Daun pisang.
Sebastian: This is so good. Did you make these?
Rindang: Yes. I make. Every day.
Sebastian: Every day? Wow. Terima kasih banyak-banyak.
Ia mengambil satu lagi. Rindang pura-pura tidak menghitung, tapi ia menghitung. Itu yang kedua.
Nadine: Bu, itu bapaknya ambil dua. Enak berarti.
Rindang: Atau lapar, Bu.
Nadine: Dua-duanya. Katanya dia nggak bisa masak. Istrinya kerja di luar negeri.
Rindang: Kasihan. Terus anaknya makan apa?
Nadine: Beli. Tiap hari beli. Anaknya lucu, sih, tapi berisik.
Rindang: Anak saya kebalikannya, Bu. Di rumah ngomong terus, di sekolah katanya diem.
Nadine: Namanya juga baru. Kenzo dulu sebulan nggak mau ngomong sama siapa-siapa.
Rindang: Terus sekarang?
Nadine: Sekarang nggak bisa disuruh diem.
Kasturi: Right. Three things today. Library helpers, the field trip next week, and the bazaar in October.
Rindang: Bu Nadine, bazar Oktober itu apa?
Nadine: International Day, Bu. Acara besar sekolah. Tiap kelas pegang stan. Rame banget.
Kasturi: First, library helpers. One morning a week. Who's in?
Tangan-tangan terangkat. Rafael, Nadine, dua orang lagi.
Kasturi: Great. Next, the field trip. We still need one helper.
Seorang ayah: I can do it.
Kasturi: Perfect. And the bazaar. We'll need people for games, decorations, and food.
Kata "food" terdengar jelas. Rindang menegakkan punggung. Itu wilayahnya.
Rindang: I can help with food.
Tapi suaranya kecil, dan pada saat yang sama Rafael bicara lebih keras soal dekorasi, dan dua ibu di ujung meja tertawa. Kalimatnya tenggelam seperti batu kecil di kolam.
Kasturi: Decorations, noted. We'll sort out food later.
Sebastian: Did you say something?
Rindang: No. It's okay.
Nadine: Tadi Ibu ngomong, kan? Saya dengar.
Rindang: Nggak apa-apa, Bu. Nanti aja.
Nadine: Nanti tuh nggak ada, Bu. Di sini yang suaranya keras yang kebagian.
Rindang: Suara saya kecil, Bu. Dari dulu.
Nadine: Di dapur juga kecil?
Rindang: Di dapur mah Emak saya bilang kayak toa masjid.
Nadine: Nah. Anggap aja ini dapur.
Rindang menunduk dan menulis di buku pesanan supaya kelihatan sibuk. Yang ia tulis cuma "food, food, food".
Kasturi: One more thing. Please sign the volunteer form before you go.
Map bening berpindah tangan. Rindang membaca judulnya: Volunteer Sign-up. Kata itu pernah ia dengar di televisi. Soal sumbangan.
Rindang: Bu Nadine, ini bayar, ya? Saya nggak bawa uang banyak.
Nadine belum sempat menjawab. Sebastian sudah melihat wajah Rindang.
Sebastian: Everything okay?
Rindang: Volunteer. Bayar? Money?
Sebastian: Oh! No, no. It's just your time. No money.
Rindang: No money?
Nadine: Nggak bayar, Bu. Cuma tenaga. Saya juga dulu ngira gitu.
Sebastian: No money. You just help. Waktu. Gratis.
Rindang: Oh. Gratis. Alhamdulillah.
Sebastian: I thought the same thing my first year. I almost brought my wallet.
Rindang tertawa, kali ini tepat waktu, lalu menulis namanya di baris paling bawah.
Pertemuan selesai jam sembilan kurang sepuluh. Kasturi sudah menelepon seseorang sambil berjalan ke pintu.
Nadine: Bu Rindang, lempernya enak banget. Terima pesanan, nggak? Arisan saya bulan depan.
Rindang: Terima, Bu! Berapa orang?
Nadine: Tiga puluh. Nanti saya chat, ya.
Kasturi lewat di belakang mereka, masih memegang ponsel.
Kasturi: Bu Rindang, tadi formulirnya sudah diisi?
Rindang: Sudah, Bu. Paling bawah.
Kasturi: Great, thanks. Nanti saya kabari di grup.
Rindang: Siap, Bu. Tiga puluh itu sama kayak satu loyang besar sama setengah. Gampang.
Sebastian menutup laptop dan mengambil lemper ketiga, lalu menatapnya dengan rasa bersalah.
Sebastian: So, you do catering? Like, for events?
Rindang: Yes. Office, pengajian… Acara.
Sebastian: Nice. Do you have a card or something?
Rindang: Kartu? Nggak ada, Pak. Sorry. Nomor HP aja.
Sebastian: That works. I'll get it from the group.
Rindang: Okay. Grup. Iya.
Sebastian: Last one, I promise. My son would love these.
Rindang: Your son?
Sebastian: Cas. He's in 5B too. Same class as your boy, right?
Rindang: Yes. Lintar.
Sebastian: Lintar! Cas talks about everyone. Every night, a new story.
Rindang: Lintar… no story. Di rumah diam.
Sebastian: Ah, the quiet type. Cas is the opposite. He tells me everything. Too much, sometimes.
Rindang: Enak, Pak. Saya mau tahu satu aja susah.
Sebastian: Sorry, I didn't catch that.
Rindang: It's okay. Nggak apa-apa.
Ponselnya berbunyi. Ia melihat layar, lalu tertawa keras sampai Nadine menoleh.
Sebastian: Oh, this kid. Look.
Ia memutar ponselnya. Pesan dari anaknya, dengan tiga emoji tertawa.
Sebastian: Cas says there's a kid in his class with a "smelly lunch". Kids, right?
Rindang membaca kata itu sekali. Ia tidak butuh Lintar, tidak butuh kacamata Emak. "Smelly" ia tahu dari iklan sabun. Dan ia tahu, tanpa ada yang bilang, kotak bekal mana yang dimaksud.
Kotak biru. Tiga sekat. Nasi uduk dan sambal sedikit.
Quick Meaning
- Let's go around the table. — Kita kenalan bergiliran satu meja.
- Who's in? — Siapa yang ikut?
- I can help with food. — Saya bisa bantu soal makanan.
- It's just your time. No money. — Cuma waktumu. Tidak pakai uang.
- Please help yourselves. — Silakan ambil sendiri.
Natural Phrase
- There you are! — sapaan hangat saat orang yang ditunggu akhirnya datang.
- Is this your first…? — pembuka obrolan ringan dengan orang tua baru.
- Kids, right? — "namanya juga anak-anak", komentar santai antar orang tua.
Pakai Besok
Saat pertama kali ikut pertemuan orang tua:
- Hi, I'm Lintar's mum. — ganti dengan nama anakmu.
- Sorry, could you say that again? — Maaf, bisa diulang?
- I can help with food. — Saya bisa bantu soal makanan.
- Is it free, or do we pay? — Ini gratis atau bayar?
- I brought some snacks. Please help yourselves. — Saya bawa camilan. Silakan ambil.
One Line to Remember
Hi, I'm Lintar's mum.
Comprehension Check
- Apa kalimat kulkas pagi itu?
- Kenapa kalimat Rindang "I can help with food" tidak terdengar?
- Rindang mengira "volunteer" artinya apa, dan bagaimana Sebastian menjelaskannya?
- Berapa lemper yang dimakan Sebastian?
Prediction Prompt
Menurutmu apa yang akan Rindang lakukan setelah tahu soal "smelly lunch"? Langsung bertanya ke Lintar, atau diam dulu?
Next Chapter Hook
Sebastian masih tertawa. Rindang ikut tersenyum karena tidak tahu harus berbuat apa, sementara di kepalanya hanya ada satu gambar: kotak biru Lintar yang pulang utuh.